Seri Buku: Bahasa Lampung sebagai Cermin Budaya. Seri – 8 – Belajar Bahasa Lampung Itu Menyenangkan. Oleh: Mohammad Medani Bahagianda *)

0

nataragung.id – Bandar Lampung – Suatu hari, terjadi perselisihan antara dua marga mengenai batas ladang. Amarah hampir berubah menjadi pertumpahan darah. Radin Suttan Pugung diminta berbicara. Ia tidak datang membawa senjata, hanya bahasa. Dengan pilihan kata yang halus, perumpamaan adat, dan ungkapan yang berakar pada nilai pi’il pesenggiri, konflik itu reda.
Sejak itulah orang Lampung tua berkata, “Bahasa bukan sekadar bunyi, ia adalah penjaga adat.” Legenda ini hidup dari generasi ke generasi, menjadi penanda bahwa bahasa Lampung bukan hanya alat komunikasi, melainkan cermin martabat budaya.
Bahasa Lampung lahir dari kehidupan masyarakat adat yang terikat pada struktur marga, kepemimpinan adat, dan nilai spiritual.

Dalam tradisi Lampung, bahasa tidak berdiri sendiri. Ia selalu berjalan bersama adat, sikap, dan tata krama.
Ungkapan adat Lampung menyebutkan: “Pi’il pesenggiri, juluk adek, nemui nyimah, nengah nyappur.”
Ungkapan ini sering ditemukan dalam naskah adat seperti Kitab Kuntara Raja Niti, sebuah manuskrip hukum adat Lampung yang diwariskan secara turun-temurun dalam bentuk tulisan Arab-Melayu dan Lampung kuno.
Secara filosofis, pi’il pesenggiri bermakna harga diri dan kehormatan. Bahasa menjadi alat utama untuk menjaga nilai ini. Cara menyapa, memilih kata, hingga intonasi bicara mencerminkan apakah seseorang menjaga martabat dirinya dan orang lain.

Baca Juga :  Serial Buku Pi’il Pesenggikhi, Falsafah Hidup Orang Lampung. Kata Pengantar Dari 6 Seri Tulisan. Oleh : Mohammad Medani Bahagianda *)

Belajar bahasa Lampung berarti belajar mengelola sikap hidup. Inilah sebabnya masyarakat adat percaya bahwa rusaknya bahasa adalah awal lunturnya adat.
Masyarakat adat Lampung terbagi dalam dua kelompok besar: Saibatin dan Pepadun, masing-masing dengan struktur marga yang kuat. Sejarah marga tidak hanya dicatat melalui silsilah lisan, tetapi juga melalui dokumen adat, hikayat, dan tembaga bertulis.
Salah satu legenda tua menyebutkan asal-usul marga dari keturunan Sekala Brak, wilayah tua di Lampung Barat. Dalam cerita rakyat, para leluhur membawa bahasa sebagai penanda identitas marga. Perbedaan dialek Lampung Api dan Lampung Nyo menjadi bukti bahwa bahasa berkembang mengikuti perjalanan adat.

Dalam naskah adat lama tertulis: “Bahasa sai dipakai jama leluhur, ulah diubah sembarangan, sebab di sanalah adat berteduh.”
Analisis kutipan ini menunjukkan bahwa bahasa diposisikan sebagai rumah adat itu sendiri. Mengubah bahasa tanpa pemahaman adat dianggap sebagai kehilangan arah spiritual. Karena itu, setiap marga menjaga kosakata khas yang mengandung sejarah, status sosial, dan relasi kekerabatan.
Dalam setiap ritual adat Lampung, seperti cangget, begawi, atau pengangkatan penyimbang, bahasa yang digunakan bukan bahasa sehari-hari. Ia adalah bahasa adat yang penuh simbol dan makna.
Contoh ungkapan dalam upacara begawi: “Sai lapah jadi jalan, sai ucak jadi petunjuk.”
Secara harfiah, kalimat ini berarti “yang dilangkahkan menjadi jalan, yang diucapkan menjadi petunjuk.” Filosofinya menekankan bahwa kata-kata memiliki konsekuensi spiritual. Bahasa dipercaya mampu membuka jalan atau menutup keberkahan.
Analisis mendalam menunjukkan bahwa masyarakat Lampung melihat bahasa sebagai energi. Setiap ucapan dalam ritual harus bersih niatnya, tepat susunannya, dan sesuai adat, karena ia berfungsi sebagai penghubung antara manusia, leluhur, dan Yang Maha Kuasa.

Baca Juga :  Buku Seri : Siger, Mahkota Emas yang Menyala dalam Setiap Upacara. Seri - 3: Nemui Nyimah Oleh : Mohammad Medani Bahagianda *)

Dalam keluarga adat Lampung, anak-anak diajarkan bahasa bukan melalui hafalan, melainkan teladan. Orang tua menggunakan peribahasa dan cerita untuk menanamkan nilai.
Salah satu peribahasa Lampung menyebutkan: “Kata sai halus, hati sai lurus.”
Ungkapan ini mengajarkan bahwa kelembutan bahasa mencerminkan kejernihan batin. Pendidikan spiritual dalam masyarakat Lampung tidak terpisah dari bahasa. Setiap kata adalah doa kecil yang membentuk karakter.
Belajar bahasa Lampung dengan cara ini menjadi pengalaman menyenangkan karena penuh cerita, perumpamaan, dan humor adat. Bahasa tidak diajarkan dengan paksaan, melainkan dengan rasa memiliki.

Di era modern, bahasa Lampung menghadapi tantangan besar. Namun, justru di sinilah kekuatannya. Ketika diajarkan dengan pendekatan ringan dan bersahabat, bahasa Lampung menjadi jendela budaya yang menarik.
Seri ini menegaskan bahwa belajar bahasa Lampung bukan beban, melainkan petualangan budaya. Setiap kata membawa sejarah, setiap kalimat menyimpan filosofi, dan setiap ungkapan mengandung nilai spiritual.
Bahasa Lampung adalah cermin budaya karena di dalamnya tercermin cara berpikir, cara menghormati, dan cara memaknai hidup.
Seperti kisah Radin Suttan Pugung di awal cerita, bahasa Lampung mengajarkan bahwa kekuatan sejati terletak pada tutur yang beradat. Selama bahasa ini dipelajari dengan hati, adat akan tetap hidup.
Belajar bahasa Lampung itu menyenangkan karena ia bukan sekadar pelajaran, melainkan perjalanan pulang ke akar budaya.

Baca Juga :  Buku Seri: Pemerintah Tutup Mata atas Krisis Budaya Lampung. Seri 4 – BAHASA LAMPUNG, SUARA YANG SEMAKIN MEREDUP. Oleh: Mohammad Medani Bahagianda *)

Referensi Fisik dan Digital Terverifikasi
* Kitab Kuntara Raja Niti, manuskrip adat Lampung (koleksi museum daerah dan arsip adat).
* Hadikusuma, Hilman. Adat Istiadat Lampung.
* Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Bahasa dan Sastra Lampung.
* Arsip Lisan Penyimbang Adat Lampung Barat dan Lampung Pepadun.

*) Penulis Adalah Saibatin dari Kebandakhan Makhga Way Lima. Gelar Dalom Putekha Jaya Makhga, asal Sukamarga Gedungtataan, Pesawaran. Tinggal di Labuhan Ratu, Bandar Lampung.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini