Luka di Balik Tembok Sekolah: Ketika Ruang Belajar Menjadi Medan Kekerasan Oleh : Devy Sri Rahayu *)

0

nataragung.id – Metro – Sekolah seharusnya menjadi tempat paling aman setelah rumah, sebuah “Baitullah” kecil bagi para pencari ilmu untuk menyemai kasih dan akal budi. Namun, apa jadinya jika di sela-sela jam pelajaran, di saat seorang anak seharusnya belajar tentang adab, yang terjadi justru sebuah tragedi kemanusiaan? Sebuah perjalanan singkat “izin ke kamar mandi” ternyata menjadi awal dari sebuah perjalanan panjang rasa sakit—baik fisik maupun batin—bagi seorang jiwa yang tak berdosa.

Fase Pengkhianatan Rasa Aman.

Seorang anak kelas 1 SD, dengan tubuh kecil dan hati yang masih penuh kepercayaan pada orang dewasa, harus menghadapi kenyataan pahit di sudut tembok yang lancip. Tendangan dari sang kakak kelas bukan hanya mematahkan
tulang, tapi juga mematahkan rasa aman yang selama ini ia bangun. Di titik ini, kita melihat sebuah kontras yang menyayat hati: seorang siswa kelas 5 yang menyalahgunakan kebebasannya, dan seorang guru yang justru memilih untuk membungkam kebenaran daripada menyelamatkan nyawa.

Baca Juga :  Cermin Retak: Kelucuan itu Berakhir Sudah. Oleh : Mukhotib MD *)

Ketidakpedulian yang Lebih Tajam dari Tembok Lancip

Tantangan spiritual
terbesar dalam dunia pendidikan bukanlah kurangnya fasilitas,
melainkan hilangnya empati.Tangis sang anak yang pecah
hingga jam pulang sekolah adalah sebuah “alarm” yang diabaikan oleh mereka yang menyebut diri sebagai pendidik.

Bagaimana mungkin sebuah institusi yang mengajarkan moralitas, justru membiarkan seorang anak menanggung nyeri patah tulang tanpa segera memanggil orang tuanya? Ketidak pedulian guru dan sekolah dalam menunda tindakan medis adalah sebuah kelalaian yang tidak hanya mencederai fisik, tapi juga mencederai integritas profesi keguruan.

Baca Juga :  Tips Anti Sinusitis dan Penyembuhan Tanpa Obat

Transformasi Menjadi Perlawanan: Menuntut Keadilan

Haji adalah tentang siapa yang terus bergerak menuju Allah, dan keadilan adalah bagian dari jalan menuju-Nya. Ketika pihak sekolah mencoba menutup
jalan bagi sang ibu untuk meminta pertanggungjawaban, di sanalah nurani sedang diuji.

Membela pelaku perundungan dengan alasan apa pun adalah bentuk perundungan kedua bagi korban. Kini, langkah sang kakek yang memilih jalur hukum bukanlah sekadar amarah, melainkan sebuah bentuk transformasi dari ketidakberdayaan menjadi perjuangan martabat. Ini adalah pesan keras bagi setiap institusi pendidikan: bahwa nyawa dan kesehatan seorang anak jauh lebih berharga daripada nama baik sekolah yang ditutupi dengan kebohongan.

Baca Juga :  Jajaran Redaksi Majalah Natar Agung Mengucapkan Selamat Hari Sumpah Pemuda. MAJALAH NATAR AGUNG

Kejadian ini menjadi refleksi bagi kita semua. Sekolah tidak boleh menjadi benteng yang melindungi pelaku kekerasan, melainkan harus menjadi pelindung
bagi mereka yang lemah. Karena pada akhirnya, pendidikan yang sesungguhnya bukan dilihat dari megahnya gedung atau akreditasi di atas kertas, melainkan dari
sejauh mana sekolah mampu memanusiakan manusia dan menjaga setiap tulang punggung masa depan bangsa agar tetap tegak, tanpa harus patah oleh tangan-tangan yang tak bertanggung jawab. (*)

>>> Penulis adalah : Mahasiswa Universitas Islam Negeri Jurai Siwo Lampung

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini