MIMBAR JUM’AT : Tujuh Jalan Bersama Al-Qur’an: Agar Tidak Termasuk yang Meninggalkannya. Oleh : Ustadz H. Komiruddin Imron, Lc *)

0

nataragung.id – Pemanggilan – Allah Subḥanahu wata’ala berfirman tentang kemuliaan bulan Ramadhan:

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِّنَ الْهُدَىٰ وَالْفُرْقَانِ

“Bulan Ramadhan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu serta pembeda (antara yang benar dan yang batil).” (QS. Al-Baqarah: 185)

Namun di hari kiamat kelak, ada pengaduan yang menyayat hati. Allah Subḥanahu wata’ala mengabadikan keluhan Rasul-Nya:

وَقَالَ الرَّسُولُ يَا رَبِّ إِنَّ قَوْمِي اتَّخَذُوا هَٰذَا الْقُرْآنَ مَهْجُورًا

“Dan Rasul berkata: ‘Wahai Rabbku, sesungguhnya kaumku menjadikan Al-Qur’an ini sesuatu yang ditinggalkan.’” (QS. Al-Furqan: 30)

Meninggalkan Al-Qur’an bukan hanya tidak membacanya, tetapi juga tidak berinteraksi dengannya. Agar kita tidak termasuk golongan yang diadukan Nabi Muhammad shalallahu alaihi wasallam, ada tujuh bentuk interaksi dengan Al-Qur’an:
Pertama, Mendengar Al-Qur’an

Allah Subḥanahu wata’ala berfirman:

وَإِذَا قُرِئَ الْقُرْآنُ فَاسْتَمِعُوا لَهُ وَأَنصِتُوا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

“Apabila Al-Qur’an dibacakan, maka dengarkanlah dan diamlah agar kamu mendapat rahmat.” (QS. Al-A’raf: 204)

Baca Juga :  MIMBAR JUM'AT : Ketika Pagi Membuka Pintu Rahmat. Oleh : Ustadz H. Komiruddin Imron, Lc *)

Mendengar dengan khusyuk adalah pintu rahmat. Bahkan jin beriman ketika mereka mendengarkan Al-Qur’an (QS. Al-Ahqaf: 29-30).

Kedua, Mempelajari Al-Qur’an
Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda:

خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ

“Sebaik-baik kalian adalah yang mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya (HR. Sahih al-Bukhari)

Belajar tajwidnya, maknanya, hukumnya, itulah tanda cinta.

Ketiga, Membaca Al-Qur’an

Allah Subḥanahu wata’ala berfirman:

فَاقْرَءُوا مَا تَيَسَّرَ مِنَ الْقُرْآنِ

“Maka bacalah apa yang mudah (bagimu) dari Al-Qur’an.” (QS. Al-Muzzammil: 20)

Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda:

مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللَّهِ فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ…

“Barang siapa membaca satu huruf dari Kitab Allah, maka baginya satu kebaikan, dan satu kebaikan dilipatgandakan menjadi sepuluh.” (HR. Jami at-Tirmidhi)

Keempat, Mentadabburi (Merenungi)

Allah Subḥanahu wata’ala berfirman:

أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ

“Tidakkah mereka mentadabburi Al-Qur’an?” (QS. An-Nisa’: 82)

Dan juga:

كِتَابٌ أَنزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِّيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ

“Kitab (Al-Qur’an) yang Kami turunkan kepadamu penuh berkah agar mereka mentadabburi ayat-ayatnya.” (QS. Shad: 29)

Baca Juga :  MIMBAR JUMAT - Teman itu Menyeret. Oleh : Ustadz H. Komiruddin Imron, Lc *)

Membaca tanpa merenung ibarat melewati taman tanpa menikmati keindahannya.

Kelima, Mengamalkan
Allah Subḥanahu wata’ala berfirman:

وَاتَّبِعُوا أَحْسَنَ مَا أُنزِلَ إِلَيْكُم مِّن رَّبِّكُم

“Ikutilah sebaik-baik apa yang telah diturunkan kepadamu dari Tuhanmu.” (QS. Az-Zumar: 55)

‘Aisyah radhiyallahu ‘anha ketika ditanya tentang akhlak Nabi Muhammad shalallahu alaihi wasallam berkata:

كَانَ خُلُقُهُ الْقُرْآنَ

“Akhlak beliau adalah Al-Qur’an.” (HR. Sahih Muslim)

Artinya, beliau adalah Al-Qur’an yang hidup.

Keenam, Mengajak kepada Al-Qur’an
Allah Subḥanahu wata’ala berfirman:

ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah.” (QS. An-Nahl: 125)

Dan sabda Nabi Muhammad shalallahu alaihi wasallam :

بَلِّغُوا عَنِّي وَلَوْ آيَةً

“Sampaikan dariku walau satu ayat.” (HR. Sahih al-Bukhari)

Mengajak keluarga, sahabat, dan umat untuk kembali kepada Al-Qur’an adalah bagian dari kesetiaan kita kepadanya.

Ketujuh, Berjuang untuk Al-Qur’an
Allah Subḥanahu wata’ala berfirman:

فَلَا تُطِعِ الْكَافِرِينَ وَجَاهِدْهُم بِهِ جِهَادًا كَبِيرًا

“Maka janganlah engkau mengikuti orang-orang kafir, dan berjihadlah terhadap mereka dengan (Al-Qur’an) dengan jihad yang besar.” (QS. Al-Furqan: 52)

Baca Juga :  KHUTBAH JUM'AT - Saat Usia 40 Tahun : Panggilan Untuk Kembali. Oleh : Ustadz H. Komiruddin Imron, Lc *)

Berjuang dengan hujjahnya, membelanya dari penyimpangan, menjaga kemurniannya, dan menjadikannya pedoman dalam kehidupan.

Penutup

Al-Qur’an bukan sekadar mushaf yang disimpan rapi, bukan sekadar lantunan merdu di bulan Ramadhan. Ia adalah petunjuk hidup. Jangan sampai kita membaca ayat:
“Sesungguhnya kaumku menjadikan Al-Qur’an ini sesuatu yang ditinggalkan”
lalu kita termasuk di dalamnya.

Mari kita hidup bersama Al-Qur’an:
mendengarnya dengan hati,
mempelajarinya dengan sungguh-sungguh,
membacanya dengan cinta,
mentadabburinya dengan akal yang jernih, mengamalkannya dengan ikhlas,
mengajaknya kepada manusia, dan berjuang menjadikannya cahaya peradaban.
Semoga Allah Subḥanahu wata’ala menjadikan kita

أهل القرآن، الذين هم أهل الله وخاصته.

Aamiin. (KIS)

*) Penulis adalah Anggota Majelis Pertimbangan Dewan Dakwah Islam Indonesia Propinsi Lampung, tinggal di Pemanggilan, Natar.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini