nataragung.id – Kota Metro – Di tengah riuhnya notifikasi dan tuntutan akademi, fokus menjadi “barang langka” bagi banyak siswa. Di satu sisi, ada yang mampu duduk tenang dan menyerap pelajaran dengan baik. Di sisi lain, tidak sedikit yang baru belajar beberapa menit sudah terdistraksi. Apakah ini soal bakat?
Dalam perspektif psikologi pendidikan, jawabannya tidak sesederhana itu. Fokus adalah bagian dari kemampuan kognitif yang disebut attention. Dan kabar baiknya, kemampuan ini bisa dilatih. Artinya, siapapun berpeluang untuk meningkatkan konsentrasi, asalkan memiliki kebiasaan yang tepat.
Banyak siswa yang sulit fokus bukan karena tidak mampu, tetapi karena terbiasa belajar tanpa pola. Membuka buku sambil mengecek ponsel, belajar tanpa jadwal, atau menunda-nunda tugas membuat otak tidak berkonsentrasi dalam waktu lama. Ditambah lagi, tekanan akademik dan rasa cemas seringkali membuat pikiran “penuh”, sehingga sulit untuk benar-benar hadir dalam proses belajar.
“Dalam psikologi pendidikan, fokus bukanlah bawaan lahir, melainkan hasil dari kebiasaan, motivasi, dan lingkungan belajar yang dibentuk secara terus menerus.”
Di era digital, tantangan ini semakin kompleks. Otak terbiasa dengan rangsangan cepat dari media sosial, sehingga aktivitas belajar yang membutuhkan kesabaran tersasa membosankan. Inilah yang dalam psikologi disebut sebagai divided attention, dimana perhatian terus terbagi dan sulit menetap pada satu hal.
Namun, fokus bukan sesuatu yang mustahil untuk dibangun. Kebiasaan sederhana seperti mengatur waktu belajar, menjauhkan distraksi, dan menciptakan lingkungan yang nyaman dapat membantu otak bekerja lebih optimal. Selain itu, membangun motivasi dari dalam diri juga menjadi kunci agar perhatian bisa bertahan lebih lama.
Pada akhirnya, fokus bukanlah anugerah yang dimiliki sebagian orang saja. Ia adalah hasil dari proses, latihan, dan kebiasaan yang dibentuk setiap hari. Dengan memahami cara kerja pikiran, setiap siswa memiliki kesempatan yang sama untuk berkembang dan belajar secara lebih efektif. (*)
*) Penulis Gea Oktaviana Safitri, Mahasiswa Semester Dua, Universitas Islam Negeri Jurai Siwo Lampung.

