Adab Duduk Dalam Sunnah Nabi Muhammad SAW: Tasybīk, Ḥubwah, dan Cara Bersandar

0

nataragung.id – Pemanggilan – Islam bukan hanya mengatur akidah dan ibadah besar, tetapi juga menyentuh gerak-gerik kecil dalam kehidupan. Bahkan cara kita duduk pun tidak luput dari bimbingan Rasulullah shalallahu alaihi wasallam. Karena seorang mukmin bukan hanya indah dalam shalatnya, tetapi juga dalam adabnya.

Demikian disampaikan Oleh : Ustadz H. Komiruddin Imron, Lc., Anggota Majelis Pertimbangan Dewan Dakwah Islam Indonesia Propinsi Lampung, dikediamannya kawasan Tabek Indah, Pemanggilan, Natar, Jum’at malam (13/2/2026).

Menurut Uskom sapaan akrab pria yang pernah duduk sebagai anggota DPRD Lamsel periode 2004-2009 dan 2009-2014 ini, ada 3 adab duduk dalam Sunnah Rasulullah SAW yaitu : Tasybīk, Ḥubwah, dan Cara Bersandar.

1️⃣ Tasybīk (Menyilangkan Jari)
Di antara adab yang diajarkan adalah larangan tasybīk, menyilangkan atau mengaitkan jari-jari tangan, ketika seseorang menuju masjid atau sedang menunggu shalat.
Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda bahwa orang yang keluar menuju masjid berada dalam keadaan shalat, maka janganlah ia menyilangkan jari-jarinya. Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud.

Baca Juga :  Ibadah Sambil Wisata Di Masjid Raya Al-Bakrie Lampung

Hikmahnya agar hati tetap khusyuk, tubuh tenang, dan jiwa siap menghadap Allah. Gerakan kecil yang tampak sepele, bisa mengurangi kekhusyukan bila dilakukan tanpa kebutuhan.
Namun di luar itu, Nabi Muhammad shalallahu alaihi wasallam pernah menyilangkan jari-jarinya ketika memberi perumpamaan tentang persatuan kaum mukminin. Dalam riwayat Imam al-Bukhari dan Imam Muslim, beliau bersabda:
“Perumpamaan orang beriman dengan orang beriman lainnya seperti bangunan yang saling menguatkan satu sama lain,”
lalu beliau menyilangkan jari-jarinya.
Maka larangan itu bukan pada gerakannya semata, tetapi pada konteks dan adabnya.

2️⃣ Al-Ḥubwah (Duduk Memeluk Lutut)

Al-ḥubwah adalah duduk dengan merapatkan kedua paha ke dada lalu dipeluk dengan tangan.
Rasulullah shalallahu alaihi wasallam melarang duduk seperti ini ketika khutbah Jumat berlangsung. Riwayat ini disebutkan oleh Imam at-Tirmidzi.

Baca Juga :  DKM Masjid Nurul Islam tambah Program Pijat Refleksi Gratis

Mengapa? Karena posisi itu mudah menimbulkan kantuk dan dapat mengurangi perhatian terhadap khutbah. Bahkan jika tidak berhati-hati, bisa menyebabkan aurat tersingkap.

Khutbah adalah saat hati harus terjaga, telinga harus terbuka, dan jiwa harus hidup. Maka Islam menjaga adab lahir agar batin pun tetap terarah.

3️⃣ Bersandar pada Tangan Kiri
Dalam hadits lain disebutkan Nabi Muhammad shalallahu alaihi wasallam melarang seseorang duduk bersandar pada tangan kirinya di belakang punggungnya. Riwayat ini terdapat dalam Sunan Imam Abu Dawud. Sebagian riwayat menyebut itu adalah duduknya orang yang dimurkai.

Para ulama menjelaskan bahwa larangan ini bermakna makruh, karena menyerupai sikap malas atau bentuk duduk orang yang sombong.
Seorang mukmin diajarkan untuk duduk dengan tawadhu’, penuh ketenangan, tidak menampakkan kesan angkuh atau meremehkan majelis.

Baca Juga :  MUHASABAH : Introspeksi Diri Di Awal Tahun. Oleh : Ustadz H. Komiruddin Imron, Lc

Jadi, duduk hanyalah gerakan sederhana. Tetapi dari cara duduk, tampak keadaan hati. Orang yang hatinya hidup akan menjaga adabnya.
Orang yang menghormati majelis akan menjaga sikapnya.
Islam mendidik kita agar:
• Khusyuk sebelum shalat dimulai
• Fokus ketika nasihat disampaikan
• Tawadhu’ dalam setiap keadaan
Karena iman bukan hanya di dada, tetapi terpancar dari sikap dan adab.

Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba yang menjaga sunnah Nabi Muhammad shalallahu alaihi wasallam bukan hanya dalam ibadah besar, tetapi juga dalam adab kecil yang penuh makna. <••>
Editor : Muhammad Arya.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini