Cermin Retak: Kelucuan itu Berakhir Sudah. Oleh : Mukhotib MD *)

0

nataragung.id – Yogyakarta – Munculnya wacana sekolah daring (dalam jaringan) mulai April 2026 untuk menghemat Bahan Bakar Minyak (BBM) cukup mendapatkan perhatian. Pasalnya, selama masa pembelajaran daring itu, murid atau keluarga diminta mengambil paket Makan Bergizi Gratis (MBG) ke sekolah.

“itu artinya pakai BBM juga,” kata Pakde No sambil nyruput kopi hitam tanpa gula racikan Yuk Nah.

Menurut Pakde No, gagasan-gagasan yang disampaikan para pejabat negeri ini memang sering kali terasa aneh, dan tentu saja mengundang senyum dan sebagiannya lagi membuat dahi berkerut bukan karena dimakan usia.

Baca Juga :  Makan Bersama di Waktu Buka. Oleh : Mukhotib MD *)

Saat menjelang puasa kemarin itu, pejabat ada yang bilang selama bulan Ramadan, MBG akan diantar ke rumah menjelang Magrib, Bahkan ada yang bilang juga saat makan sahur.

Gagasan itu pun hilang ditelan kenyataan pahit, dibelit kemustahilan. Almarhum Asmuni pemain senior di Grup Sri Mulat mengatakan situasi ini dengan hil hil yang mustahal. Dan benar, tak jadi terlaksana. Kebijakannya yang memudahkan pengelola dapur saja, dirapel dengan makan kering, dan sebagiannya instan. Kandungan protein dan lainnya mengikuti komposisi dalam kemasan itu. Aman.

Baca Juga :  Apakah Anda Termasuk Penerima Dana PIP...? Cek disini...!!! MAJALAH NATAR AGUNG

Sekolah daring pun kandas, pejabat membatalkan sendiri dengan alasan yang tentu saja dicari-cari agar pemilik gagasan utama tidak terlalu kewirangan. Ibarat peringatan pengusaha transportasi, satu merek tidak boleh saling mendahului. Maka tampilah tiga menteri untuk menjelaskan kenapa gagasan sekolah daring yang hendaknya dimulai awal April 2026 itu batal.

“Tak perlu didiskusikan alasannya, sesuatu yang bisa dicari-cari,” kata Yuk Nah sambil mengiris bawang merah untuk bahan masak lodeh.

Baca Juga :  DUNIA WANITA  - 9 Tips Menjaga Kesehatan Mental, Nomor 9 Paling Sulit

Yuk Nah bahkan mengatakan saat sekarang enggak perlu macam-macam di negeri ini. Pasalnya, sudah turun titah untuk mendata para pengkritik pemerintah, dan akan segera melakukan penertiban.

“Mati lah aku,” kata Pakde No. (*/28)

*) Penulis adalah : Jurnalis dan peneliti senior pada Adicita Swara Publika (ASP) Yogyakarta.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini