Katakan Cinta Dengan Buku. Oleh : Gunawan Handoko Ketua KMBI (Komunitas Minat Baca Indonesia) Provinsi Lampung

0

nataragung.id – BANDAR LAMPUNG – Masih ingat peristiwa ledakan bom di Kantor Berita Radio (KBR) Utan Kayu Matraman Jakarta Timur pada tanggal 15 Maret 2011? Oleh pelakunya bom tersebut di kemas dalam bentuk ‘paket buku’ dan mencederai beberapa orang anggota Polisi. Sebelum peristiwa tersebut terjadi, saya beberapa kali menurunkan tulisan yang berisi ajakan untuk merubah tradisi berkirim hadiah diganti dengan buku bacaan, bacaan apa saja. Seperti bingkisan parsel yang berisi kue dan minuman, bahkan terkadang terselip amplop berisi uang didalamnya. Dengan diganti buku, para penerima parsel tidak perlu lagi takut dengan ancaman Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dengan tuduhan menerima gratifikasi. Sebaliknya, diharapkan pihak KPK akan memberi dukungan tanpa reserve jika bingkisan parsel tersebut berisi buku-buku. Bukan hanya sebatas parsel, termasuk ungkapan kebahagiaan yang diberikan kepada para wisudawan perguruan tinggi yang biasanya dalam bentuk karangan atau untaian bunga, tapi diganti dengan buku. Betapa besar manfaat yang bisa dipetik para wisudawan tadi. Atau paling tidak telah menyadarkan atas kemalasannya berkunjung ke perpustakaan selama menjadi mahasiswa. Hanya mereka yang terlatih membaca buku sejak kecil yang rajin hadir di perpustakaan kampus dan perpustakaan umum maupun toko-toko buku. Ternyata gagasan tersebut sudah ada yang ‘mendahului’ dengan mengirim paket berupa buku yang dilengkapi dengan bom. Tapi saya yakin bahwa musibah ‘bom buku’ tersebut tidak ada kaitannya dengan tulisan itu.

Penulis bukan hendak membahas tentang bom buku, siapa pelakunya dan motif di balik peristiwa tersebut. Terlebih peristiwa itu telah terjadi 14 tahun lalu dan sudah banyak dilupakan masyarakat. Penulis hanya ingin mengatakan bahwa kampanye untuk menumbuhkan minat baca masih butuh perjuangan yang panjang. Termasuk belajar yang didominasi dengan membaca buku memang masih jauh dari harapan.

Baca Juga :  Saatnya Siswa Membaca dan Menulis. Oleh : Gunawan Handoko *)

Jika kita mau jujur, kesalahan bukan terletak pada si anak, melainkan para orang tua. Salah satu ‘penyakit’ yang menghinggapi para orang tua selama ini adalah ungkapan kasih sayang terhadap anak yang kurang pada tempatnya. Jarang orang tua yang mengenalkan buku sejak dini kepada putera-puterinya. Dalam memanjakan anak lebih memilih memberikan berbagai macam mainan yang bisa membuat anak menjadi asyik dan senang, seperti permainan online seperti video, mobile dan lainnya. Untuk yang satu ini, tidak jarang para orang tua yang ikut-ikutan hanyut bermain bersama anaknya. Atau membiarkan anak berjam-jam lamanya nongkrong di depan laptop maupun komputer dengan permainan online yang interaktif dan memiliki elemen kompetisi yang terkadang tidak memiliki pesan pendidikan sama sekali.

Memang, tidak semua permainan memiliki efek negatif pada minat membaca bagi anak. Ada jenis permainan yang dirancang untuk meningkatkan kemampuan membaca dan memahami teks maupun gambar, seperti permainan edukasi dan permainan interaktif. Selain membuat anak lebih tertarik untuk memahami teks maupun gambar, juga sangat efektif untuk menumbuhkan kemampuan membaca dan kemampuan lainnya. Menjadi tugas para orang tua untuk membangun sebuah kesadaran kepada anak tentang hal yang terbaik untuk dirinya. Harus diakui bahwa buku pada awalnya sangat tidak menarik dibanding dengan berbagai macam mainan. Itulah sebabnya, anak-anak yang gandrung dengan mainan seperti game bisa dipastikan minat baca-tulisnya rendah. Karena membaca dan menulis sangat membutuhkan konsentrasi tinggi dan konsentrasi tersebut akan mudah buyar akibat godaan benda ajaib yang satu ini. Maka jika sejak awal kita kalah dalam mengungkapkan kasih sayang pada anak, jangan harap minat baca-tulis anak-anak akan tumbuh dengan baik. Yang terjadi pada anak-anak kemudian adalah membaca bukanlah sebuah kebutuhan, melainkan sesuatu yang membebani, membosankan dan bukan pilihan yang menarik. Kita harus berani merubah kebiasaan yang boleh jadi kita sendiri kurang menyenangi, yakni mencoba memanjakan anak dengan buku-buku bacaan, membiasakan mengajak anak-anak mengunjungi perpustakaan atau toko-toko buku, dan menyelipkan minimal sebuah buku sebagai hadiah ulang tahun atau kenaikan kelas. Termasuk merubah kebiasaan mengirim bingkisan parsel yang semula berisikan kue dan minuman di ganti dengan kemasan buku-buku. Awalnya memang akan terlihat aneh, sama halnya dengan merubah kebiasaan memberi bingkisan kado lalu diganti dengan uang tunai dalam amplop di acara resepsi.

Baca Juga :  Suara Anak, Suara Perubahan. (Refleksi Hari Anak Sedunia 2025). Oleh : Gunawan Handoko *)

Di tengah kesibukan pekerjaan dan aktifitas lainnya, kita tidak boleh lupa bahwa kunci keberhasilan pendidikan anak bukanlah di bangku sekolah, melainkan di tengah keluarga. Anak-anak perlu contoh dan contoh itu adalah kita, para orang tua. Bila kita sepakat bahwa menumbuhkan minat membaca merupakan kata kunci keberhasilan belajar anak kita, maka tidak ada pilihan lain bagi para orang tua untuk menumbuhkan minat membaca di dalam keluarga. Yang pertama dan utama adalah minatnya dulu, baru kemudian beranjak pada rangsangan tentang manfaat dari buku. Seorang ibu yang bijak sesekali akan mengajak putri kecilnya membantu masak di dapur. Sambil meracik bumbu-bumbu, sang putri kecil diminta untuk membacakan resep cara membuat capcay kangkung, misalnya. Tanpa disadari, putri kecil menjadi paham bahwa buku yang baru saja dibacanya ternyata sangat bermanfaat dalam melakukan sesuatu. Dan banyak hal baru yang bisa dilakukan oleh para orang tua seperti membaca buku dongeng kepada anak-anak menjelang tidur atau usai sholat subuh. Para orang tua tidak bisa terlalu berharap agar anak-anak dapat menikmati buku bacaan di perpustakaan sekolah, mengingat minimnya buku bacaan. Di sekolah para siswa hanya mengenal buku-buku pelajaran wajib yang judul dan pengarangnya sudah ditetapkan oleh Pemerintah. Akibatnya para guru tidak memiliki kemampuan untuk melakukan koreksi dan perbandingan antara ilmu yang didapat dari buku pelajaran dengan ilmu yang diperoleh melalui buku bacaan.

Baca Juga :  Menggugat Janji Politik Egi – Syaiful tentang Rencana Kabupaten Bandar Negara. Oleh Gunawan Handoko *)

Dalam berbagai kegiatan seminar atau sarasehan yang diikuti guru-guru SD, saya bertanya apakah di sekolah bapak ibu sudah ada perpustakaan, semua menjawab “sudah”. Pertanyaan berikutnya, apakah perpustakaan sekolah yang ada telah tersedia buku yang cukup serta dikelola dengan baik, sebagian besar peserta seminar hanya tertawa. Lalu mereka semua mengeluhkan tentang sulitnya mendapatkan buku bacaan karena harga yang mahal, sementara pihak pemerintah kurang perhatian terhadap yang namanya perpustakaan. Saya sengaja tidak melanjutkan bertanya, takut ada pihak yang menuding saya sedang melakukan provokasi. Bahkan saya sengaja mengalihkan pembicaraan ketika beberapa guru mulai ‘curhat’ berkisar gersangnya lembaga sekolah dari benda yang bernama buku. Boleh jadi keluhan yang disampaikan oleh para guru tersebut merupakan cermin dari kondisi sebagian besar perpustakaan sekolah yang ada saat ini.

Inilah potret buram yang masih bergelayut pada dunia pendidikan. Tidak perlu mencari kambing hitam tentang siapa yang salah, karena masalah pendidikan, menjadi tanggungjawab kita semua. Para orang tua dapat memainkan peran yang sangat penting dalam menumbuhkan minat baca bagi anak-anak dan membantu mereka untuk mengembangkan kemampuan membaca yang baik. Katakan cinta dengan buku, dengan menyediakan buku-buku yang menarik di dalam keluarga dan sebagai hadiah bagi siapa saja. Salam Literasi !!! (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini