CERMIN RETAK : Musyawarah Aktivis Gaek. Oleh : Mukhotib MD *)

0

nataragung.id – Yogyakarta – Pakde No mengundang kami bertiga untuk berbuka di rumahnya. Saya langsung menyanggupi tanpa syarat. Ini bagian penting dalam mewujudkan ketahanan pangan menuju Indonesia Emas.

Pakde Kliwon juga langsung mengiyakan, bahkan tanpa bertanya apapun tentang undangan ini. Ia memang selalu mencari yang gratisan, meski kadang menu tak standar, dan terancam keracunan.

Yuk Nah tentu keberatan. Alasannya jelas dan rasional, enggak mau kehilangan profit yang menjanjikan, dan khawatir ditinggalkan pelanggan. Padahal dia baru saja kursus pemasangan iklan di FB yang enggak bikin boncos.

Tetapi menurut Pakde No tanpa Yuk Nah, menunjukkan tali silaturrahmi enggak tercerminkan dengan baik. Abai terhadap ukhuwah yang sudah terjalin selama ini. Paling mengkhawatirkan lagi menjadi abai terhadap partisipasi yang bermakna.

Baca Juga :  CERMIN RETAK : Salat Istikharah, Mr. President. Oleh : Mukhotib MD *)

Tentu para gaek ini enggak mau menjadi seperti peribahasa lupa kacang pada kulitmya. Bahkan ada yang punya gagasan yang posting program pemerintah akan dituntut berdasarkan UU ITE. Selain mencemarkan nama baik, dan tidak tahu terima kasih.

“Negara bukan melindungi warganya malah mau memenjarakan. Feedback dianggap sebagai protes,” kata Pakde Kliwon sekali waktu.

Saya mengiyakan tak mungkin menolak fakta dan teori yang disampaikan Pakde Kliwon. Ia selalu berbicara berdasarkan fakta.

“Evidence-based,” kata Yuk Nah.

Kami berempat berada dalam darurat pengambilan keputusan. Memasuki ruang dilematis yang sungguh amat berat menyusun kesepakatan.

Baca Juga :  Kemerdekaan Republik Indonesia dan Makna Merdeka dalam Rumah Tangga

“Bagaimana kalau kita buka puasa di warung Yuk Nah,” kataku dengan nada serius untuk mengundang perhatian tiga temanku.

“Istriku sudah terlanjur masak-masak,” ujar Pakde No dengan nada bicara memelas.

“Kita harus cari jalan tengah,” kata Pakde Kliwon dengan sangat percaya diri.

Musyawarah benar-benar alot. Semua mengajukan usulan gar keputusan mewakili pandangan semua mantan aktivis kelebihan energi ini.

“Sesuai dengan petunjuk dari langit,” ujar Pakde Kliwon, entah memang dapat Ilham atau pikirannya memang masih berada pada periode mistis.

“Pertemuan sebaiknya di warung Yuk Nah. Sementara makanan dari Pakde No dibawa ke warung,” lanjutnya.

Baca Juga :  Senjata Alam Penakluk Penyakit itu Bernama "CABE JAWA" - MAJALAH NATAR AGUNG

Kesepakatan bulat, makan buka puasa di warung Yuk Nah. Mereka tidak bergeser tempat, karena sejak tadi musyawarah itu sudah di warung Yuk Nah.

Pakde No kirim pesan ke istrinya untuk membawa makanan buka puasa ke warung. “Orang kok pada enggak jelas,” ujar istri Pakde No enggak bisa memahami jalan pikiran suami dan teman-temannya itu.

Negara kalau diurus sama orang-orang gaek seperti itu pasti akan rusak semuanya. Rakyat dirugikan. **

*) Penulis adalah : Jurnalis dan peneliti senior pada Adicita Swara Publika (ASP) Yogyakarta.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini