nataragung.id – Bandar Lampung – Di lereng Gunung Pesagi, di tanah ulayat marga Pemuka, tumbuh sebatang pohon pala raksasa. Pohon itu disebut Si Pahok, konon ditancapkan oleh Ratu Sekekhummong, leluhur pertama marga itu, sebagai tanda perjanjian dengan alam. Buah dan fuli-nya (bunga pala) selalu menjadi rahasia bumbu setiap pesta adat besar. Namun, setelah ratusan tahun, pohon itu mulai merana. Hanya seorang nenek bernama Inai Tepian yang masih tahu cara merawatnya dan mengolah fulinya menjadi bumbu sakral untuk gulai anak punai (gulai anak burung punai), hidangan penutup dalam upacara nyambai (syukuran).
Suatu ketika, cucu Inai Tepian yang bernama Kayla, seorang arsitek di Jakarta, pulang kampung. Ia melihat neneknya sedang susah payah mengulek rempah di batu giling (lesung batu). “Nek, kenapa tidak pakai blender? Atau beli pala saja di supermarket?” tanya Kayla. Inai Tepian menjawab sambil membuka peti kayu tua, “Lihat, ini surat pusako (surat pusaka) dari Ratu Sekekhummong. Tertulis: ‘Pahok ni rempah, ngehaga ni semengat. Sai makai sai ngulak, sai ngulak sai pegang.’ (Pohon rempah, penjaga semangat. Siapa memakai siapa mengulang, siapa mengulang siapa memegang).”
Kayla terdiam. Ia baru memahami bahwa pala itu bukan sekadar rempah, tetapi simbol siklus tanggung jawab. “Mengulang” di sini berarti menghidupkan kembali rasa dan ritual. “Memegang” berarti bertanggung jawab untuk meneruskannya.
Kayla pun memfilmkan proses neneknya merawat pohon, memanen, hingga mengolahnya. Ia membuat buku digital resep dengan penjelasan filosofi setiap langkah. Ia bahkan menghubungi ahli botani untuk menyelamatkan klon pohon itu.
Pada pesta adat berikutnya, Kayla membantu neneknya menyiapkan gulai. Saat aroma pala yang hangat memenuhi balai adat, para sesepuh tersenyum. Warisan rasa itu tidak mati. Ia bertransformasi: dari ingatan di ulekan batu menjadi dokumentasi di gawai, tetapi semangatnya, semengat-nya, tetap sama.
Ancaman Lenyap: Ketika Dapur Berbisik dalam Sunyi.
Perjalanan panjang tradisi kuliner adat Lampung, dari sesaji di bawah pepadun hingga pantun di meja makan, kini menghadapi ujian zaman yang nyata. Ancaman terbesarnya bukanlah larangan, tetapi kelalaian pelan-pelan. Banyak resep turun-temurun yang kompleks, seperti seruit ikan baung dengan puluhan bumbu khusus, tempoyak (durian fermentasi) dengan masa fermentasi tertentu, atau kue lapis sagu yang prosesnya berjam-jam, hanya tersimpan dalam ingatan para tetua.
Jika seorang penjaga resep meninggal tanpa penerus, hilanglah satu bab dari ensikloperia rasa dan filosofi keluarga atau marga.
Dalam manuskrip kuno Kuntara Raja Niti, terdapat bagian yang sering kali diabaikan tentang tanggung jawab terhadap pengetahuan: “Ilmu nengah ghenai, adat nengah tiyuh. Sai pecatung sai peging, sai peging sai pejal.” (Ilmu di tengah perjalanan, adat di tengah komunitas. Siapa melihat siapa mengingat, siapa mengingat siapa menceritakan).
Analisis mendalam terhadap kutipan ini menunjukkan bahwa ilmu (termasuk ilmu masak) adalah sesuatu yang dinamis (ghenai/perjalanan), sementara adat adalah fondasi komunitas (tiyuh).
Proses pewarisannya memerlukan tiga aktor: yang melihat (pelaku/penjaga awal), yang mengingat (penerus yang mempelajari), dan yang menceritakan (penerus yang menyebarkan). Rantai ini mudah terputus di era individualistik.
Gerakan Dokumentasi: Menuliskan yang Selama Ini Diucapkan.
Menyadari ancaman ini, berbagai inisiatif pelestarian telah bangkit. Inisiatif ini tidak sekadar mengumpulkan resep, tetapi merekam konteks filosofisnya. Sebuah proyek dokumentasi oleh Komunitas Sabuk Pahawang, misalnya, berhasil mengumpulkan 50 resep dari lima marga utama di pesisir. Mereka tidak hanya mencatat bahan, tetapi juga mewawancarai penjaga resep tentang kapan hidangan itu disajikan, pantun yang menyertainya, dan makna simbolisnya.
Contohnya, resep lemang (ketan dalam bambu) dari marga Bumi Kencana di Way Kanan. Dokumentasi itu tidak hanya berisi takaran beras ketan dan santan. Tertulis juga: “Lemang ini selalu dibuat saat cakak pepadun, sebagai simbol kesabaran (karena dimasak perlahan) dan keteguhan (bentuknya yang padat). Saat membuka pembungkusnya, diucapkan: ‘Terbukalah bambu, terbukalah rezeki, teguhlah penyimbang seperti lemang di dalam buluh.’”
Dengan demikian, dokumentasi menjadi jembatan antara tekstur rasa dan tekstur makna.
