nataragung.id – Bandar Lampung – Di tengah rimbunnya hutan Sekala Bekhak, hiduplah seorang pemuda bernama Ratu Dipuncak. Konon, ia adalah keturunan langsung dari Paksi Buay Bejalan Diway, salah satu marga tertua di Lampung. Suatu hari, Ratu Dipuncak bermimpi melihat singgasana kayu berukir yang memancarkan cahaya keemasan. Mimpi itu diyakini sebagai pesan dari leluhur untuk membangun sebuah sistem kepemimpinan yang adil dan egaliter.
Dengan didampingi keempat putranya, Unyi, Unyai, Subing, dan Nuban, Ratu Dipuncak memulai perjalanan panjang menyatukan sembilan marga yang tersebar di dataran tinggi Lampung. Persatuan ini kelak dikenal sebagai Abung Siwo Mego, cikal bakal adat Pepadun. Singgasana kayu dalam mimpi itulah yang kemudian dinamakan Pepadun, simbol kesatuan dan kepemimpinan yang tidak hanya diturunkan berdasarkan darah, tetapi juga usaha dan pengorbanan.
1. Peppung Benyanak-Nyanak: Rapat Keluarga Besar
Prosesi Begawi Cakak Pepadun diawali dengan Peppung Benyanak-Nyanak, sebuah rapat keluarga besar yang melibatkan seluruh kerabat dari calon Penyimbang. Dalam rapat ini, dibahas kesiapan materiil dan spiritual, termasuk penentuan hari baik berdasarkan perhitungan adat. Seorang tetua adat pernah berpesan:
“Di dalam rapat keluarga, kita bukan hanya merencanakan pesta, tetapi juga mengikat tali persaudaraan yang sempat longgar.”
Rapat ini mencerminkan filosofi pi’il pesenggiri, yaitu menjaga harga diri dan kehormatan melalui kebersamaan. Setiap suara didengar, dari yang paling tua hingga yang paling muda, menegaskan bahwa kepemimpinan dalam adat Pepadun lahir dari konsensus, bukan paksaan.
2. Peppung Mergou: Rapat Paripurna Para Penyimbang
Setelah rapat keluarga, dilanjutkan dengan Peppung Mergou, rapat paripurna yang dihadiri oleh seluruh Penyimbang dari berbagai marga. Jika satu perwakilan marga absen, rapat dinyatakan tidak sah. Hal ini menegaskan prinsip kebersamaan mutlak dalam pengambilan keputusan adat.
Dalam naskah kuno Kutara Rajantti, disebutkan:
“Penyimbang yang bijak adalah yang mendahulukan musyawarah daripada kehendak pribadi.”
Rapat ini tidak hanya membahas teknis pelaksanaan Begawi, tetapi juga meninjau kelayakan calon Penyimbang dari segi moral dan kemampuan memimpin.
3. Cangget: Tarian Pemersatu Semua Lapisan Masyarakat
Cangget adalah pagelaran tari tradisional yang melibatkan bujang dan gadis dari semua lapisan masyarakat. Prosesi ini dibagi menjadi beberapa tahap:
* Njak Sanak: Tarian dari masyarakat biasa.
* Njak Mergou: Tarian gadis keturunan Penyimbang dengan pakaian putih dan payung putih.
* Njak Tiyuh: Tarian dengan pakaian kuning, simbol kematangan.
* Njak Suku: Tarian dengan selendang merah, lambang keberanian.
Setiap gerakan tari dalam Cangget mengandung makna filosofis. Gerakan tangan yang meliuk-liuk menggambarkan aliran sungai Way Seputih, simbol kehidupan yang terus mengalir. Sementara, payung yang dibawa gadis-gadis melambangkan perlindungan dan kasih sayang.
4. Nigel/Nigel Nari: Tarian Laki-Laki yang Penuh Energi
Berbeda dengan Cangget, Nigel hanya dilakukan oleh laki-laki dengan gerakan menyerupai silat. Prosesi ini terdiri dari:
* Njak Sanak: Tarian bujang dan bapak-bapak.
* Njak Pegawou: Tarian yang melambangkan kesiapan menghadapi tantangan.
* Njak Sesabayan: Tarian yang diakhiri dengan sungkeman sebagai bentuk penghormatan kepada orang tua dan mertua.
Nigel mencerminkan nilai keberanian dan tanggung jawab yang harus dimiliki oleh calon Penyimbang. Gerakan yang tegas dan dinamis mengingatkan pada pesan leluhur:
“Pemimpin harus teguh seperti batu, tetapi lentur seperti bambu.”
5. Pemotongan Kerbau: Simbol Pengorbanan dan Rasa Syukur
Pemotongan kerbau adalah ritual inti yang melambangkan pengorbanan dan rasa syukur. Jumlah kerbau yang disembelih menentukan tingkat gelar yang ingin dicapai:
* 2 ekor kerbau untuk gelar Suttan (gelar tertinggi).
* 1 ekor kerbau untuk gelar Pengiran.
Dalam keyakinan masyarakat Lampung, kerbau adalah simbol kesejahteraan. Semakin banyak kerbau yang dipotong, semakin tinggi harga diri keluarga tersebut. Namun, di balik itu, ada makna spiritual yang dalam:
“Daging kerbau yang dibagikan kepada masyarakat adalah wujud syukur atas rezeki yang diterima.”
6. Sesemburan: Akhir Masa Lajang
Calon mempelai saling menyiram air dalam prosesi Sesemburan. Ritual ini melambangkan berakhirnya masa lajang dan awal kehidupan baru sebagai pasangan yang siap memimpin. Air yang digunakan adalah air yang dicampur dengan kembang tujuh rupa, simbol penyucian diri.
7. Pinang di Paccah Aji: Penyatuan Dua Insan
Kedua mempelai duduk di kursi Paccah Aji yang dihiasi kain putih. Mereka disuapi nasi campur gula kelapa dan telur rebus oleh ibu tua. Prosesi ini disebut Moso’, yang berarti “memberi makan”. Maknanya adalah penyatuan dua keluarga dan janji untuk saling mengasihi dalam suka dan duka.
Puncak Acara: Cakak Pepadun
1. Naik Singgasana, Turunkan Gelar
Puncak dari seluruh rangkaian Begawi adalah Cakak Pepadun. Calon Penyimbang didudukkan di atas singgasana Pepadun di hadapan seluruh masyarakat dan para Penyimbang adat. Prosesi ini diawali dengan iring-iringan menuju Sesat Agung, dengan calon Penyimbang menaiki Ratou (kereta kencana) diiringi tabuhan gendang dan gong.
Saat duduk di atas Pepadun, calon Penyimbang diresmikan gelarnya oleh Penyimbang tertinggi. Gelar seperti Suttan, Raja, atau Pangeran tidak hanya sekadar nama, tetapi juga beban moral untuk memimpin dengan adil dan bijaksana.
2. Makna Filosofis Singgasana Pepadun
Pepadun bukan sekadar kursi kayu, melainkan simbol persatuan dan kepemimpinan. Setiap ukiran pada Pepadun memiliki arti:
* Ukiran bunga: Keindahan dalam kebersamaan.
* Ukiran hewan: Kekuatan dan kearifan.
* Warna emas: Keluhuran martabat.
Dalam kitab Kutara Rajantti disebutkan:
“Pemimpin yang duduk di atas Pepadun harus ingat, bahwa singgasana ini dibangun dari persatuan marga, bukan dari keturunan semata.”
Begawi Cakak Pepadun bukan hanya sekadar upacara adat, tetapi juga sebuah perjalanan spiritual yang mengajarkan nilai-nilai kebersamaan, pengorbanan, dan kepemimpinan. Meskipun biaya dan waktu yang dibutuhkan tidak sedikit, makna di balik setiap prosesi membuat tradisi ini tetap lestari.
Seperti kata pepatah Lampung:
“Adat bersendi syarak, syarak bersendi kitabullah.” Artinya, adat berdasar pada syariat, dan syariat berdasar pada ketuhanan.
Dengan melestarikan Begawi Cakak Pepadun, masyarakat Lampung tidak hanya menghormati leluhur, tetapi juga menjaga identitas budaya yang menjadi fondasi kehidupan bermasyarakat.
Sumber Referensi:
1. Kutara Rajantti (Naskah Kuno Adat Lampung).
2. Hasil wawancara dengan tokoh adat Lampung, Tadjuddin Nur (2018).
3. Depdikbud Lampung. (1999). Upacara Adat Begawi Cakak Pepadun.
4. Ghassani, M. (2019). Begawi Cakak Pepadun sebagai Proses Memperoleh Adek pada Buay Nunyai.
5. Catrin, S. (2021). Nilai-Nilai Filosofis Tradisi Begawi Cakak Pepadun Lampung.
*) Penulis Adalah Saibatin dari Kebandakhan Makhga Way Lima. Gelar Dalom Putekha Jaya Makhga, asal Sukamarga Gedungtataan, Pesawaran. Tinggal di Labuhan Ratu, Bandar Lampung.

