nataragung.id – Sidomulyo – Dalam keseharian kita sebagai masyarakat agraris, alam sering kali memberikan tamsil yang lebih tajam dari sekadar kata-kata. Salah satunya adalah fase yang kita sebut sebagai “Tahun Daun” sebuah kondisi di mana sebatang pohon tampak tumbuh dengan sangat rimbun, hijau royo-royo, dan memanjakan mata, namun ia sama sekali tidak menghasilkan buah.
Kerimbunan ini sering kali menjadi tirai yang menutupi persoalan mendasar yang sedang terjadi di balik kulit kayunya, di mana sebuah eksistensi tampak megah namun kehilangan ruh kemanfaatannya.
Sebab, pada dasarnya kegagalan berbuah itu tidak terjadi secara tiba-tiba, melainkan berawal dari “luka lama” yang tidak terobati. Serangan hama lalat buah di musim sebelumnya, yang menyebabkan buah-buah membusuk dan rontok massal, meninggalkan kelelahan nutrisi yang mendalam bagi sang pohon.
Akibatnya, ia kemudian memilih untuk hanya berdaun; seolah-olah hidup dan sehat di permukaan, namun sebenarnya sedang mengalami kemacetan fungsi generatif yang cukup serius di dalamnya akibat terkurasnya energi untuk melawan penyakit.
Ketidakseimbangan ini pada akhirnya mengganggu harmoni yang seharusnya ada pada sebuah pohon, mulai dari akar, batang, hingga ke ranting terkecil. Menjadi sebuah anomali yang memprihatinkan ketika satu buah kecil berjuang sendirian di tengah kepungan daun yang pekat, sementara dahan dan batang utamanya justru tampak pasif dan hanya menjadi penonton di tengah perjuangan tersebut.
Kondisi tersebut merupakan alarm bahaya, karena jika aliran komunikasi dan semangat di dalam jaringan ini tersumbat oleh rimbunnya tajuk yang tidak produktif, pohon tersebut perlahan akan masuk ke fase “Ranting Kering”.
Pada fase ranting kering ini, meskipun ia tampak masih menyatu dengan batang utama, sebenarnya sirkulasi hidup di dalamnya telah terhenti secara fungsional. Ranting yang terisolasi tidak akan pernah mampu melahirkan kuncup bunga, apalagi memberikan buah yang ranum bagi sekitarnya.
Oleh karena itu, untuk mengembalikan kejayaan sebuah pohon, kita tidak bisa hanya sekadar menyiram daunnya agar tampak mengkilap dari luar.
Dibutuhkan langkah “sanitasi” yang sunyi namun mendalam untuk membersihkan sisa-sisa penyakit masa lalu yang mungkin masih mengintai di tanah, sembari memperbaiki kembali keterbukaan aliran nutrisi dari pusat ke dahan agar perlindungan terhadap bakal buah yang baru bisa lebih maksimal.
Pada akhirnya, sebuah pengabdian dalam bentuk apa pun tidak boleh dibiarkan hanya menjadi ornamen yang tampak hijau di luar namun rapuh di bagian dalam.
Kita butuh sebatang pohon yang tidak sekadar rimbun untuk tempat berteduh sementara, melainkan pohon yang kokoh secara struktur dan mampu memberikan buah kemaslahatan yang dapat dipetik serta dirasakan oleh siapa saja yang berada di bawah naungannya.
Sebab, kehormatan sebatang pohon bukan terletak pada berapa banyak daun yang ia miliki, melainkan pada seberapa besar manfaat yang ia berikan saat musim panen tiba. **
*) Penulis adalah : Aktivis PCNU Kabupaten Lampung Selatan, tinggal di Kecamatan Sidomulyo – Lampung Selatan

