nataragung.id – Pemanggilan – Di tengah gemerlap dunia yang sering mengukur manusia dengan harta, kedudukan, dan penampilan, Islam justru menghadirkan timbangan yang berbeda. Bukan kekayaan yang meninggikan derajat, bukan pula jabatan yang memuliakan manusia. Tetapi hati yang ikhlas, jiwa yang bersih, dan ketundukan kepada Allah—itulah ukuran sejati.
Allah Subḥanahu wa Ta‘ala berfirman:
{وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُ وَلا تَعْدُ عَيْنَاكَ عَنْهُمْ}
“Bersabarlah engkau (wahai Muhammad) bersama orang-orang yang menyeru Rabb mereka pada pagi dan petang hari dengan mengharap wajah-Nya, dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka.” (QS. Al-Kahfi: 28)
Ayat ini turun ketika para pembesar Quraisy meminta Nabi Muhammad shalallahu alaihi wasallam agar menjauhkan kaum dhuafa, orang-orang miskin dan lemah dari majelis beliau. Namun Allah menolak keinginan itu. Bahkan Allah memerintahkan Nabi-Nya untuk tetap bersama mereka.
Dari sini kita memahami: kemuliaan di sisi Allah tidak diukur dengan dunia, tetapi dengan iman dan ketulusan.
Tujuh Keutamaan Dhuafa dalam Islam:
1. Mereka Lebih Dekat kepada Allah dengan Keikhlasan
Dhuafa tidak memiliki banyak sandaran dunia, sehingga hati mereka lebih bergantung kepada Allah. Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda:
“إِنَّ اللَّهَ لَا يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ، وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ”
“Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada rupa dan harta kalian, tetapi Dia melihat kepada hati dan amal kalian.” (HR. Muslim)
2. Mereka Sebab Datangnya Pertolongan dan Rezeki
Keberadaan mereka justru menjadi sebab turunnya pertolongan Allah. Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda:
“هَلْ تُنْصَرُونَ وَتُرْزَقُونَ إِلَّا بِضُعَفَائِكُمْ”
“Tidaklah kalian diberi pertolongan dan rezeki melainkan karena (doa dan keberadaan) orang-orang lemah di antara kalian.” (HR. Bukhari)
3. Mereka Lebih Dahulu Masuk Surga
Karena sedikitnya hisab atas harta dunia. Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda:
“اطَّلَعْتُ فِي الْجَنَّةِ فَرَأَيْتُ أَكْثَرَ أَهْلِهَا الْفُقَرَاءَ”
“Aku melihat ke dalam surga, maka aku dapati kebanyakan penghuninya adalah orang-orang fakir.” (Muttafaq ‘alaih)
4. Doa Mereka Lebih Mustajab
Hati yang hancur dan penuh harap lebih dekat dengan ijabah. Dalam makna umum hadits disebutkan bahwa orang yang lemah, yang tidak diperhatikan manusia, jika bersumpah atas nama Allah, maka Allah akan mengabulkannya.
5. Mereka Terjaga dari Fitnah Dunia
Sedikitnya dunia menjadikan mereka lebih selamat dari kesombongan dan kelalaian. Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda:
“اللَّهُمَّ أَحْيِنِي مِسْكِينًا، وَأَمِتْنِي مِسْكِينًا، وَاحْشُرْنِي فِي زُمْرَةِ الْمَسَاكِينِ”
“Ya Allah, hidupkan aku sebagai orang miskin, matikan aku dalam keadaan miskin, dan kumpulkan aku bersama golongan orang-orang miskin.” (HR. Tirmidzi)
6. Mereka Lebih Cepat Hisabnya di Hari Kiamat
Karena sedikitnya harta dan tanggungan dunia. Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda:
“يَدْخُلُ فُقَرَاءُ الْمُسْلِمِينَ الْجَنَّةَ قَبْلَ أَغْنِيَائِهِمْ بِنِصْفِ يَوْمٍ”
“Orang-orang fakir dari kaum muslimin masuk surga sebelum orang-orang kaya setengah hari (yakni 500 tahun).” (HR. Muslim)
7. Mereka Dekat dengan Rasulullah shalallahu alaihi wasallam di Akhirat
Karena kesamaan keadaan dan kesabaran dalam hidup. Rasulullah shalallahu alaihi wasallam mencintai orang-orang miskin dan duduk bersama mereka, sebagaimana diperintahkan dalam ayat tadi.
Sebab itu, Jangan pernah meremehkan orang yang sederhana pakaiannya, yang lemah penampilannya, atau yang tak dikenal namanya.
Bisa jadi, di sisi Allah, mereka jauh lebih tinggi derajatnya daripada kita.
Mereka yang duduk di sudut masjid, yang berdoa dalam diam, yang menangis di sepertiga malam, itulah hamba-hamba pilihan.
Maka hormatilah mereka. Dekatilah mereka. Dan jangan pernah mengusir mereka dari kehidupan kita…
Karena bisa jadi,
di antara mereka ada doa yang mengangkat langit, dan karena mereka. Semoga Allah menurunkan rahmat-Nya kepada kita semua.
Wallāhu a‘lam. (KIS)
*) Penulis adalah Anggota Majelis Pertimbangan Dewan Dakwah Islam Indonesia Propinsi Lampung, tinggal di Pemanggilan, Natar.

