Dapur MBG Milik Polisi. Oleh : Mukhotib MD *)

0

nataragung.id – Yogyakarta – Menjelang sahur, saya, Pakde Kliwon, dan Pakde No menuju ke warung Yuk Nah. Sejak awal puasa sudah merencanakan sahur bersama. Syukur-syukur Yuk Nah bersedia mentraktir menu sahurnya. Rezeki enggak ada yang tahu kapan dan di mana datangnya.

Namun, tiga pasang kaki kami membeku di ambang pintu. saya memandang ke arah Pakde Kliwon, ia melihat ke Pakde No, dan Pakde No melihat ke arahku. Pandangan mata kami penuh tanya, mendengung-dengung seperti ribuan tawoan berterbangan karena gergaji raksasa menebangi pohon-pohon tua tempat mereka beranak pinak.

Yuk Nah tampak sedang menangis, suaranya sesenggukan. Saya lihat beberapa tetes air matanya jatuh terkulai di atas adonan terigu untuk tempe dan tahu susur. Di Kebumen menyebutnya tahu berontak. Karena sering kali isinya (kubis, wortel, dan tauge) seperti hendak keluar dari rahim sang tahu.

Kami bertiga seperti sepakat menunjuk Pakde Kliwon untuk menyapa Yuk Nah lebih dulu. Soalnya, kalau salah kata kan Pakde Kliwon sudah biasa dibentak Yuk Nah. Dan ia sendiri sering bilang bentakan Yuk Nah di telinganya terasa seperti alunan musik Lampung yang mendayu, tetapi mengandung tenaga energik.

Baca Juga :  Kemacetan di Pasar Jati Mulyo - MAJALAH NATAR AGUNG

Benar saja, belum lagi Pakde Kliwon angkat suara, Yuk Nah sudah berbalik badan. Mungkin mendengar tarikan sandal jepit Pakde Kliwon. “Mau apa?” tanya Yuk Nah dengan suara tegas dan sorot mata yang tajam.

“Apa-apa mau,” sahut Pakde Kliwon sekenanya, dan tampak gelagapan. Mungkin saja, ia enggak pernah membayangkan akan mendapatkan pertanyaan mendadak, seperti seorang penjaga gawang yang tak menyangka bola akan bergulir santai di sudut gawang.

“Mau main-main?” lanjut Yuk Nah.

Pakde Kliwon balik badan, dan langsung sembunyi di belakangku. Ia enggak mengira dini hari sudah membuat goro-goro, persis ketika Almarhum Ki Seno Nugroho memunculkan Bagong dan kedua kakaknya, berantem dengan sinden yang malah memarahi dalangnya

Baca Juga :  Membangun Indonesia Melalui Perlindungan Pekerja yang Inklusif dan Berkelanjutan

Saya mengambil alih persoalan. Meski juga sambil hati-hati, karena Yuk Nah masih memegang serok gorengan. Itu kalau tidak sengaja dipukulkan saja lumayan bekasnya. Apalagi kalau sengaja karena ada dorongan amarah yang meluap, tentu saja fatal akibatnya. Apalagi ini belum imsak, jadi mengumbar amarah enggak membatalkan puasa.

“Kita mau sahur bersama di sini. Namun, tadi melihat dirimu menangis, jadi Pakde Kliwon mau menyapa. Eh, malah bikin masalah,’ kataku.

“Iya, kenapa sih kamu menangis,” kata Pakde Kliwon setelah melihat situasinya membaik. Serok gorengan sudah diletakkan di tempat yang layak.

Pakde No tak ikut komentar khawatir melahirkan masalah baru. Ia memilih jalan aman, duduk di bangku dan mengambil pisang goreng. Kenyang air putih, dan menyulut rokok kretek kesayangannya.

“Saya sedih, anak-anak di sekolah pada keracunan setelah makan ransum MBG,” katanya.

Baca Juga :  Cermin Retak: Pada Rindu Ku Mengadu (Bag : 1). Oleh : Mukhotib MD *)

“Cucu saya, si Boby, juga keracunan. Sekarang di rawat di rumah sakit,” lanjutnya.

“Itu pasti bukan dapur MBG milik polisi ya,” tanya Pakde No nyamber saja, umpama burung kutilang menyambar pisang ranum di pohonnya.

“Kok tahu?” tanyaku.

“Kalau milik polisi, dengar-dengar zero accident,” sahut Pakde No.

Ketiga aktivis gaek dan menolak pensiun itu bersepakat membuat surat pernyataan menyerukan kepada semua sekolah untuk pindah ke dapur milik polisi.

Memangnya ada media yang mau mempublikasikan? Entah lah, biar mereka saja yang urus. Aku mau sahur, karena di Musala desa sudah mengumumkan sepuluh menit lagi imsak. (*)

*) Penulis adalah : Jurnalis dan peneliti senior pada Adicita Swara Publika (ASP) Yogyakarta.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini