Rezeki untuk Penipu. Oleh : Mukhotib MD *)

0

nataragung.id – Magelang – Kata orang–termasuk, istri dan anak-anak, ibu-ibu PKK, saya termasuk golongan laki-laki yang sensitif dan mudah tersentuh. Apalagi saat hari-hari yang penuh aura spiritualitas seperti bulan suci Ramadan. Sensitivitas itu semakin menggunung, tak bisa melihat kesedihan.

Saat melihat anak kucing yang rebesan, diare, terkena scabies seluruh badannya, telinganya menebal, dan merengek sepanjang jalan karena ditinggal kabur induknya, saya langsung mengalir air mata.

Begitu juga ketika ada berita tetiba para tokoh agama diundang ke Istana, dan langsung menyatakan kesetujuannya Indonesia bergabung dengan BoP (Board of Peace) besutan Trump. Air mata meleleh, tak henti-hentinya. Bukan soal Rp16,7 triliun yang membikin sesak di tengah-tengah kemiskinan yang dimanipulasi. Namun, soal lembaga perdamaian untuk Palestina, tetapi malah pihak Palestina tak dilibatkan di dalamnya.

Nah, bagaimana kalau harus menghadapi perempuan yang menangis karena tertipu jutaan rupiah? Tertipu mentah karena berhardapan-hadapan dengan penipunya.

Baca Juga :  Bulan Ramadan, dan Cinta yang Terbengkalai. Oleh : Mukhotib MD //Jurnalis dan peneliti senior pada Adicita Swara Publika (ASP) Yogyakarta

Perempuan itu duduk persis di depanku, sesunggukan, puluhan lembar tisu berserakan di bawah meja. Basah…

Menghadapi situasi seperti ini, praktis pikiran kritisku berhenti total, ibarat motor kehabisan bahan bakar, enggak bisa hidup tuh mesin, enggak mungkin berjalan. Atau seperti ancaman seorang penasihat pajak yang beredar di media sosial, akan menghapus data kendaraan. Alhasil, kendaraan tidak bisa dipakai lagi.

Seluruh sarafku terasa membeku, meski saya harus memeras otak untuk menjawabnya. Target minimal, saya bisa menjadi teman bicaranya. Wadah curahan hati, karena tertipu masih sering lebih disembunyikan, ketimbang harkat martabat terjun bebas dari pegunungan.

Bulan suci Ramadan membantuku memulai berbicara dalam dimensi spiritual. Saya kata, Allah menciptakan makhluknya dengan janji akan mendapatkan rezeki. Orang-orang sering bilang, Tuhan Maha kuasa dalam mengatur kehidupan. Sehingga seekor cicak pun yang melata di dinding kebagian rezeki dengan mangsa yang terbang.

Baca Juga :  Fashion Show Ramadan, Yuli Surahmah: Mengenalkan Profesi

Pun begitu para penipu. Ia pasti mendapatkan rezekinya, sumbernya dari korban. Mereka yang ingkar terhadap keberadaan Tuhan, dan bahkan menyerang para utusan-Nya, pun tetap mendapat jatah rezeki dari-Nya. Abu Jahal pun mendapatkan rezeki, mesti kekayaan itu untuk memerangi Muhammad.

Itulah sifat Gusti Allah, al-Rahman. Kalau di pesantren disebut sebagai bentuk welas Gusti yang hanya untuk kehidupan dunia. Tidak untuk akhirat kelak.

Perempuan itu mengangkat kepalanya, memandang ke arah dengan tajam. Seakan ia hendak mencari kebenaran dalam biji mataku yang sudah plus, karena aus dipakai terus tanpa ada perawatan. Padahal kendaraan saja, rutin service dan ganti oli.

Saya membalas tatapannya, dan meyakinkan itulah yang saya yakini tentang welas Gusti Allah. “Apakah sedang melakukan normalisasi tindakan penipuan?”

Baca Juga :  Pesantren Kilat Bumi Cendekia, Mlati - Sleman : Orang Tua Ingin Anak Punya Pengalaman Mondok

“Tidak. Tentu saja tidak. Penipuan tetap menjadi tindakan buruk dan tidak bermoral,” kataku.

Yang pasti, kataku, berbahagia lah semesta, karena titipan karya milik penipu dari Gusti Allah telah engkau berikan. Ia pasti akan menggantinya dengan rezeki yang lebih besar.

Dan ketika malam, menjelang makan sahur, saya sungguh gelisah. Benarkah cara berpikirku mengenai penipu? Entahlah, tetapi sore tadi, ia begitu jelas tampak mengendur ketegangannya. Dan saya tahu, ada seulas senyum yang tiba-tiba berterbangan menghiasi cakrawala. (*)

*) Penulis adalah : Jurnalis dan peneliti senior pada Adicita Swara Publika (ASP) Yogyakarta tinggal di Magelang

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini