nataragung.id – Pemanggilan – Allah berfirman:
وَقُلْ رَبِّ زِدْنِي عِلْمًا
“Dan katakanlah: Wahai Rabb-ku, tambahkanlah kepadaku ilmu.” (QS. Thaha: 114)
Ayat ini adalah dalil paling jelas tentang kemuliaan ilmu. Allah tidak memerintahkan Nabi Muhammad shalallahu alaihi wasallam untuk meminta tambahan apa pun kecuali ilmu. Ini menunjukkan bahwa ilmu adalah pondasi kemuliaan seorang hamba, cahaya bagi hati, dan jalan keselamatan dunia serta akhirat.
Rasulullah shalallahu alaihi wasallam pun senantiasa memohon ilmu yang bermanfaat, sebagaimana diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dari Abu Hurairah :
اللَّهُمَّ انْفَعْنِي بِمَا عَلَّمْتَنِي، وَعَلِّمْنِي مَا يَنْفَعُنِي، وَارْزُقْنِي عِلْمًا يَنْفَعُنِي، وَزِدْنِي عِلْمًا…
“Ya Allah, berilah manfaat kepadaku dari ilmu yang telah Engkau ajarkan kepadaku, ajarkanlah kepadaku ilmu yang bermanfaat bagiku, karuniakanlah kepadaku ilmu yang bermanfaat, dan tambahkanlah aku ilmu…”
Ini menegaskan bahwa ilmu yang dicari bukan sekadar banyak, tetapi yang melahirkan manfaat, amal, dan ketundukan kepada Allah. Allah berfirman:
قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ
“Katakanlah: Apakah sama orang-orang yang berilmu dengan orang-orang yang tidak berilmu?” (QS. Az-Zumar: 9)
Pertanyaan ini bermakna penegasan bahwa tidaklah sama antara keduanya. Ilmu mengangkat derajat, meluruskan pandangan hidup, dan membimbing langkah seorang hamba.
Allah Subḥanahu wata’ala juga berfirman:
يَرْفَعِ اللهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا العِلْمَ دَرَجَاتٍ
“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kalian dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.” (QS. Al-Mujadilah: 11)
Dan Allah Subḥanahu wata’ala berfirman:
إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ
“Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah para ulama.” (QS. Fathir: 28)
Ibnu Mas‘ud Radhiyallahu anhu berkata:
Ilmu itu bukan karena banyaknya riwayat, tetapi ilmu adalah karena besarnya rasa takut kepada Allah.
Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah berkata: “Orang alim adalah yang takut kepada Allah, mencintai apa yang dicintai-Nya, dan menjauhi apa yang dibenci-Nya.
Tujuh Keutamaan Menuntut Ilmu :r
Pertama, Jalan Menuju Surga
Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda:
مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ
“Barang siapa menempuh suatu jalan untuk mencari ilmu, Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim)
Menuntut ilmu bukan sekadar perjalanan fisik, tetapi perjalanan ruh menuju ridha Allah.
Kedua, Dikelilingi Rahmat dan Ketenangan
Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda:
وَمَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِي بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللَّهِ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ… إِلَّا نَزَلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِينَةُ، وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ
“Tidaklah suatu kaum berkumpul di rumah Allah untuk membaca Kitab Allah dan mempelajarinya, kecuali ketenangan turun kepada mereka dan rahmat meliputi mereka.” (HR. Muslim)
Ketiga, Dinaungi dan Didampingi Para Malaikat
Dalam hadits yang sama disebutkan
وَحَفَّتْهُمُ الْمَلَائِكَةُ
“Para malaikat mengelilingi mereka.”
Penuntut ilmu tidak pernah sendiri; langit pun memuliakan langkahnya.
Keempat, Disebut Namanya di Hadapan Makhluk Mulia
Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda:
وَذَكَرَهُمُ اللَّهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ
“Dan Allah menyebut mereka di hadapan makhluk yang ada di sisi-Nya.” (HR. Muslim)
Nama penuntut ilmu disebut di langit, meski mungkin tak dikenal di bumi.
Kelima, Semua Makhluk Memohonkan Ampunan
Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda:
إِنَّ الْعُلَمَاءَ وَرَثَةُ الْأَنْبِيَاءِ… وَإِنَّ الْمَلَائِكَةَ وَأَهْلَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ لَيَسْتَغْفِرُونَ لِلْعَالِمِ
“Sesungguhnya para ulama adalah pewaris para nabi… dan seluruh makhluk di langit dan bumi memohonkan ampun untuk orang berilmu.” (HR. Abu Dawud, At-Tirmidzi)
Keenam, Lebih Utama dari Ibadah Sunnah
Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda:
فَضْلُ الْعَالِمِ عَلَى الْعَابِدِ كَفَضْلِي عَلَى أَدْنَاكُمْ
“Keutamaan orang berilmu atas ahli ibadah seperti keutamaanku atas orang yang paling rendah di antara kalian.” (HR. At-Tirmidzi)
Karena ilmu meluruskan ibadah, sedangkan ibadah tanpa ilmu bisa tersesat.
Ketujuh, Ilmu yang Bermanfaat Tidak Terputus Pahalanya
Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda:
إِذَا مَاتَ ابْنُ آدَمَ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثٍ… أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ
“Jika anak Adam meninggal, terputus amalnya kecuali tiga perkara… atau ilmu yang bermanfaat.” (HR. Muslim)
Ilmu yang diajarkan akan terus mengalir pahalanya, bahkan setelah jasad kembali ke tanah.
Jadi, Ilmu dalam Islam adalah cahaya yang melahirkan rasa takut kepada Allah, membimbing amal, dan mengangkat derajat manusia. Menuntut ilmu bukan sekadar aktivitas intelektual, tetapi ibadah agung yang menghubungkan bumi dengan langit.
Semoga Allah menjadikan kita penuntut ilmu yang ikhlas, pengamal ilmu yang jujur, dan pewaris cahaya para nabi. (KIS).
*) Penulis adalah Anggota Majelis Pertimbangan Dewan Dakwah Islam Indonesia Propinsi Lampung, tinggal di Pemanggilan, Natar.

