nataragung.id – Bandar Lampung – Penentuan awal Ramadhan 1447 Hijriah kembali terjadi perbedaan yang disebabkan oleh perbedaan metode penentuan awal bulan Ramadhan tahun ini. Perbedaan paling prinsip adalah metode penentuan awal bulan Hijriah, yaitu hisab (perhitungan astronomis) dan rukiyat (pengamatan hilal). Ada pihak yang menggunakan hisab, sementara yang lain menggunakan rukyat, atau kombinasi keduanya. Bagi sebagian orang, ini adalah momen yang membingungkan. Namun bagi yang memahami akar historis dan metodologinya, ini adalah wujud dinamika yang indah dalam kehidupan beragama.
Perbedaan ini sudah menjadi hal biasa bagi umat Islam di Indonesia, yang selama puluhan tahun sering memulai Ramadhan, Syawal, atau Dzulhijjah dengan tanggal atau waktu yang berbeda. Awal Ramadhan boleh berbeda, tapi iman tetap sama. Artinya, perbedaan tehnis dalam penentuan tanggal tidak mengurangi esensi ibadah puasa itu sendiri, dan tidak mengubah prinsip dasar keimanan umat muslim. Dalam kehidupan berbangsa yang demokratis, kita perlu untuk membiasakan diri menyikapi perbedaan secara dewasa. Selama tidak menyentuh prinsip dasar keimanan, perbedaan justru dapat menjadi bagian dari kekayaan ilmu pengetahuan dan tradisi intelektual Islam. Maka jangan sampai perbedaan awal Ramadhan ini menjadi perdebatan yang panas, lebih panas dibandingkan antusiasme dalam menyambut ibadah Ramadhan itu sendiri. Perbedaan ini perlu disikapi dengan bijak, khususnya oleh para ulama. Perbedaan awal Ramadhan adalah hal yang wajar dan bukan wujud perpecahan.
Justru keberagaman cara pandang ini menunjukkan khazanah fikih Islam yang kaya. Perbedaan ini harus dilihat sebagai berkah atau rahmat yang memberikan ruang bagi umat untuk memilih keyakinan metodologisnya, sepanjang bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah dan syar’i. Yang wajib dihindari justru sikap merasa paling benar dan menyalahkan kelompok yang berbeda. Bukankah Ramadhan adalah bulan pendidikan jiwa, dimana ujian utamanya bukan sekedar menahan lapar dahaga, melainkan menahan ego dan menjaga ukhuwah Islamiyah. Toleransi bukan berarti menyamakan metode, melainkan menghargai proses yang dipilih orang lain. Dari perbedaan ini, pelajaran paling berharga adalah pentingnya memahami dan menghormati perbedaan dalam beragama, serta meningkatkan kesadaran akan pentingnya ilmu dan teknologi untuk menentukan waktu ibadah yang lebih akurat. Selain itu, juga untuk mengingatkan kita agar senantiasa bersikap fleksibel dan toleran dalam menghadapi perbedaan. Maka tidak perlu ada perdebatan, karena tujuan akhirnya sama, yaitu menjalankan ibadah Ramadhan dengan khusyuk, utamanya untuk meningkatkan takwa, baik peningkatan takwa untuk pribadi maupun kolektif. Maka yang penting adalah memfokuskan pada hal yang substantif, yakni menggapai ketakwaan dengan menjalankan segala perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya.
Menghargai perbedaan merupakan kunci untuk membangun kebersamaan dan harmoni. Puasa Ramadhan mengajarkan kita untuk saling menghormati dan memahami, sehingga kita dapat mencapai tujuan yang sama dengan cara yang berbeda. Yang namanya perbedaan pendapat bisa terjadi dimana saja, bahkan dalam keluarga sekalipun. Dengan saling memahami dan menghormati, kita bisa menjaga keharmonisan dan memperkuat hubungan meskipun ada perbedaan. Bila Ramadhan kita analogikan sebuah kendaraan, meskipun ada perbedaan waktu keberangkatan, tujuan akhirnya sama, yaitu sampai di tempat tujuan dengan selamat. Yang penting, selama perjalanan kita harus menjalankan segala aturan yang berlaku untuk mencapai tujuan itu. Diyakini setiap orang punya pilihan dan keyakinan masing-masing, dan tidak ada yang berniat melanggar ketentuan Allah. Maka saling menghormati dan menjaga ukhuwah menjadi sangat penting, agar kita dapat fokus pada esensi puasa dan ibadah, bukan pada perbedaan tanggal dan waktu. Dalam konteks ini, toleransi dan ukhuwah umat muslim di Indonesia patut disyukuri. Masyarakat muslim telah menunjukkan contoh yang baik dengan tetap menjaga keharmonisan dan menjalankan ibadah bersama, meskipun ada perbedaan. Meskipun awal Ramadhan berbeda, tapi semua akan kembali bersama di masjid yang sama dalam menjalankan ibadah. Itulah indahnya perbedaan, kita bisa belajar menghargai dan menerima perbedaan serta menjaga keharmonisan dan ukhuwah.
Marhaban Ya Ramadhan. <••>
*) Penulis: Jamaah Masjid Al-Muawwanah Gedong Meneng Rajabasa, Kota Bandar Lampung.

