Kursi Jamuan yang Dibiarkan Kosong. Oleh : Pepih Nugraha *)

0

nataragung.id – Jakarta – Ada adagium klasik jurnalistik yang masih asyik dan relevan di zaman yang makin berisik. “Jika anjing menggigit orang, itu bukan berita,” katanya. “Tapi jika orang menggigit anjing, itu baru berita”.

Belakangan ini adagium jurnalistik itu terasa mengena saat Presiden Ke-5 RI Megawati Soekarnoputri tidak hadir di perjamuan yang diinisiasi Presiden Prabowo Subianto, sedangkan dua mantan Presiden lainnya, yakni Presiden Ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono dan Presiden Ke-7 Joko Widodo, dapat memenuhi undangan tersebut. Tiga jagoan ini guyub di meja makan tanpa bidadari.

“Kalau Megawati tidak hadir dalam perjamuan, itu bukan berita,” demikian kira-kira kalau adagium itu diterapkan. “Baru menjadi berita besar kalau dia hadir.”

Hubungan “cinta segitiga” antara Megawati-SBY-Jokowi memang tergolong unik. Megawati masih gondok terhadap SBY, mantan menterinya yang mempercundanginya di dua kali Pilpres. Megawati juga dendam kepada Jokowi, mantan petugas partainya yang dianggap “kurang ajar” dan akhirnya diusir. Sementara hubungan SBY-Jokowi ada kalanya seperti Tom and Jerry.

Maka terasa ada sesuatu yang puitis sekaligus ironis ketika mendengar kabar Presiden Prabowo menggelar karpet merah bagi para Presiden pendahulunya. Di bulan suci Ramadan ini, sebuah niat mulia diletakkan di atas meja, yakni silaturahmi. Sebuah kata yang sering kali menjadi bungkus paling manis bagi transaksi politik yang pahit.

Baca Juga :  OPINI : BUKAN GERTAK ANYING. Oleh : Budi Setiawan

Tetapi sebelum pertemuan terjadi, netizen yang usil di medsos sudah main tebak-tebakan, “Ayo, Megawati hadir atau enggak?” Jawabannya pun sudah dapat diduga; lucu-lucu, dan tidak usah ditulis satu-persatu di sini.

Prabowo, dengan jiwa ksatria yang sedang menyala-nyala, ingin menjadi jembatan. Bukan sekadar jembatan antarmantan, tapi konon, ia sedang “pemanasan” untuk menjadi mediator konflik global antara Teheran, Washington, dan Tel Aviv.

Namun, di antara deretan kursi-kursi jati itu, satu kursi tetap saja dingin. Kosong. Sebagai penanda sejarah. Megawati memilih Bali. Alasannya sangat administratif, yakni agenda yang sudah tersusun lama dan rapi di Pulau Dewata.

Kita harus angkat topi pada manajemen waktu Ibu Bangsa kita yang satu ini. Di saat dunia gemetar membayangkan rudal jelajah terbang di langit Timur Tengah, dan Prabowo sedang berlatih menarik napas panjang ala diplomat ulung PBB, Megawati tetap teguh pada “itinerary” yang sudah diketik di atas kertas. Seolah-olah, agenda di Bali itu adalah “malam pertama” yang wajib dilakukan jika tidak ingin sakralitas sebuah perkawinan runtuh.

Baca Juga :  Arab Saudi Diantara Konflik Iran Versus Amerika - Israel. Oleh : M. Habib Purnomo // Aktivis PWNU Lampung

Tentu saja, kita semua paham. Di dunia politik tingkat tinggi, “agenda yang sudah disusun sebelumnya” adalah bahasa sopan untuk mengatakan: “Aku tidak selevel dengan kalian, apalagi dengan menu yang kalian sajikan.”

Sungguh sebuah kontras yang jenaka. Prabowo sedang bersiap menjinakkan amarah Ayatollah dan keras kepalanya Netanyahu. Ia ingin membuktikan bahwa dari Jakarta, perdamaian dunia bisa dipahat.

Namun, apa daya? Menaklukkan ego di dalam negeri ternyata jauh lebih rumit daripada menegosiasikan gencatan senjata Amerika-Israel vs Iran. Mengajak Megawati makan kolak bersama tampaknya lebih sulit ketimbang mengajak Iran dan Amerika duduk semeja.

Mungkin Prabowo lupa, bahwa dalam diplomasi “Nasi Goreng” atau “Opor Lebaran,” kuncinya bukan pada siapa yang mengundang, tapi pada siapa yang memegang kendali atas narasi.

Megawati mungkin tidak sedang pergi ke Bali. Ia sedang mengingatkan kita semua bahwa ada luka yang tidak bisa sembuh hanya dengan kurma, dan ada garis demarkasi yang lebih tajam daripada perbatasan negara manapun.

Maka, biarlah Prabowo terus berlatih menjadi mediator dunia. Itu bagus. Bangsa ini butuh panggung internasional. Itung-itung pemanasan buat mendamaikan Iran. Namun, ada satu hal yang luput dari perhatian kita semua di tengah ketidakhadiran Megawati ini: berkah.

Baca Juga :  Belajar Dengan Tablet Raksasa, Peluang dan Tantangan. Oleh Gunawan Handoko *)

Kesimpulannya bukan tentang siapa yang benci siapa. Bukan pula tentang dendam yang tak kunjung padam. Justru, ketidakhadiran Megawati adalah sebuah berkah tersembunyi bagi Prabowo. Lho kok bisa?

Bayangkan jika ia hadir. Prabowo mungkin akan terlalu sibuk mengatur posisi duduk agar tidak ada yang tersinggung di antara para mantan itu, hingga ia lupa bagaimana cara menghadapi gertakan nuklir Iran yang suaranya bak petasan di malam takbiran itu.

Dengan Megawati tetap di Bali, Prabowo justru mendapatkan simulasi meditasi yang sesungguhnya, yakni belajar menghadapi kekosongan.

Karena pada akhirnya, pemimpin hebat bukan mereka yang bisa mengumpulkan semua orang di satu meja, tapi mereka yang tetap tenang saat menyadari bahwa di meja kekuasaan, sebenarnya kita selalu makan sendirian.

Untuk alasan inilah Presiden Prabowo mengundang para mantan sembari belajar menjadi penengah yang baik dan asyik. (*)

*) ✍️ Owner and Founder Pepnews

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini