Cermin Retak: Dari Mulia Kini Terhina. Oleh : Mukhotib MD *)

0

nataragung.id – Yogyakarta – Senja mengalir perlahan menciumi wajah bukit dan daun-daun pohon di punggungnya. Sepasang burung kutilang tampak menyiapkan tempat hangat bagi tiga anaknya yang seminggu lalu baru menetas.

Beberapa warga tampak bercengkerama di jalan desa. Entah apa yang diomongkan, tetapi mendengar tawanya yang renyah mungkin sedang mendiskusikan hal yang menyenangkan.

Di perempatan jalan desa itu mereka berbelok ke arah kanan. Tak ada tujuan lain, bisa dipastikan mereka hendak menuju warung kopi Yuk Nah. Sebenarnya enggak hanya kopi, di warung kecil di kaki Bukit Suraiya juga menyediakan beragam masakan dengan cita rasa rumahan.

Yui Nah tampak sedang sibuk menggoreng pisang kepok kuning dengan wajan besi yang teramat usianya. Banyak warga tahu itu warisan dari nenek Yuk Nah.

Pisang goreng itu menggeliat, dan mendesis memperdengarkan orkestra kriuk yang menggoda iman siapa pun yang lewat. Bahkan lebih menggiurkan ketimbang godaan setan.

Bayangkan, pisang goreng itu tampak kering dengan balutan tepung tipis, tetapi dalamnya begitu luker dan manis legit. Persis janji-janji reformasi yang diperjuangkan mahasiswa. Namun, akhirnya membeku, dan begitu alot dimakan waktu.

“Kopimu, Pakde Kliwon. Kurangi gulanya, biar kamu ingat kalau hidup ini memang pahit,” kata Yuk Nah sambil menyorongkan gelas ke depan Pakde Kliwon.

Pakde Kliwon, dulu saat mahasiswa begitu lantang berorasi di depan gedung DPR RI tahun 1998. Pada usianya yang makin renta kini hanya bisa menghela napas menyaksikan negeri yang terus berlayar menuju lautan gelap.

Baca Juga :  Rahasia Siswa Fokus: Bukan Bakat, Tapi Kebiasaan Oleh: Gea Oktaviana Safitri *)

Rambutnya yang mulai memutih tampak kontras dengan jaket almamater usang yang sesekali masih ia pakai.

Ia menatap Yuk Nah dengan tatapan yang masih sama seperti dua puluh enam tahun lalu. Sebuah tatapan penuh kekaguman yang selalu mental ketegasan Yuk Nah. Yuk Nah, sang aktivis perempuan yang kini lebih memilih “berpolitik” lewat takaran kopi, tak pernah memberi celah bagi sentimentalisme Kliwon.

Aku duduk di sudut, menyesap kopi hitamku yang pekat. Dan tentu saja tanpa gula. Sebagai sesama saksi sejarah kerusuhan Mei, aku lebih suka menjadi penonton bagi dinamika mereka berdua. Bagiku, dialog mereka adalah radar paling akurat untuk membaca moral bangsa ini.

“Sudah dengar kabar dari Pati, tentang Kiai cabul itu?”

Pakde Kliwon membuka pembicaraan. Suaranya terdengar berat, seolah menjadi tumpukan para santriwati yang dihancurkan masa depannya, harapan-garapannya.

“Ditangkap di Wonogiri. Sembunyi di balik perbukitan. Mungkin dianggapnya dalam otak berpasirnya Tuhan lupa mampir ke sana.”

Yuk Nah mendengus, tangannya gesit mengangkat pisang goreng dari wajan leluhur itu. “Pengasuh pesantren katanya. Pemimpin spiritual?”

Sungguh satir sekali hidup ini. Dia bicara surga di depan mimbar, tapi tangannya sibuk membuka pintu neraka bagi anak-anak di bawah umur. Pakai dalil pula, barang kali?”

Baca Juga :  Kenapa Legalitas Usaha Menjadi Kunci Sukses Bisnis Anda? - MAJALAH NATAR AGUNG

“Kejahatan yang luar biasa. Menggunakan agama sebagai alat melakukan kejahatan seksual,” lanjut Pakde Kliwon.

“Dulu kita lawan diktator, kita harus melawan predator kelamin. Penjahat kelamin,” kata Yuk Nah. Suaranya terdengar penuh emosi pakai bedil.

Menurutku, inilah ironi tertinggi kita. Seorang yang dianggap suci, melarikan diri ke Wonogiri tanah thiwul dan Gajah Mungkur. Bukan untuk menyepi mencari ampunan Gusti, tetapi ketakutan menghadapi hukuman duniawi.

Dia yang biasa disalami dan ciuman tangan wolak-walik, berakhir digelandang dengan kedua tangannya diborgol.

“Kenapa harus Wonogiri?” tanyaku menengahi. “Apa dia kira dengan bersembunyi dosa seberat gunung itu bisa mengecil jadi seukuran butiran biji sawi?”

“Dia lupa, anak perempuan sekarang tidak lah selemah seperti yang ada dalam benaknya,” kata Yuk Nah.

Yuk Nah bilang, pencabul itu tak tahu, alasan-alasan agamanya untuk melakukan kekerasan seksual akan terus mempan dan dipercaya.

“Para santri putri itu tidak lagi cuma menangis di pojokan kamar. Mereka melawan. Dan si pengasuh pesantren itu, hanya pengecut dan biadab.”

Pakde Kliwon mengambil satu pisang goreng panas, meniupnya pelan. Ia menggumam, sebagai pengasuh pesantren seakan ia merasa memiliki otoritas atas tubuh orang lain dengan memanfaatkan relasi kuasa dengan para santrinya.

Pakde Kliwon menatap Yuk Nah lagi, “andai dulu kamu terima, mungkin aku sudah jadi Anggota DPR, dan membuat UU untuk membunuh orang-orang seperti Asyhari ini.”

Baca Juga :  Tetap Sehat dan Bugar di Musim Pancaroba, Yuk Coba 5 Tips Ini! - Majalah Natar Agung

Yuk Nah tersenyum simpul, dan membuat Pakde Kliwon tersipu. “Kalau aku terima kamu, siapa yang bakal bikin kopi pahit ini? Siapa yang bakal mengingatkanmu kalau aktivisme itu bukan soal jabatan, tapi soal menjaga kewarasan di tengah dunia yang makin gila? Makan saja pisangmu itu, jangan banyak berkhayal.”

Aku tersenyum. Di warung kopi Bluwangan ini, keadilan mungkin belum tegak sepenuhnya. Asyhari mungkin sudah tertangkap di Wonogiri.

Namun sistem yang melahirkannya masih begitu kokoh, dan akan terus berulang manakala tak ada upaya mengubah sistem yang adil bagi perempuan

Namun, selama masih ada Yuk Nah yang menjaga ketajaman lidahnya, dan Pakde Kliwon yang masih setia dengan keresahannya, setidaknya nurani kita belum benar-benar habis disantap kemunafikan.

Pisang goreng itu akhirnya habis, menyisakan remah-remah di piring, persis seperti martabat sang pemimpin pesantren yang kini hancur berkeping-keping di tangan hukum.

Pahit kopi dan manis pisang adalah kombinasi yang pas untuk merayakan tertangkapnya seorang penjahat kelamin. ***

*) Penulis adalah : Jurnalis dan peneliti senior pada Adicita Swara Publika (ASP) Yogyakarta.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini