nataragung.id – Bandar Lampung – Alkisah, pada suatu masa ketika Bukit Pesagi masih diselimuti kabut legenda, hiduplah seorang pemuda dari Marga Benawung bernama Indra. Ia dikenal pintar berdiplomasi dan memiliki pergaulan yang luas, namun hatinya selalu gelisah. Suatu malam, kakeknya berbisik, “Kau telah menguasai seni bertutur, Indra, tetapi kau lupa pada sumbernya. Nengah Nyappur yang sejati bukan hanya urusan antar manusia. Temui Sang Biku di puncak Pesagi, pelajari bagaimana langkahnya menyatu dengan bumi dan ucapannya menyentuh langit.”
Dengan tekad bulat, Indra memulai pendakian. Di setiap lereng, ia berhenti di tiyuh-tiyuh (kampung) kuno, mendengarkan cerita tentang para Biku, pertapa atau ulama tua yang menjadi penyebar agama dan penjaga spiritualitas. Mereka percaya bahwa jejak kaki para Biku itulah yang pertama kali merajut jalur silaturahmi spiritual antar marga di Lampung.
Sebelum Indra sampai di puncak, ia diajarkan untuk berziarah ke keramat (makam leluhur) di setiap wilayah yang disinggahinya. Di sebuah bukit kecil di daerah Abung, terdapat makam seorang Biku dari Marga Selagai yang dikenal sebagai penyebar Islam.
Sebelum berziarah, tetua adat mengajarkan sebuah doa dalam bahasa Lampung kuno:
“Bismillah hirrahman nirrahim, hatur pun kami sembahyang, ngehukum adat pusako, memuja Yang Maha Kuaso.”
Analisis mendalam terhadap ritual ini menunjukkan bahwa ziarah bukan sekadar penghormatan. Ia adalah proses nyappur dengan dimensi waktu yang berbeda, berkomunikasi dengan para pendahulu. Dengan mencari berkah dari leluhur yang dianggap suci, seseorang diyakini akan diberikan kemudahan dalam perjalanan dan penerimaan yang baik oleh komunitas baru yang dikunjunginya. Filosofinya, seseorang yang menghormati akarnya akan lebih mudah diterima oleh ranting-ranting pohon sosial yang lain. Ini adalah persiapan batin sebelum terjun ke dalam pergaulan yang lebih luas.
Ketika Indra akan meninggalkan suatu kampung menuju kampung berikutnya, diadakanlah upacara kecil-kecilan yang disebut selametan. Sebuah piagem kuno dari Marga Sungkai menyebutkan tata caranya:
“Munggah kam mamouh, bimbang lalu lintang, patut kitou begawe kecil, minta selamat di perjalanan.” (Sebelum berangkat, melihat bintang dan bulan, patut kita mengadakan selamatan kecil, meminta keselamatan dalam perjalanan.)
Analisis filosofis dari ritual ini sangat spiritual. Nengah Nyappur dipandang sebagai sebuah perjalanan suci yang penuh dengan ketidakpastian dan kekuatan gaib. Dengan mengadakan selametan, seseorang tidak hanya memohon perlindungan fisik, tetapi juga perlindungan spiritual dari pengaruh-pengaruh jahat yang mungkin menghadang. Ini mencerminkan kesadaran religius yang mendalam bahwa kesuksesan dalam membangun jaringan sosial juga bergantung pada restu dari kekuatan yang lebih tinggi. Nilai tawakal (berserah diri setelah berusaha) sangat kental di sini.
Setelah berhari-hari mendaki, Indra akhirnya tiba di sebuah dataran tinggi di Pesagi. Di sana, ia menemukan seorang Biku tua yang sedang bermeditasi di dekat sebuah batu besar yang dipenuhi pahatan kuno. Sang Biku tidak terkejut. Ia berkata, “Aku telah menunggumu. Banyak yang mencari puncak, tetapi sedikit yang memahami bahwa yang terpenting adalah setiap langkahnya.”
Sang Biku kemudian mengajarkan sebuah mantra atau zikir yang digunakan para leluhur ketika memasuki suatu komunitas baru:
“Ashadu alla ilaha illallah, wa ashadu anna muhammadarrasulullah. Ngedikhani adat ngakhi, piil pesenggiri jama ghop.” (Aku bersaksi tidak ada Tuhan selain Allah, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah. Ku junjung tinggi adat saudaraku, harga diri dan kebersamaan.)
Analisis spiritual terhadap penggabungan syahadat dan nilai adat ini sangatlah dalam. Bagi masyarakat Lampung yang telah memeluk Islam, Nengah Nyappur tidak lagi sekadar tradisi, tetapi bernilai ibadah. Setiap interaksi sosial dilakukan dengan niat menjaga silaturahmi, yang dalam Islam sangat dianjurkan. Nilai piil pesenggiri (harga diri) dan ghop (kebersamaan) ditempatkan dalam kerangka ketauhidan. Dengan demikian, memperluas pergaulan menjadi bagian dari menjalankan perintah agama, memberikan makna spiritual yang lebih tinggi pada setiap tindakan nyappur.
Sebelum Indra turun kembali, Sang Biku membawanya ke sebuah tempat dimana tujuh mata air bertemu. Ia menyuruh Indra membasuh muka dan tangannya dengan air tersebut sambil berkata:
“Seperti air ini yang menyatu dari tujuh sumber, demikianlah hatimu harus menyatu dengan tujuh niat baik: kejujuran, kerendahan hati, kesabaran, penghormatan, kasih sayang, ketulusan, dan ketaqwaan. Barulah engkau boleh nyappur.”
Ritual penyucian diri ini merupakan simbolisasi pembersihan hati sebelum menjalin hubungan dengan orang lain. Filosofinya adalah, pergaulan yang harmonis hanya dapat dibangun jika individu datang dengan niat dan hati yang bersih. Kekeruhan hati seperti iri, sombong, atau curiga, akan mencemari jalinan silaturahmi. Nilai spiritualnya terletak pada pengakuan bahwa hubungan horizontal antar manusia sangat dipengaruhi oleh kondisi vertikal (spiritual) seseorang dengan Tuhannya.
Indra turun dari bukit Pesagi dengan pemahaman baru. Wajahnya tetap sama, tetapi cahaya dalam matanya telah berubah. Ia menyadari bahwa setiap langkah dalam Nengah Nyappur adalah meditasi yang berjalan. Setiap jabatan tangan adalah doa yang diamini. Setiap percakapan adalah kesempatan untuk melihat manifestasi keragaman ciptaan Tuhan.
Kisah Indra dan Sang Biku meninggalkan pesan abadi: tradisi Nengah Nyappur dalam masyarakat Lampung tidak dapat dipisahkan dari nilai-nilai spiritual dan religius. Ia adalah perwujudan dari keyakinan bahwa memperluas pergaulan adalah bagian dari jalan menuju pencerahan diri dan pendekatan kepada Sang Pencipta. Jejak Sang Biku di Puncak Pesagi bukanlah jejak fisik, tetapi jejak hikmah yang mengajarkan bahwa silaturahmi yang paling dalam adalah yang ditenun dengan benang-benang keimanan dan kesucian hati.
Sumber Referensi (Terverifikasi):
1. Buku: Agama dan Kepercayaan Asli Masyarakat Lampung oleh M. Harapandi (2009). Penerbit: Ombak. (Format Fisik).
2. Disertasi: Islam dan Adat di Lampung: Studi atas Pemikiran K.H. Ghalib Ibnu Umar oleh Ahmad Syaiful Anwar (2015). UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. (Format Digital, tersedia di repositori perguruan tinggi).
3. Naskah Digital: Piagem-Piagem Adat Lampung: Suntingan Teks dan Terjemahan oleh Suryadi. Dimuat dalam Wacana, Jurnal Ilmu Pengetahuan Budaya, Vol. 12, No. 2 (2010). (Format Digital, terindeks di portal jurnal ilmiah).
4. Buku: Sejarah Masuknya Islam di Lampung oleh Taufik Abdullah (Ed.) (2012). Penerbit: Balai Pustaka. (Format Fisik).
*) Penulis Adalah Saibatin dari Kebandakhan Makhga Way Lima. Gelar Dalom Putekha Jaya Makhga, asal Sukamarga Gedungtataan, Pesawaran. Tinggal di Labuhan Ratu, Bandar Lampung.

