Cermin Retak: Pengalihan Masalah. Oleh : Mukhotib MD *)

0

nataragung.id – Yogyakarta – Yuk Nah tertawa tak henti-henti. Air matanya mengucur deras, puluhan lembar tisu berserakan di lantai.

Pakde Kliwon clingak-clinguk tampak culun. Pakde No mulutnya terbuka, dan dua ekor lalat terbang berputar-putar dengan suara dengungan yang menjengkelkan. Tentu saja, Pakde No tangan kanannya sibuk bukan kepalang.

Mungkin lebih dari lima menit tawa Yuk Nah pun reda. Ia meletakkan telepon genggamnya di meja. Menarik ujung bajunya untuk memastikan air mata telah kering di kedua belah pipinya.

Baca Juga :  Latihan Berkurban di Sekolah: Kajian Psikologi Pendidikan dan Relevansinya terhadap Instrumen Akreditasi BAN PDM 2026 Oleh: Dr. Aguswan Khotibul Umam, S. Ag., MA *)

“Kita ini dianggap bodoh, seperti anak-anak yang enggak paham politik,” katanya sambil mengusap bagian bawah matanya dengan telunjuk kanan dan kiri. Enggak lama kemudian disusul dengan suara menyemprotkan ingus.

Saya mafhum. Rupanya Yuk Nah merasa tersinggung dengan gaya komunikasi para pejabat yang menggunakan pengalihan narasi dengan melontarkan pernyataan yang mengundang emosi, atau tindakan yang memancing kegaduhan.

“Menghimbau agar perempuan mematikan kompor setelah masakan matang itu jelas pengalihan,” katanya.

Baca Juga :  Bullying Di Balik Seragam Sekolah: Luka Yang Tidak Terlihat. Oleh: Rizky Amaliya Putri *)

Apa yang sedang dialihkan? Yuk Nah mengatakan problem nasional saat ini adalah kelangkaan gas. Agar masyarakat lupa dengan problem itu, dilontarkan pernyataan yang benar-benar konyol.

Dunia maya pun gaduh, banjir meme dan caption yang menghujat, membodoh-bodohkan. Apakah pejabat itu akan marah? Tidak, dalam teori komunikasi politik memang ada model pengalihan isu seperti ini.

Justru bangga sebab umpannya mendapatkan respons. Rakyat asyik dengan mengolok-olok,dan lupa dengan ancaman kelangkaan gas yang sungguh mengerikan itu dampaknya.

Baca Juga :  Cermin Retak: Pada Rindu Ku Mengadu (Bag : 1). Oleh : Mukhotib MD *)

“Betapa menyedihkannya bangsa ini,” ujar Yuk Nah lirih.

Saya mengangguk dan membenarkannya. Pakde Kliwon dan Pakde No tampak ikut mengangguk. Namun, saya enggak yakin benar mereka paham arah pembicaraan Yuk Nah. (*/29)

*) Penulis adalah : Jurnalis dan peneliti senior pada Adicita Swara Publika (ASP) Yogyakarta.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini