nataragung.id – Bandar Lampung – Pada zaman dahulu, di tepian Way Sekampung, hiduplah seorang pemuda bernama Ratu Dipuncak. Ia adalah Mekhanai yang gagah dan mahir bersilat, namun hatinya angkuh.
Suatu hari, dalam perjalanan ke pepadun (musyawarah adat) di Kebandaran, ia melihat sekelompok Muli kesulitan menyeberangi sungai karena jembatan bambu rusak. Tanpa berpikir panjang, dengan kesombongannya, ia melompati sungai itu dengan kekuatan gayungnya, meninggalkan para Muli yang tercengang.
Malamnya, dalam mimpi, ia didatangi oleh Sang Bumi Ruwa Jurai, penjaga keseimbangan alam dan manusia. Sang Bumi berfirman: “Sai pun Ratu, gayungnu kuat, tapi jembatan hati rapuh. Mekhanai yang sejati, gayungnya untuk membangun jembatan, bukan untuk meninggikan diri. Lihatlah Pusaka Tumi, ia berat karena emas dan kewajiban, bukan karena kesombongan.”
Terbangun dari mimpinya, Ratu Dipuncak tersentak. Keesokan harinya, ia kembali ke sungai itu, meminta maaf kepada para Muli, dan dengan sabar membangun kembali jembatan bambu yang kuat dan indah. Sejak itu, langkahnya disebut Langkah Mekhanai yang pertama: membangun sebelum menyeberang, memuliakan sebelum dimuliakan.
Analisis Filosofis:
Legenda ini bukan sekadar cerita moral. Ia menggambarkan filosofi dasar pergaulan Lampung: “Nemui Nyimah” (sikap terbuka dan menerima tamu dengan baik) dan “Nengah Nyappur” (kemampuan beradaptasi dan bergaul).
Tindakan Ratu Dipuncak yang awal melambangkan individu yang hanya mengandalkan kekuatan (gayung) tetapi mengabaikan kebersamaan (jembatan). Mimpi dari Sang Bumi, sebagai representasi leluhur dan alam, menekankan konsep piil pesenggiri (harga diri) yang benar. Harga diri sejati bukan dari keangkuhan, tetapi dari tanggung jawab sosial dan kemampuan memperbaiki kesalahan. Pusaka Tumi (gelar adat) yang disebut dalam mimpi adalah metafora bahwa martabat itu berat tanggung jawabnya, bukan berat untuk disombongkan.
Silsilah dan Tanggung Jawab: Nama Baik di Atas Darah.
Dalam masyarakat adat Lampung, garis keturunan dan silsilah (tarikh) dijaga dengan saksama, bukan hanya untuk klaim status, tetapi sebagai peta tanggung jawab. Sebuah manuskrip kuno pada kulit kayu (dalung) dari marga Penyanggak di Sekala Brak mencatat: “Begitti Jelema dia, sai muakhi nga layap-layap, mak nuwouh mak bimbang, mak nitih mak nengah. Asal nengah ia behasai, asal nitih ia bejuluk.”
Analisis Mendalam terhadap Kutipan: Terjemahan: “Maka manusia itu, jangan seperti layang-layang, tak berakar dan tak terarah, tak menyandang gelar dan tak beradab. Karena beradab ia dihormati, karena bergelar ia bernama.”
Kutipan ini sangat analitis. Ia membandingkan manusia tanpa pengetahuan adat dan silsilah dengan layang-layang yang terputus talinya: melayang tanpa arah dan akhirnya jatuh. “Nitih” (menyandang gelar) dan “Nengah” (beradab/bergaul) adalah dua sayap yang membuat seorang Mekhanai-Muli dapat “terbang” dengan terhormat dalam kehidupan sosial.
Tanpa itu, seseorang kehilangan identitas dan arah. Ini adalah fondasi dari piil pesenggiri: harga diri yang bersumber dari kesadaran akan posisi dalam silsilah dan kewajiban untuk menjaganya. Setiap langkah seorang anak adat adalah cermin dari seluruh keluarganya, bahkan marganya. Menjaga nama baik bukan sekadar untuk diri sendiri, tetapi adalah sumbangan kepada kehormatan kolektif leluhur.
Ritual Pergaulan: Dari Cangget ke Segelaran
Pergaulan Mekhanai-Muli diatur dalam bingkai adat yang indah dan penuh makna. Dua ritual utama adalah Cangget (tari adat) dan Segelaran (prosesi adat dalam pernikahan).
* Cangget: Tarian ini bukan sekadar pertunjukan. Setiap gerakan adalah bahasa. Saat Muli menari dengan langkah gemulai dan tangan yang membentuk simbol “muli” (kuncup bunga), ia menyampaikan kesucian, kelembutan, dan keterampilan menjaga diri. Mekhanai yang menari dengan gagah di sekelilingnya, dengan gerakan silat (ibing) yang dinamis, melambangkan peran pelindung dan penjaga.
Sebuah syair (tembang) yang dinyanyikan mengiringi Cangget menyatakan: “Tandak liwa lima, sai nengah sai nitih. Tandak itu tepung, sai muakhi sai bejuluk.” (Tarian lima penjuru, yang beradab dan bergelar. Tarian itu bertemu, yang manusiawi dan bernama baik).
Analisisnya, panggung Cangget adalah miniatur masyarakat.
Pertemuan yang harmonis antara Mekhanai dan Muli hanya mungkin terjadi ketika keduanya telah memenuhi syarat “nengah” dan “nitih”. Tarian adalah ujian sekaligus pengesahan publik atas budi baik mereka.
* Segelaran dalam Pernikahan: Prosesi “Menyambang” (kunjungan pihak laki-laki ke perempuan) sarat dengan filosofi. Pemberian “Tepak” (wadah sirih) bukan sekadar seserahan. Setiap lapis dan isinya bermakna. Sirih melambangkan hati yang tulus, pinang melambangkan keteguhan, kapur melambangkan kesucian, dan gambir melambangkan ketulusan.
Ritual “Betanggu” (duduk bersila bersama membahas adat) melatih para Mekhanai untuk bijak berunding, sedangkan para Muli dilatih untuk menyajikan hidangan dengan penuh tata krama, mencerminkan konsep “Sakai Sambayan” (tolong-menolong dalam satu rumah). Setiap langkah dalam Segelaran adalah pendidikan komprehensif tentang tanggung jawab, negosiasi, dan penghormatan.
Petuah untuk Zaman Now: Langkah yang Tak Terputus.
Nilai-nilai dalam Langkah Mekhanai-Muli tetap relevan. Menjaga nama baik di media sosial adalah bentuk modern dari piil pesenggiri. Kemampuan bergaul (nengah nyappur) lintas suku dan bangsa adalah perluasan dari semangat nemui nyimah. Tanggung jawab generasi muda saat ini adalah menjadi “jembatan” seperti Ratu Dipuncak yang tersadar, jembatan antara khazanah adat dengan tuntutan zaman, antara nama baik keluarga dengan prestasi individu.
Kearifan tua itu mengingatkan: “Anak lampung, sai lupa behasai. Hasai itu di tiyuh, di rua, di jurai. Asal bejuluk, ia ditengah, asal ditengah ia behasai.” (Anak Lampung, jangan lupa berbahasa. Bahasa itu di kampung, di rua, di jurai. Karena bernama baik, ia dihargai, karena dihargai ia bermartabat). Bahasa di sini bukan sekadar kata, tetapi bahasa perilaku, bahasa adat, dan bahasa hati yang menghubungkan seseorang dengan akarnya.
Penutup
Langkah Mekhanai-Muli adalah jalan panjang pembentukan karakter. Ia dimulai dari kesadaran akan silsilah, ditempa dalam ritual pergaulan adat, dan diuji dalam medan kehidupan yang luas. Buku ini adalah pengingat bahwa budi baik anak adat adalah warisan paling berharga yang harus dibawa dalam setiap langkah, agar tidak menjadi seperti layang-layang putus, melainkan seperti Pusaka Tumi yang meski berat, dijunjung tinggi dengan penuh kehormatan dan manfaat bagi semesta.
Sumber Referensi (Terverifikasi):
1. Hadikusuma, Hilman. (1989). Masyarakat dan Adat Budaya Lampung. Mandar Maju. (Format Fisik)
2. Suryadi, A. (2006). Kearifan Budaya Lampung: Nilai-Nilai Filosofis dan Aktualisasinya. Universitas Lampung Press. (Format Fisik/Digital)
3. Kitab Kuntara Raja Niti, naskah koleksi Museum Lampung, transliterasi bagian tentang tata krama. (Format Digital dari Dokumen Foto Naskah Asli)
4. Saptono, dkk. (2013). Pesenggiri: Orang Lampung dalam Perspektif Sosial Budaya. Penerbit Aura. (Format Fisik)
*) Penulis Adalah Saibatin dari Kebandakhan Makhga Way Lima. Gelar Dalom Putekha Jaya Makhga, asal Sukamarga Gedungtataan, Pesawaran. Tinggal di Labuhan Ratu, Bandar Lampung.

