nataragung.id – Natar – Dalam hidup sosial, kita sering berada di antara percaya dan ragu. Kita mempercayai seseorang, menghargai kata-katanya, menaruh harapan pada janjinya, namun di sudut hati kecil kita, masih ada ruang kosong yang ingin diisi oleh bukti nyata.
Nabi Ibrahim ‘alaihissalām, seorang kekasih Allah, tidak ragu kepada Tuhannya. Ia sudah beriman sepenuh hati, namun tetap memohon, “Ya Rabb, perlihatkan kepadaku bagaimana Engkau menghidupkan yang mati…”
Ia tidak meminta karena tidak percaya, tetapi karena ingin menenangkan hatinya. Dan Allah, yang Maha Mengetahui rahasia hati manusia, tidak menegur keras, melainkan memberikan bukti yang nyata melalui empat burung yang dihidupkan kembali.
Dari kisah ini kita belajar, bahwa iman tidak selalu berarti tanpa bukti, dan permintaan kepastian tidak selalu tanda kelemahan. Kadang, hati butuh jaminan agar langkah menjadi mantap, dan keyakinan butuh penguat agar tak goyah oleh waktu.
Begitu pula dalam kehidupan sosial.
Percaya pada seseorang tidak berarti menutup mata dari kejelasan.
Bahkan kepada orang yang kita yakini tulus, kita tetap berhak atas transparansi, kejelasan, dan bukti nyata dari kata-katanya. Sebab kejujuran sejati bukan hanya diucapkan, tapi dibuktikan dengan perbuatan.
Dan sebaliknya, siapa pun yang dipercaya, harus menunjukkan bukti dari ucapannya, karena kepercayaan adalah amanah yang tumbuh dari kejelasan, bukan dari kata-kata indah.
Maka, jangan merasa hina saat engkau meminta bukti, dan jangan merasa mulia jika hanya pandai berbicara.
Belajarlah dari Ibrahim, yang tetap memohon peneguhan, dan dari Allah, yang tak sekadar menuntut percaya, tetapi menjawab dengan bukti yang membuat hati tenang. (87)
WaAllahu A’lam
_____
📚 H. Komiruddin Imron, Lc
✒️Shabahul_Khair
*) Penulis adalah Anggota Majelis Pertimbangan Dewan Dakwah Islam Indonesia Propinsi Lampung, tinggal di Pemanggilan, Natar.