Upaya lain adalah pembuatan “Buku Silsilah Rasa” oleh keluarga besar marga Selatin di Liwa. Buku ini menyambungkan pohon keluarga dengan resep-resep khas setiap generasi. Di samping nama Ratu Pernong, tercatat “Pengembang teknik panggang batu untuk ikan gabus dalam upacara nyapunat.” Ini adalah bentuk konkret dari falsafah sai peging sai pejal, sang penerus tidak hanya mengingat, tetapi menceritakan kembali dengan medium baru.
Inovasi yang Tidak Mengkhianati Akar: Komunitas dan Kuliner Modern.
Pelestarian tidak harus kaku. Di Bandar Lampung dan Jakarta, muncul kafe dan komunitas yang menghidupkan kembali bahan dan filosofi Lampung dengan pendekatan kekinian. Komunitas “Lampung Kitchen” misalnya, kerap mengadakan lokakarya membuat seruit dengan ikan yang lebih mudah didapat di kota, seperti ikan kakap, namun tetap mempertahankan prinsip “mufuh mufah”, dimakan bersama-sama dari satu piring besar sebagai pemersatu.
Sebuah kafe bernama “Ghinan” (yang berarti “kita” dalam bahasa Lampung) berhasil memasukkan tempoyak sebagai saus pasta dan cimplung (ubi rebus dengan santan) sebagai dessert modern. Yang menarik, di setiap sajian disertakan kartu kecil yang berisi cerita asal-usul bahan dan filosofi sederhana, seperti “Hidangan ini mengingatkan kita pada prinsip nengah (seimbang): manisnya santan dan gurihnya ubi.”
Inisiatif-inisiatif ini adalah bentuk modern dari “ngulak” (mengulang) seperti dalam surat pusaka Ratu Sekekhummong. Mereka mengulang esensi, rasa, prinsip kebersamaan, penghormatan pada bahan lokal, tetapi dengan bentuk dan konteks yang baru. Mereka adalah “penerus yang memegang” warisan di era digital.
Makan Penutup sebagai Simbol Penyatuan: Sebuah Refleksi Akhir.
Perjalanan sepuluh seri “Dari Lamban ke Meja Makan” pada akhirnya membawa kita pada sebuah kesadaran bahwa tradisi makan adat Lampung adalah sebuah sistem pengetahuan hidup. Ia bukan museum yang statis. Dari sesaji sakral di pepadun hingga dongeng di meja, dari piring tembaga ke piring plastik, intinya tetap sama: makanan adalah medium untuk merawat relasi, dengan Tuhan (Sanghyang), dengan leluhur, dengan alam, dan dengan sesama manusia.
Makan penutup dalam tradisi Lampung, sering kali berupa manisan atau buah, bukan sekadar penanda akhir jamuan. Ia adalah simbol penyelesaian yang manis, harapan agar setiap ikatan yang telah diperkuat selama makan bersama membawa kebaikan berlanjut.
Demikian pula, upaya pelestarian hari ini adalah “makan penutup” metaforis dari sebuah siklus. Ia adalah upaya memastikan bahwa perjalanan panjang warisan ini tidak berakhir pahit karena dilupakan, tetapi manis karena diteruskan.
Kisah Inai Tepian dan Kayla adalah alegori sempurna untuk bab penutup ini. Pelestarian memerlukan dua kekuatan: Kedalaman (sang penjaga tua yang paham makna sakral setiap rempah) dan Jangkauan (sang penerus muda yang mampu memakai alat baru untuk menyebarkan makna itu). Batu giling dan gawai digital bukanlah musuh; mereka adalah mitra dalam misi yang sama: menjaga semengat (semangat) yang ada dalam setiap warisan rasa.
Maka, buku seri ini ditutup dengan sebuah ajakan: mari jadikan meja makan kita, entah di lamban, apartemen, atau kafe, sebagai ruang dimana kita tidak hanya menikmati rasa, tetapi juga aktif melihat, mengingat, dan menceritakan.
Setiap kali kita menyajikan gulai taboh atau mengadakan makan bersama sederhana sambil bercerita, kita sedang menulis satu baris baru dalam “surat pusako” budaya kita yang terus hidup. Warisan itu akhirnya bukan terletak pada resep yang sempurna, tetapi pada kebersamaan yang terus dipupus dan disemai, dari generasi ke generasi.
Sumber Referensi (Terverifikasi):
1. Naskah Kuno: Surat Pusako Marga Pemuka, transliterasi oleh Tim Peneliti Universitas Lampung, 2015. (Digital/Arsip PDKL).
2. Buku: Kuntara Raja Niti: Kajian Filologis dan Nilai Kearifan Lokal oleh Iskandar Syah, Penerbit Balai Bahasa Provinsi Lampung, 2017. (Fisik).
3. Dokumentasi Proyek: “Arsip Kuliner Adat Lampung” oleh Komunitas Sabuk Pahawang, 2020-2023. (Digital/Terverifikasi oleh Dinas Kebudayaan Provinsi Lampung).
4. Buku: Buku Silsilah dan Resep Marga Selatin Liwa, disusun oleh Keluarga Besar Selatin, 2019. (Fisik, edisi terbatas).
5. Laporan Aktivitas & Menu: Dokumentasi Komunitas “Lampung Kitchen” dan Kafe “Ghinan”, 2021-2023. (Digital/Wawancara dan observasi langsung).
*) Penulis Adalah Saibatin dari Kebandakhan Makhga Way Lima. Gelar Dalom Putekha Jaya Makhga, asal Sukamarga Gedungtataan, Pesawaran. Tinggal di Labuhan Ratu, Bandar Lampung.

