Nasib Gibran. ✍️ Pepih Nugraha //Owner and Founder Pepnews

0

nataragung.id – Jakarta – Sejarah guru yang pelit berbagi panggung, termasuk dalam urusan duet di Istana. Ia lebih suka gaya kencan kilat daripada pernikahan perak. Belum ada dalam kitab primbon politik kita, seorang Presiden dan Wakil Presiden betah duduk berdampingan selama dua periode penuh.

SBY melakukannya dengan Jusuf Kalla lalu Boediono; Jokowi pun setali tiga uang, ganti dari JK ke Ma’ruf Amin. Sebelumnya Soeharto tak pernah memilih Wapres yang sama untuk kedua kalinya.

Maka, ketika desas-desus koalisi mulai berbisik untuk “memangkas” dahan Wapres di periode kedua nanti, logika politik kita sebenarnya sedang berjalan di jalur yang sangat konvensional. Kecuali tentu saja bagi PSI, yang mungkin merasa bahwa memisahkan Prabowo dari Gibran adalah tindakan kriminal terhadap estetika politik masa kini.

Namun, pertanyaan besarnya bukan lagi soal tradisi, melainkan soal nyali: Beranikah Prabowo mengambil risiko untuk “menjomblo” dari Gibran di periode berikutnya?

Baca Juga :  Sumber Daya Manusia Anak Negeri Oleh : M.Habib Purnomo

Jika Prabowo memutuskan untuk tidak lagi menggandeng Gibran, ia bukan sekadar mengganti ban serep, melainkan sedang mencoba mengemudikan panser tanpa pengawal dari “Dinasti Solo”.

Jelas ini perjudian tingkat tinggi. Gibran bukan sekadar wapres. Ia adalah simbol, anomali, sekaligus sandera politik yang paling berharga.

Lantas, bagaimana nasib sang putra mahkota jika benar-benar “ditinggal” di tengah jalan?

Bisa jadi jawaban pertama adalah kematian karier yang prematur?

Ada yang meramal kariernya akan layu sebelum berkembang, mirip lagunya Emilia Contessa, seperti bunga yang dicabut dari pot kekuasaan ayahnya. Tanpa atribut jabatan, Gibran dikhawatirkan hanya akan menjadi kenangan digital tentang akun-akun anonim dan gaya bicara yang irit.

Tapi tunggu dulu, meremehkan seorang pemuda yang berhasil melompati pagar konstitusi adalah kesalahan amatir.

Baca Juga :  Menjadi Warga Kota Harus Kaya. Catatan lepas : Gunawan Handoko *)

Bagi para pengkritik yang sudah mual melihat manuver-manuver “CEO Lugu” ini, perpisahan dengan Prabowo mungkin dianggap sebagai akhir cerita. Namun, dalam politik Indonesia, tokoh yang “dibuang” justru seringkali mendapatkan simpati publik yang tak terduga.

Gibran bisa saja memainkan peran sebagai “anak muda yang dikhianati sistem,” sebuah narasi yang sangat laku di pasar pemilih kita yang gemar melodrama.

Jangan kaget jika di tahun-tahun mendatang, Gibran justru muncul sebagai Capres mandiri. Jika ia bisa bertahan di luar bayang-bayang Prabowo (dan ayahnya), ia bukan lagi sekadar pendamping, melainkan pemain utama.

Menjadi Presiden? Kenapa tidak? Manakala logika seringkali harus mengalah pada “bisikan” kekuasaan, segalanya mungkin. Bukankah konstitusi mengatur jika Presiden berhalangan tetap (meninggal dunia) penggantinya otomatis wapresnya?

Tentu kita berharap skenarionya tidak seperti itu. Tapi bagi Gibran, kondisi ban serep siap digunakan kapan saja jika ban utama sudah tidak bisa terpakai lagi adalah suatu keniscayaan.

Baca Juga :  Kurban dan Swasembada Daging. Oleh : M.Habib Purnomo *)

Prabowo mungkin sedang menghitung langkah catur, tapi Gibran sedang bermain ular tangga. Kadang turun karena dipatuk lawan, tapi selalu ada tangga darurat yang siap membuatnya meluncur ke atas.

Jika duet ini pecah kongsi, kita akan melihat apakah Gibran adalah seorang politisi sejati yang mampu berdiri di atas kakinya sendiri, ataukah ia selama ini hanyalah produk “algoritma keluarga” yang akan kehilangan sinyal begitu router-nya dimatikan.

Kita tunggu saja, apakah sejarah akan tetap kaku, atau Gibran yang akan memaksa sejarah menulis ulang aturannya sendiri.

Kalau kata orang Texas, “don’t mess with him!” <••>

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini