Hari Tanah Sedunia : Mewujudkan Tanah Sehat dan Membangun Kedaulatan Ekologis. Oleh: Edi Sriyanto *)

0

nataragung.id – Lampung Selatan – Hari Tanah Sedunia (World Soil Day), yang diperingati setiap 5 Desember, adalah momentum global untuk mengingatkan bahwa di bawah kaki kita terhampar fondasi kehidupan: tanah sehat. Sejalan dengan tema tahun ini, “Healthy Soil for Healthy Cities” (Tanah Sehat untuk Kota Sehat), kita diingatkan bahwa kesehatan masyarakat perkotaan sangat bergantung pada lapisan tipis bumi di pedesaan.

Namun, di Tanah Air, seruan global ini menemukan realitas yang rumit di tingkat tapak. Membicarakan ‘tanah sehat’ sering terbentur pada dilema struktural yang kronis: ketergantungan petani pada pupuk kimia anorganik. Secara kultural, praktik pertanian modern telah menggeser kearifan lokal. Petani kini terkondisikan melihat pupuk pabrik sebagai solusi instan. Ketergantungan psikologis dan teknis ini membuat tanah menjadi korban dari praktik jangka pendek. Ironisnya, skema subsidi pupuk justru secara tidak langsung mengunci petani pada penggunaan kimia. Dampaknya, penggunaan jangka panjang telah menurunkan kandungan bahan organik, yang vital.

Baca Juga :  Asa Yang Hilang Ditengah Gegap Gempita, Terkait Pelantikan JPTP. Catatan Lepas SyahidanMh *)

Degradasi tanah ini bukan hanya masalah petani, melainkan masalah kota: ia menghasilkan pangan yang sarat residu kimia, mengurangi kualitas hidup masyarakat urban, dan meningkatkan risiko bencana alam seperti banjir.

Di tengah belenggu struktural dan kerusakan ekologis ini, muncul sebuah gerakan keumatan yang memberikan harapan baru. Gerakan ini diinisiasi oleh seorang kiai sepuh yang memegang peran strategis: Rais Syuriyah PWNU Jawa Tengah, K.H. Ubaidillah Shodaqoh (Yai Ubed). Beliau hadir sebagai sosok yang tidak hanya berbicara, tetapi memberikan jawaban holistik terhadap dilema tanah.

Yai Ubed secara konsisten mengajak petani untuk “kembali ke alam” dan melihat pertanian organik sebagai bagian dari “ibadah” menjaga amanah ekologis bumi, sebuah revitalisasi kultural yang kuat. Seperti yang beliau katakan:

_”Fondasi bangsa Indonesia adalah ketahanan pangan. Tentu pangan yang sehat, halal, dan memiliki keberkahan. Oleh karena itu untuk menjadi kuat, kebutuhan pokok harus terpenuhi.”_
_(Pernyataan K.H. Ubaidillah Shodaqoh, Rais Syuriyah PWNU Jawa Tengah, di media, 2023)_

Baca Juga :  Evakuasi Penduduk Gaza ke Indonesia Blunder. Oleh : HM.Habib purnomo *)

Gerakan yang diusung Yai Ubed dan PWNU Jateng ini tidak berhenti pada ajakan kultural, namun juga menawarkan solusi struktural-ekonomi nyata. Beliau menunjukkan bahwa dengan bertani organik, biaya budi daya padi dapat menghemat hingga 70 persen karena petani menjadi mandiri dalam penyediaan pupuk hayati _(Laporan PWNU Jawa Tengah, 2023)_. Praktik ini secara langsung menjamin pasokan pangan yang bebas residu kimia, fondasi utama bagi terwujudnya ‘Kota Sehat’ yang diimpikan dalam tema Hari Tanah Sedunia.

Lebih jauh lagi, melalui PWNU Jateng, advokasi pasar juga dijalankan untuk membukakan jalur distribusi khusus beras organik, memotong oligopoli dan memberikan nilai tambah ekonomi langsung kepada petani yang hijrah ke pertanian sehat.

Baca Juga :  Masjid dan Fungsi Sosial. Oleh : H.M.Habib Purnomo *)

Oleh karena itu, Hari Tanah Sedunia 5 Desember harus dimaknai sebagai seruan agar kita tidak hanya melihat tanah sebagai komoditas, tetapi sebagai entitas hidup yang harus dirawat. Gerakan yang diinisiasi oleh para kiai, seperti K.H. Ubaidillah Shodaqoh, adalah blueprint nyata pembebasan petani dari jerat kimia. Model ini menunjukkan kepada seluruh pemangku kepentingan bahwa solusi ekologis, ekonomi, dan kesehatan publik adalah mungkin.

Mencapai ketahanan pangan sejati harus dimulai dengan membebaskan tanah dari jerat kimia dan mengembalikan kedaulatan ekologis kepada petani, dengan bimbingan kultural dan dukungan struktural yang kuat. Sekarang saatnya seluruh daerah mereplikasi sukses ini demi mewujudkan Kota Sehat melalui Tanah Sehat nasional.
#HariTanahSedunia
#TanahSehat
#KedaulatanEkologis
#HealthySoil #KotaSehat

*) Penulis Adalah : Aktivis NU Lampung Selatan tinggal di Sidomulyo.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini