Didukung 50 Kiyai, Gus Yahya Kekeh Tak Mau Mundur. Oleh : Rosadi Jamani *)

0

nataragung.id – Jakarta – Kita lanjutkan prahara di tubuh PBNU. Setelah didukung PWNU, giliran 50 kiyai ikut support. Dengan backup itu, Gus Yahya kekeh tak mau mundur. Ultimatum Syuriyah tersisa sehari lagi. Makin seru dengan mendebarkan. Simak narasinya sambil seruput Koptagul, wak!

Drama PBNU ini seperti perdebatan kitab kuning yang diiringi kopi hitam, dimulai dari Kamis, 20 November 2025, ketika Majelis Syuriyah PBNU menggelar rapat harian di Hotel Aston Jakarta Pusat dan keluar dengan Risalah Resmi yang ditandatangani Rais Aam KH Miftachul Akhyar. Isinya tegas, Gus Yahya diminta mundur dalam waktu 3 hari setelah menerima surat tersebut. Layaknya peringatan talak dalam fikih, bukan langsung cerai, tapi ancaman sakral berbatas waktu.

Namun Gus Yahya menanggapinya dengan tenang, “Saya belum menerima suratnya.”
Selesai. Toh bagaimana mungkin seseorang harus mengundurkan diri dari surat yang belum diterimanya? Secara fikih komunikasi pun tidak sah, balagh ghayru tsabit.

Malam sebelumnya, 22 November 2025, Gus Yahya berkumpul dengan para Ketua PWNU se-Indonesia di Surabaya. Di sana ia menyampaikan poin-poin yang kemudian jadi fondasi narasi, ia tidak berniat mundur. Ia merasa memegang mandat sah dari Muktamar ke-34 di Lampung. Ia akan menyelesaikan masa khidmat hingga 2026. Ia menegaskan, “Saya sama sekali tidak terbesit pikiran untuk mundur.”

Baca Juga :  PAC Fatayat NU Sidomulyo Tebar Keberkahan Melalui Aksi Bagi-Bagi Takjil Gratis

Lalu masuklah babak besar malam 23 November 2025, pukul 19.30 WIB, di lantai 8 Gedung PBNU, Jl Kramat Raya 164. Undangannya ditandatangani sendiri oleh Gus Yahya. Ada sekitar 50 kiai sepuh dan tokoh PBNU hadir, termasuk Katib Aam KH Ahmad Said Asrori. Tapi justru tiga nama mencolok tidak hadir, yakni KH Ahmad Mustofa Bisri (Gus Mus), Rais Aam KH Miftachul Akhyar, dan Sekjen PBNU Saifullah Yusuf (Gus Ipul).

Mereka bahkan tidak masuk dalam daftar undangan. Ini seperti menggelar forum keluarga, tapi ayah, ibu, dan paman tertua tidak diundang, lalu semua adik dan sepupu bersidang atas nama rumah.

Dalam forum itu, hasilnya jelas seperti cahaya lampu neon di kantor kecamatan, tidak ada pemakzulan. Kepengurusan tetap berjalan sampai 2026. Semua peserta rapat menyatakan 100 persen sepakat tidak memecat Gus Yahya.

Baca Juga :  Peringati Harlah ke-76, Fatayat NU Kecamatan Palas, Lamsel Gelar Rutinan Pembacaan Al-Barzanji dan Tahlil Khidmat

Ini ibarat ijma’ ijtima’i, konsensus kolektif, sementara ultimatum Syuriyah sebelumnya seperti fatwa parsial yang belum tentu diikuti umat.

Pasca 23 November, Syuriyah mendadak diam. Tidak ada pernyataan baru, tidak ada pembaruan sikap. Seolah menyadari kaidah, idza syara’a at-tabayyun, balthu t-taraddud, jika sudah waktunya klarifikasi, jangan tergesa menghakimi.

Lalu muncul suara dari Australia, Gus Nadir menulis di Facebook pada 23 November 2025 bahwa PBNU sedang mengalami “mati mesin organisasi”, ibarat kendaraan yang olinya habis dan rodanya berhenti. Ia menyinggung ketidakharmonisan Gus Yahya dengan Sekjen dan Bendahara Umum, serta renggangnya hubungan dengan Rais Aam. Kritiknya bukan sekadar teknis, tapi moral dan spiritual.

Lalu kini, panggung pindah ke Lirboyo, Kediri. Akan digelar silaturahmi nasional para kiai, forum lanjutan untuk dialog dan rekonsiliasi yang lebih luas. Di Lirboyo, yang bicara bukan lagi ego struktural, tapi napas tradisi, adab ilmu, dan suara sanad.

Pada akhirnya, drama ini mengajarkan satu hal, di tubuh PBNU, konflik bukan sekadar pertarungan kekuasaan, tetapi juga pertemuan maqamat manusia, antara yang ingin menjaga wibawa Syuriyah, yang mempertahankan mandat tanfidziah, dan yang ingin kembali ke maslahah jam’iyyah.

Baca Juga :  Rais Syuriyah PCNU se Lampung Solid Suarakan Islah PBNU

Hari ini, situasinya konkret, Gus Yahya masih duduk di kursinya. Didukung 50 kiai di forum Kramat Raya. Muktamar 2026 tetap tujuan akhir. Syuriyah masih menahan komentar. Gus Mus tetap jadi simbol sunyi. Gus Nadir tetap jadi suara kritis dari Melbourne. Lalu, Lirboyo sudah menunggu sebagai arena penyeimbang.

Kalau ini kitab fikih, judul babnya adalah, “Ikhtilaf yang masih dalam batas rahmat, asalkan tak berubah menjadi tafarruq yang memecah.”

Pembaca sekarang sedang menikmati, antara serius dan ngakak, melihat bagaimana organisasi ulama terbesar di negeri ini sedang belajar menjadi manusia. Berdebat, berselisih, berproses, dan pada akhirnya, berdamai.

Foto Ai hanya ilustrasi

*) Penulis Adalah : Ketua Satupena Kalbar

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini