nataragung.id – Natar – Akan tiba masanya, ketika langkah mulai lambat, pandangan mulai redup, dan mentari hidup condong menuju ufuk senja. Saat itu, manusia mulai menoleh ke belakang, menatap jejak yang pernah ditinggalkan di jalan panjang bernama kehidupan.
Ia akan sadar dengan hati yang luluh dan mata yang basah, bahwa dunia yang dulu dikejar dengan penuh ambisi hanyalah fatamorgana yang tak layak diperjuangkan dengan air mata dan dendam.
Segala harta yang dikumpulkan, jabatan yang dijaga, dan pujian yang pernah diburu semuanya lenyap seperti bayang sore yang perlahan ditelan malam.
Yang tersisa hanyalah hati,
Apakah ia tenang, atau masih penuh sesal? Apakah ia damai, atau masih diguncang dosa yang belum ditebus?
Saat itu, ia akan memahami bahwa kebahagiaan sejati bukanlah memiliki banyak hal, melainkan memiliki hati yang lapang, jiwa yang tenang, dan kenangan yang tidak menyakiti siapa pun.
Ia berharap bisa kembali ke masa lalu. Agar dapat berjalan di dunia ini dengan lembut, tidak menoreh luka pada siapa pun, tidak memadamkan senyum, tidak mematahkan harapan, dan tidak menodai kehidupan orang lain dengan keangkuhan diri.
Namun waktu tak pernah berputar. Yang tersisa hanyalah kesempatan hari ini, untuk memperbaiki, memaafkan, dan menebar kebaikan sebelum segalanya terlambat.
Dan sungguh, di penghujung usia nanti, seindah-indahnya penutup kehidupan adalah ketika seseorang duduk tenang di sisa harinya, tersenyum pada setiap kebaikan yang pernah ia tabur, dan berkata dalam hati yang damai: “Aku telah hidup dengan cukup, bukan untuk dunia, tapi untuk meninggalkan kebaikan di dalamnya.” (95).
WaAllahu A’lam
_____
📚 H. Komiruddin Imron, Lc
✒️Shabahul_Khair
*) Penulis adalah Anggota Majelis Pertimbangan Dewan Dakwah Islam Indonesia Propinsi Lampung, tinggal di Pemanggilan, Natar.

