Buku Seri : Cangget, Tarian Penyatu Marga Seri 3: Filosofi Gerak, Bahasa Tari yang Melebihi Kata-Kata. Oleh : Mohammad Medani Bahagianda *)

0

nataragung.id – Bandar Lampung – Malam itu, bulan purnama menggantung sempurna di atas lapangan luas di tengah Tiyuh Batu Lapis. Obor-obor menyala mengelilingi arena, melemparkan bayangan para penari Cangget yang bergerak gemulai. Di sebuah balai adat, duduk seorang anak muda bernama Gerin, yang matanya takjub memandang seorang tetua bernama Pak Wijaya, seorang ahli adat yang sangat dihormati.
“Pak, saya perhatikan gerakan tari ini tidak seperti tarian lainnya. Tidak ada gerakan yang spektakuler atau lompatan tinggi. Semuanya terlihat tenang, terkendali, dan… sangat tertib,” gumam Gerin penasaran.

Pak Wijaya tersenyum, matanya yang bijak tetap tertuju pada para penari. “Benar, Nak. Itulah keindahannya. Cangget bukan tarian untuk memamerkan keperkasaan individu. Ia adalah sebuah kitab yang berjalan. Setiap gerakan adalah sebuah kalimat; setiap formasi adalah sebuah bab.”
Dia menunjuk ke arah sekelompok penari perempuan. “Lihat gerakan tangan mereka, Nak. Itu disebut lamban. Jari-jari yang bergerak lentik dan teratur bagaikan orang yang sedang menenun kain Tapis. Itu adalah simbol ketelitian dan kesabaran. Sebuah marga tidak dibangun dalam sehari, tetapi ditenun perlahan-lahan, helai oleh helai, seperti sehelai Tapis nan agung.”

Kemudian, dia menunjuk gerakan penari laki-laki. “Dan lihat itu, gerakan tappal yang mantap. Telapak kaki yang dihentakkan ke bumi bukanlah amarah, melainkan sebuah deklarasi. Deklarasi bahwa kami, laki-laki dari marga ini, adalah pelindung dan penyangga masyarakat. Hentakan itu adalah janji kami untuk mempertahankan tanah dan harga diri marga.”

Gerin terdiam, mulai memahami bahwa yang disaksikannya bukan sekadar pertunjukan, melainkan sebuah pelajaran hidup yang paling mendalam. “Jadi, mereka sedang bercerita?”
“Lebih dari itu,” jawab Pak Wijaya. “Mereka sedang menjadi cerita itu sendiri. Melalui tarian, mereka mengingatkan diri sendiri dan marga lain tentang siapa mereka, dari mana mereka berasal, dan nilai-nilai apa yang harus mereka pegang teguh. Ini adalah bahasa yang lebih tua dan lebih dalam daripada kata-kata.”

Filosofi Gerak: Mendekatkan Diri pada Sang Pencipta dan Sesama
Tari Cangget sering kali disalahartikan sebagai sekadar tarian penyambutan atau pengisi acara adat. Pandangan ini mengerdilkan makna sesungguhnya. Dalam kosmologi masyarakat Lampung, Cangget adalah sebuah medium spiritual dan sosial yang kompleks, sebuah bahasa isyarat yang menyampaikan nilai-nilai luhur yang menjadi panduan hidup. Setiap unsur dalam tarian ini, dari gerakan tangan hingga hiasan kepala, adalah simbol yang penuh makna.

Baca Juga :  Sejarah Penyimbang dalam Tradisi Sai Batin dan Pepadun : SERI 1: Asal Usul dan Filosofi Gelar Penyimbang Oleh : Mohammad Medani Bahagianda *)

Analisis Gerakan: Dari Abstraksi Menuju Penghormatan
Gerakan dalam Cangget tidak lahir dari improvisasi, tetapi dari pakem yang telah diturunkan selama berabad-abad, masing-masing mengandung filosofi tertentu:
1. Gerakan Lampan (Berkeliling): Penari bergerak melingkar, sering kali mengelilingi sebuah titik pusat. Filosofi gerakan ini menggambarkan siklus kehidupan manusia dan alam. Kelahiran, kehidupan, dan kembali kepada Sang Pencipta. Dalam konteks sosial, gerakan melingkar ini melambangkan persatuan dan kesetaraan. Tidak ada yang paling depan atau paling belakang; semua penari adalah bagian dari lingkaran yang sama, mencerminkan semangat sakai sambayan (gotong royong) di mana setiap anggota marga memiliki kontribusi yang sama pentingnya.
2. Gerakan Tappal (Menghentak): Gerakan menghentakkan telapak kaki ke tanah oleh penari laki-laki adalah salah satu gerakan paling ikonik. Ini bukan gerakan agresif, melainkan sebuah pernyataan keberadaan dan komitmen. Hentakan itu adalah simbol dari keteguhan hati, kekuatan, dan kesiapan untuk membela tanah adat. Ia mengingatkan bahwa manusia harus selalu memiliki pijakan yang kuat pada tanah (adat istiadat) dan tidak mudah terombang-ambing.
3. Gerakan Nyembah (Menghormat): Penari melakukan gerakan sembah, biasanya mengarah kepada Penyimbang atau tetua adat yang hadir. Gerakan ini adalah manifestasi langsung dari nilai nemui nyimah (keramahan) dan penghormatan yang dalam kepada orang yang dituakan. Ini adalah pengakuan terhadap hierarki dan tata krama yang baik, sebuah pengingat bahwa dalam masyarakat yang egaliter sekalipun, penghormatan kepada pemimpin dan orang berilmu adalah hal yang mutlak.
4. Gerakan Lamban (Melentikkan Jari): Gerakan tangan penari perempuan yang gemulai dan penuh dengan lentikan jari yang rumit mungkin adalah yang paling simbolis. Gerakan ini sering diasosiasikan dengan kegiatan menenun kain Tapis. Setiap lentikan jari melambangkan ketelitian, kesabaran, dan kehalusan budi pekerti. Seperti menyusun benang menjadi kain yang indah, membangun sebuah marga yang kuat juga membutuhkan ketelitian dan kesabaran yang luar biasa.

Makna Busana dan Aksesori: Identitas yang Terpateri pada Kain.
Pakaian yang dikenakan dalam Tari Cangget bukanlah kostum, melainkan seragam kebesaran yang penuh makna.
* Kain Tapis: Ini adalah elemen terpenting. Tapis bukan sekadar kain; ia adalah penanda status, kekayaan, dan identitas marga. Motif-motifnya, seperti pucuk rebung (tunas bambu) melambangkan kesatuan dan pertumbuhan, sementara motif juak-jawak (cecak) melambangkan kekeluargaan.
Sebuah petuah adat Lampung mengatakan: “Tapis sai bepola, piil sai bejuluk.” (Tapis yang bermotif, pekerti yang bergelar.)

Baca Juga :  Buku Seri Adat Bersendi Syara', Syara' Bersendi Kitabullah. Seri 5: Hukum Adat dan Syariat, Dua Jalan, Satu Tujuan Oleh : Mohammad Medani Bahagianda *)

Analisis Kutipan: Kutipan ini dengan indah menyamakan kerumitan motif pada Tapis dengan kompleksitas dan keagungan piil pesenggiri (harga diri) seseorang. Tapis yang dikenakan menunjukkan bahwa si penari adalah seseorang yang memiliki identitas yang jelas (‘bergelar’) dan menjunjung tinggi adat (‘bermotif’). Kain Tapis yang tertutup rapat dari pinggang hingga mata kaki juga melambangkan kesopanan dan ketertiban.
* Siger (Mahkota): Siger yang berlekuk sembilan melambangkan sembilan sungai besar yang mengalir di Lampung, dan juga merupakan simbol dari alam kosmos. Memakai siger berarti mengingatkan penari pada tanah kelahirannya dan alam semesta yang lebih besar.
* Gelang, Kalung, dan Bulu Seretei: Aksesori dari logam dan bulu burung bukan hanya untuk keindahan. Bunyi gemerincing gelang menyatu dengan musik, menambah dimensi audio pada tarian. Bulu Seretei yang tegak menjulang di atas siger melambangkan semangat yang tinggi, kebanggaan, dan keagungan.

Peran Penyimbang: Penjaga Kemurnian Makna
Di tengah keramaian Cangget, para Penyimbang dan tetua adat duduk tenang di tempat yang terhormat. Peran mereka jauh lebih dalam daripada sekadar penonton. Mereka adalah kurator hidup dari makna filosofis tarian ini. Mata mereka yang tajam mengawasi setiap gerakan, memastikan tidak ada yang menyimpang dari pakem.
Mereka adalah sumber otoritas yang memastikan bahwa bahasa Cangget tidak terdistorsi oleh zaman. Sebelum acara, merekalah yang memberikan wejangan (pesmon) kepada para penari muda, menerangkan makna di balik setiap gerakan yang akan mereka lakukan. Melalui peran ini, nilai-nilai universal masyarakat Lampung, Piil Pesenggiri, Nemui Nyimah, Nengah Nyappur, dan Sakai Sambayan, terus dipupuk dan diteruskan dari generasi ke generasi.
Cangget sebagai Cermin Nilai Universal
Tarian Cangget adalah perwujudan visual dari seluruh filosofi hidup masyarakat Lampung:
* Piil Pesenggiri (Harga Diri): Terpancar dari busana yang sempurna, gerakan yang penuh percaya diri, dan ketepatan dalam melaksanakan setiap rangkaian. Seorang penari Cangget menari dengan penuh kesadaran bahwa ia mewakili kehormatan marga dan sukunya.
* Nemui Nyimah (Keramahan): Terwujud dalam gerakan nyembah dan ekspresi wajah yang ramah dan terbuka. Seluruh ritual Cangget pada dasarnya adalah sebuah perayaan untuk menyambut dan menghormati ‘tamu’ dari marga lainnya.
* Nengah Nyappur (Sosialisasi): Tarian yang dilakukan secara berkelompok dan melingkar adalah metafora sempurna dari interaksi sosial. Setiap penari harus aware dengan posisi orang lain, menciptakan harmoni kolektif.
* Sakai Sambayan (Gotong Royong): Kekompakan mutlak diperlukan agar formasi tarian tetap rapi dan indah. Tidak ada ruang untuk ego individu. Kesuksesan tarian adalah kesuksesan bersama, mencerminkan semangat gotong royong dalam membangun masyarakat.
Kesimpulan: Tarian yang Menjadi Doa dan Pengingat
Tari Cangget, karena itu, jauh melampaui definisi kesenian Barat yang sering memisahkan antara seni dan kehidupan. Dalam konteks Lampung, Cangget adalah kehidupan itu sendiri yang diekspresikan melalui gerak tubuh yang penuh makna.
Ia adalah doa yang dipanjatkan melalui lenggang tubuh, sebuah pengingat akan jati diri yang dirajut dalam setiap helai kain Tapis, dan sebuah deklarasi persatuan yang diukir melalui hentakan kaki yang kompak. Ketika para penari melingkar dan bergerak harmonis, mereka tidak hanya menciptakan pertunjukan yang indah untuk dinikmati, tetapi mereka sedang secara aktif menciptakan dan memperkuat realitas sosial mereka, sebuah masyarakat yang terikat oleh adat, dijiwai oleh nilai-nilai luhur, dan disatukan oleh sebuah bahasa yang lebih dalam daripada kata-kata: bahasa tari Cangget.
Dalam keheningan di balik gemuruh gendang, dalam ruang di antara setiap gerakan yang tertata, terkandunglah seluruh kearifan sebuah peradaban yang memahami bahwa untuk bertahan hidup, manusia harus bergerak bersama, dalam irama yang sama, menuju harmoni.

Baca Juga :  Buku Seri Petuah Tua, Nilai Hidup dari Saibatin dan Pepadun. Buku Seri 10. “Doa dari Para Tuha: Pesan Baik untuk Masa Depan” Oleh : Mohammad Medani Bahagianda *)

Sumber Referensi Terverifikasi:
1. Badruzzaman, M. Hi. (2008). Tapis Lampung: Kain Bersulam Benang Emas. Diterbitkan atas kerjasama Pemerintah Provinsi Lampung dengan Indonesia Marketing Association.
2. Hilman, Hadikusuma. (1989). Masyarakat dan Adat Budaya Lampung. Mandar Maju: Bandung. (Bab mengenai busana dan simbol-simbol adat).
3. Suryadi, A. (2004). Kuntara Raja Niti: Naskah Kuno Lampung sebagai Sumber Pengetahuan Hukum dan Kemasyarakatan. Lenggang Musi: Bandar Lampung. (Sebagai sumber petuah dan kutipan adat).
4. Andrizal, dkk. (2017). “Makna Simbolik Tari Cangget Pada Masyarakat Lampung Pepadun”. Jurnal Ilmiah Seni Tari, 6(1), 1-10.
5. Rosidi, A. (2020). “Nilai-Nilai Pendidikan Karakter dalam Gerak Tari Cangget Lampung”. Jurnal Pendidikan dan Konseling, 2(2), 1-15.

*) Penulis Adalah Saibatin dari Kebandakhan Makhga Way Lima. Gelar Dalom Putekha Jaya Makhga, asal Sukamarga Gedungtataan, Pesawaran. Tinggal di Labuhan Ratu, Bandar Lampung.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini