MUTIARA PAGI : Cahaya Yang Terlambat Disesali. Oleh : Ustadz H. Komiruddin Imron, Lc *)

0

nataragung.id – Natar – Ada saat ketika nafas masih hangat di dada, langkah masih menapak bumi, dan tangan masih mampu menggenggam kebaikan yang berserakan di sepanjang jalan hidup. Pada masa itulah Allah memanggil hamba-Nya:

“Berinfaklah… sebelum maut mengetuk pintu yang tak pernah salah alamat.”

Namun manusia sering menunda, mengira esok akan selalu datang, mengira kesempatan takkan lekang.

Sampai akhirnya, ketika tirai dunia terlipat rapi dan malam kubur merangkul tubuh yang tak berdaya, barulah terdengar sebuah bisikan penuh penyesalan: “Ya Rabb… hanya sedikit saja, tunda aku barang sebentar, agar aku bisa bersedekah, agar aku bisa termasuk orang-orang shalih…”

Baca Juga :  MUTIARA PAGI : Ketika Kebaikan Menjadi Lautan yang Menenggelamkan Luka. Oleh : Ustadz H. Komiruddin Imron, Lc *)

Namun waktu telah menutup pintunya. Detik tak kembali. Kesempatan tak menoleh lagi.

Di keheningan barzakh, para penghuni kubur menyebut-nyebut sedekah.

Mereka mengenangnya sebagai cahaya yang pernah mereka abaikan, sebagai lentera yang dahulu bisa mereka nyalakan namun kini hanya tinggal harapan yang tak berwujud.

Sedekah, yang ringan bagi hidup, namun berat nilainya di sisi langit, ternyata adalah sinar yang mengusir gelap, penghibur kesendirian, dan pemberat timbangan di hari pembalasan.

Baca Juga :  MUTIARA PAGI : Antara Shalih yang Sempit dan Zhalim yang Luas. Oleh : Ustadz H. Komiruddin Imron, Lc *)

Maka wahai diri, selagi usia masih bersandar pada rahmat-Nya. Bergeraklah. Buka genggamanmu. Lepaskan kebaikanmu.

{ وَأَنفِقُواْ مِن مَّا رَزَقۡنَٰكُم مِّن قَبۡلِ أَن يَأۡتِيَ أَحَدَكُمُ ٱلۡمَوۡتُ فَيَقُولَ رَبِّ لَوۡلَآ أَخَّرۡتَنِيٓ إِلَىٰٓ أَجَلٖ قَرِيبٖ فَأَصَّدَّقَ وَأَكُن مِّنَ ٱلصَّٰلِحِينَ }

Dan infakkanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum kematian datang kepada salah seorang di antara kamu; lalu dia berkata (menyesali), “Ya Tuhanku, sekiranya Engkau berkenan menunda (kematian)ku sedikit waktu lagi, maka aku dapat bersedekah dan aku akan termasuk orang-orang yang saleh.” [Surat Al-Munafiqun: 10]

Baca Juga :  MUTIARA PAGI : Sabar dan Keberuntungan

Sebab akan tiba hari ketika hanya satu kata yang tinggal di bibir: “Andai…”

Dan hari itu adalah hari ketika “andai” tak lagi mengubah apa pun. _°• (111).
Wallahu A’lamu

_____
📚 H. Komiruddin Imron, Lc
✒️Shabahul_Khair

*) Penulis adalah Anggota Majelis Pertimbangan Dewan Dakwah Islam Indonesia Propinsi Lampung, tinggal di Pemanggilan, Natar.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini