Yakin Ngana Mo Buang Pa Gibran?. ✍️ Pepih Nugraha //Owner and Founder Pepnews

0

nataragung.id – Jakarta – Tak sengaja saya membaca kabar burung yang mulai mengepakkan sayapnya di langit politik kita. Isunya seksi, tapi baunya agak amis: Presiden Prabowo Subianto didorong untuk dua periode, tapi dengan syarat yang cukup “sadis”: Gibran Rakabuming Raka, hendak ditinggal di pinggir jalan sendirian.

Saya tertegun. Dalam batin, saya ingin sekali berbisik langsung ke telinga Pak Presiden: “Yakin Anda mau membuang Gibran?”

Sepertinya, koalisi kita ini memang gudangnya orang-orang kreatif, atau mungkin lebih tepatnya orang-orang yang terlalu percaya diri. Belum juga kering keringat kabinet bekerja, kawan-kawan di PAN sudah mulai menjajakan nama Zulkifli Hasan.

Sementara itu, kawan lama saya di Partai Demokrat melalui pernyataan Andi Mallarangeng, mulai menebar harapan dengan menyodorkan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY). Namanya juga harapan, tidak ada yang salah.

Logikanya sederhana tapi “nakal”: Prabowo oke, tapi wakilnya ganti saja!

Melihat fenomena ini, saya merasa seperti sedang menonton antrean di depan loket diskon. Semua berebut tempat, semua merasa paling pantas bersanding di pelaminan kekuasaan 2029.

Baca Juga :  Evakuasi Penduduk Gaza ke Indonesia Blunder. Oleh : HM.Habib purnomo *)

Mereka seolah-olah lupa, atau pura-pura lupa, bahwa sosok anak muda yang mereka anggap “beban” dan “anak haram konstitusi ” itu adalah kunci pas yang membukakan pintu kemenangan kemarin.

Gaya politik habis manis sepah dibuang begini memang khas kita sekali. Saat butuh suara anak muda dan restu “Bapaknya”, semua memuji setinggi langit. Sekarang, setelah kursi empuk sudah diduduki, ada saja bisikan-bisikan untuk mencari pengganti yang dianggap lebih “berbobot” atau lebih “senior”.

Tapi tunggu dulu. Mari kita pakai logika wartawan purna tugas ini yang biasa menyampaikan serenceng pertanyaan;

Pertama, siapa yang memegang kunci “kolam suara” terbesar?

Kedua, siapa yang menjadi simbol rekonsiliasi yang meski dipaksakan ternyata manjur?

Ketiga, kembali ke pertanyaan pertama dan kedua.

Mendorong Prabowo tanpa Gibran itu ibarat memesan nasi goreng tanpa garam; hambar dan mungkin malah bikin sakit perut.

Mengganti Gibran dengan Zulkifli Hasan atau siapapun mungkin menyenangkan bagi internal partai masing-masing, tapi bagi publik, ini adalah tontonan tentang bagaimana kesetiaan politik bisa semurah harga obral di pasar kaget.

Baca Juga :  Karya Media Sosial vs Karya Jurnalistik, Beda Tipis tapi Jauh. Oleh: Junaidi Ismail, S.H. | Wartawan Utama

Kepada kawan-kawan di koalisi pengasong nama cawapres, saya ingin bertanya: Apakah Anda sedang membantu Prabowo, atau sedang mencoba “mengkudeta” Gibran secara halus?

Politik itu bukan cuma soal aritmatika kursi, tapi soal etika rasa. Jika hari ini Anda berani menusuk kawan seiring dari belakang demi posisi cawapres, apa jaminannya besok Anda tidak akan melakukan hal yang sama pada Pak Prabowo sendiri?

Saya membayangkan Pak Prabowo hanya tersenyum tipis melihat manuver-manuver ini. Beliau adalah jenderal yang kenyang makan asam garam pengkhianatan. Beliau tahu mana kawan yang setia di medan tempur, dan mana kawan yang hanya datang saat pesta kemenangan sembari membawa daftar pesanan jabatan.

Sebagai seorang jurnalis purnatugas, dulu saya belajar tentang “suara hati nurani”. Dan nurani saya mengatakan, gerakan “Buang Gibran” ini adalah bentuk kenaifan politik yang luar biasa.

Baca Juga :  Taufik Hidayat Melenggang, Tugas Berat KONI Lampung Menghadang. Oleh : Gunawan Handoko *)

Gibran kini bukan sekadar wakil presiden; dia adalah entitas politik yang membawa gerbong besar di belakangnya. Membuangnya berarti bersiap kehilangan gerbong tersebut.

Saran saya untuk PAN, Gerindra, Golkar, PKB, Demokrat, dan siapa pun yang sedang menjahit baju Cawapres 2029, simpan dulu baik-baik ambisi itu di laci. Biarkan kabinet bernapas. Rakyat sedang menonton betapa “laparnya” kalian akan kekuasaan hingga belum-belum sudah mau ganti pasangan orang lain.

Ingat, rakyat kita itu pemaaf untuk banyak hal, tapi mereka punya ingatan yang sangat tajam soal siapa yang “menelikung” dan “menikung” dan di jalanan mendaki.

Jadi, Pak Presiden, jika mereka terus berisik, mungkin cukup berikan mereka satu tatapan mata yang tajam, seperti saat Bapak sedang menunggangi kuda kesayangan di Hambalang. Biar mereka tahu siapa yang memegang kendali.

Jangan sampai saya terpaksa bertanya, “Yakin Ngana Mo Buang Pa Gibran?” <••>

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini