Sultan Agung dan Musim Haji. Oleh : M.Habib Purnomo *)

0

nataragung.id – BANDAR LAMPUNG – Sekarang sedang dan akan memulai masa keberangkatan haji, ketika ingat perjalanan haji, saya juga ingat tentang sejarah Sultan Agung Mataram yang memerintah kesultanan Mataram dari tahun 1613 M – 1645 M.

Pada musim haji, Sultan Agung mengirim jama’ah haji dengan memperunakan kapal milik Inggris yang bernama ‘reformation’.

Pada masa Sultan Agung ini jama’ah hajinya terbatas dan hanya orang-orang pilihan kerajaan yang bisa berangkat.

Naas, sampai di kepulauan seribu kapal yang mengangkut jama’ah haji ini di cegat oleh Belanda dan semua penumpangnya di turunkan dan di tahan oleh VOC di Batavia.

Baca Juga :  Proposal Lebaran, Catatan Lepas Pensiunan PNS. Oleh : Gunawan Handoko

Mendengar kabar ini Sultan Agung murka dan duta besar VOC di hukum di buang ke kolam buaya.

Untuk membalas perlakuan Belanda atas di penjaranya jama’ah haji Mataram maka Sultan Agung mengirim pasukan untuk menyerbu Batavia hingga dua kali, start penyerangannya dari Pelabuhan Tegal (Pelabuhan Tegal Jawa Tengah tempat keluar-masuk Kesultanan Mataram).

Walau menurut Belanda serangan Mataram itu gagal tapi fakta sejarah Gubernur Jendral VOC yang paling legendaris JP Coen tewas sewaktu perang dengan Mataram ini.

Baca Juga :  Otonomi Daerah dan Kesejahteraan Rakyat. Oleh : M.Habib Purnomo *)

Jika sekarang di Jakarta ada jalan “Pegangsaan (gong alat komando perang) ada “Warteg” (warung Tegal) ada daerah “Matraman” (Mataraman) mengingatkan kita mungkin saja istilah-istilah itu ada kaitannya dengan sejarah ketika Mataram menyerbu Batavia yang menurut De Graaf (sejarawan Belanda) sebabnya karena jama’ah haji Mataram di cegat dan di penjara oleh Belanda di Batavia.

Sayang, Sultan Agung Mataram yang gagah perkasa dan berdaulat itu ketika telah wafat di ganti Amangkurat Putra Mahkota yang sudah di bina oleh Belanda dan Amangkurat menyerahkan kedaulatan (kekuasaan) Mataram kepada Belanda. Sejak saat itu Mataram mulai di kuasai (di jajah) Belanda.

Baca Juga :  Kolaborasi di Balik Proklamasi. Oleh : Herry Tjahyono *)

Trunojoyo (Taruna Jaya) dari Jawa Timur yang tidak terima dengan penyerahan kedaulatan Mataram ke Belanda oleh Raja Amangkurat ini kemudian menyerbu ibu kota Mataram dan Amangkurat kabur dari istananya dan akan berlindung ke Batavia, namun baru sampai pelabuhan Tegal sakit dan meninggal dunia lalu di makamkan di Tegal.

*). Penulis adalah Aktifis NU Lampung, tingal di Bandar Lampung.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini