Giliran Gus Yahya dan Para Pendukungnya Mengaji ‘Bab Pembelaan’

0

nataragung.id – Jakarta – Luar biasa respon netizen terhadap tulisan saya sebelumnya, menggelinding ke mana-mana. Ada yang memuji. Ada juga mencaci. “Lo orang NU atau bukan?” Ada yang tepuk tangan, senang PBNU ribut. Namanya netizen, “Kak atie dielah pek-pek,” kata budak Pontianak.

Ketua PWNU Kalbar, Prof Dr Syarif ternyata ikut bereaksi. Ia mengirimkan hasil resume pertemuan KH Yahya Cholil Staquf serta para pendukungnya secara japri. Hasil resumenya tentu valid, dong. Saya coba elaborasi hasil resume itu dengan gaya khas saya, Koptagul. Simak narasinya, wak!

Dalam fikih, ada satu bab yang sering bikin santri pening, bab ikhtilaf, bab perbedaan pendapat. Ustaz biasanya bilang, “Ikhtilaf itu rahmat.” Tapi dalam kasus PBNU, ikhtilaf yang satu ini lebih mirip “rahmat yang turun sambil melempar meja”. Setelah Syuriyah mengetuk keputusan ala qadhi, meminta KH Yahya Cholil Staquf mundur dalam tempo tiga hari, maka Jumat, 21 November 2025, jam 14.00, Gus Yahya menggelar Zoom Meeting PBNU. Ibarat menggelar halaqah darurat, mencari dalil-dalil penyelamat sebelum masuk hari ketiga masa iddah jabatan.

Gus Yahya membuka majelis digital itu dengan gaya khutbah taubat edisi organisasi. Katanya sudah banyak hal dilakukan selama empat tahun. Digdaya, RMI, Lakpesdam, MBG, semuanya terdengar seperti daftar amal jariyah yang ingin ditimbang dulu sebelum malaikat Syuriyah mencatat bab berikutnya. Kemudian beliau menyebut akan ada rekonsolidasi, mitigasi preseden destruktif, menjaga keutuhan organisasi… Pokoknya seperti sedang membaca bab dar’ul mafasid muqaddamun ‘ala jalbil mashalih, “mencegah kerusakan harus didahulukan dari mencari tambahan kebaikan.” Bahasa sederhananya, “Jangan sampai PBNU pecah cuma gara-gara satu narasumber, wak.”

Baca Juga :  Jalankan Amanat Sanad, KH RM Soleh Bajuri Pimpin Pengecoran Gedung Kholwat Thariqah

Lalu masuklah suara-suara dari berbagai PWNU, yang kalau dijadikan kitab fikih bisa berjudul “Ibanatul Ikhtilaf fi Masailil Konflik PBNU”, lengkap dengan catatan kaki emosional.

PWNU Sumatra Utara tampil dengan tegas. Mereka bicara soal SK PCNU yang dianggap hajat hidup orang banyak, karena tanpa SK, cabang-cabang seperti jemaah yang mau shalat tapi tidak tahu arah kiblat. Mereka tidak mau tahu konflik pusat, mirip santri yang tidak peduli perdebatan ahli usul, pokoknya mau shalat dengan imam yang pasti saja. Mereka meminta Ketua Umum segera kumpulkan semua PWNU. Bahasa fikihnya, ijma’ darurat.

PWNU Sulawesi Utara mengajukan pertanyaan yang lebih mirip ujian lisan di kelas qawaid, “Kalau mau memberhentikan Gus Yahya, sudahkah ditanya kepada pemilihnya?” Logika mereka jelas, kepemimpinan de facto, sah secara baiat Muktamar, dan menguasai struktur. Ini seperti santri berkata, “Tidak sah menurunkan imam tanpa memastikan apakah wudhunya benar-benar batal atau hanya was-was.”

PWNU Bali tampil dengan kejujuran yang bisa membuat halaman kitab jadi kusut, konflik PBNU sangat parah, sangat buruk, dan pasti turunannya sampai ke bawah. Kalau ini bab fikih, judulnya, “Ketika Ikhtilaf di Atas Menetes Menjadi Fitnah di Bawah.”

Baca Juga :  Wabup Syaiful Buka Latihan Kader Dasar Fatayat NU, Dorong Kader Perempuan Responsif Isu Sosial dan Melek Digital

PWNU Bangka Belitung masuk dengan isu sensitif. Rais Aam tanda tangan tanpa sepengetahuan tanfidziyah. Ini langsung terasa seperti bab fikih perwalian nikah, siapa yang berhak, siapa yang sah, siapa yang melangkah tanpa wali. Mereka meminta konsolidasi, bukan deklarasi.

PWNU Jawa Barat membuat suasana makin dramatik. Mengundang Mustasyar untuk menyelesaikan konflik, lalu diakhiri dengan menangis. Ini bukan lagi bab fikih, ini bab husnuzan bercampur haru, bab ketika hati ulama lebih jujur dari pasal-pasal organisasi.

PWNU DIY pun bicara dengan gaya akhlaq tasawuf, hubungan eksternal harus dibangun, konflik kiai jangan diselesaikan dengan gaya politik. Ini seperti membaca catatan guru sufi, “Jika dua kiai berselisih, maka musyawarahlah sebelum malaikat mencatat yang tidak-tidak.”

Di tengah semua itu, Gus Yahya merespons dengan cukup tenang. Beliau menerima usulan pertemuan PWNU se-Indonesia, yang akan dilaksanakan Sabtu malam di Surabaya. Undangan akan menyusul, hadir sebelum maghrib, seakan-akan ini bukan rapat, tapi majelis zikir akbar yang menentukan masa depan jamaah.

Namun bab paling satir muncul dari suara Kyai Said Asrori, Katib Aam. Beliau mengatakan, rapat Syuriyah yang seharusnya membahas kelembagaan PBNU malah berubah menjadi pembahasan Ketua Umum PBNU, dan keputusan yang diambil seperti partai politik. Ini kalimat yang kalau dimasukkan ke kitab fikih pasti ditempatkan di bab paling pinggir, ditulis dengan tinta merah, dan diberi catatan, “Inilah sebab mengapa musyawarah harus disertai niat yang lurus.”

Baca Juga :  Perda Pesantren Jadi Bahasan Krusial dalam Audiensi RMI PCNU Lamsel Bersama Bupati

Pada akhirnya, Zoom Meeting itu bukan sekadar ruang diskusi, tetapi seperti halaqah besar bab ikhtilaf, dimana tiap PWNU membawa qiyas, dalil, syubhat, dan emosi masing-masing. Gus Yahya, dengan segala tekanan waktu tiga hari itu, berdiri di tengah-tengahnya bagaikan imam shalat yang diminta tetap tenang meski makmumnya sudah mulai kasak-kusuk mempertanyakan keabsahan wudhunya.

Semua pihak bicara dengan niat menjaga marwah PBNU. Tetapi di balik semua itu, bau-bau fikih tetap kuat, ada yang membaca bab hifzhul jamaah, ada yang mengutip bab ta’zir, ada yang memegang bab ijma’, ada pula yang menangis, bab yang tidak tertulis dalam kitab mana pun, tapi paling sering membuat keputusan berubah.

Kini, sambil menyeruput Koptagul, pembaca hanya bisa bergumam, “Wak… ini bukan lagi konflik organisasi. Ini sudah jadi kitab fikih kontemporer yang disusun oleh kiai-kiai yang hatinya lebih lembut daripada pasal-pasal yang mereka perdebatkan.”

Tapi, pertemuan ntar malam pasti ditunggu nahdliyin. Apakah Gus Yahya manut pada putusan kiyai atau melawan. Kalau memilih mundur, siap-siap ada Musdalub. Kalau menilih melawan kiyai, bakal jadi sinetron baru bisa mengalahkan drama ijazah. Ups.

Foto Ai hanya ilustrasi

Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini