nataragung.id – Jakarta – Kali ini saya benar-benar tercengang oleh pernyataan politikus bangkotan Amien Rais melalui video terbarunya. Bukan kagum, tetapi coba memeras tanya benarkah itu ucapan seorang “negarawan”? Atau memang harus seperti itulah “Sengkuni” sebagaimana label yang disematkan kepadanya bekerja dan berkata-kata?
Oke deh soal isu ijazah palsu Jokowi, Amin berdiri di garis paling depan dalam membela tersangka Roy Suryo dan kawan-kawan karena kebenciannya kepada Jokowi dan keluarga yang sepertinya hendak dibawa sampai mati, itu masih masuk akal.
Lha ini tuduhan keji terhadap Teddy Indra Wijaya, ajudan terdekat Presiden yang disebutnya “gay” dan meminta Prabowo Subianto menjauhinya sejauh mungkin. “Tendang Teddy sejauh mungkin, Pak Prabowo,” pintanya.
Satu kata: gila!
​Amien “is back”, memainkan peran yang barangkali paling ia kuasai, yakni provokator narasi. Sasarannya bukan lagi kebijakan negara atau legitimasi ijazah, seperti saya singgung tadi, melainkan sesuatu yang jauh lebih privat dan personal.
Melalui video yang viral di jagat maya, politikus gaek ini melontarkan tuduhan tajam terhadap Teddy. Dengan nada menghakimi, Amien menuding adanya orientasi seksual “menyimpang” dan meminta Sang Presiden segera menjauh. Bahkan kata “gay” Amien ucapkan beberapa kali. ‘Te ereg!’
​Langkah Amien ini bukan sekadar kritik politik, melainkan sebuah serangan “ad hominem” yang ibarat memukul bagian terlarang dalam laga UFC, off side dalam permainan sepak bola. Ia membangun drama insinuatif untuk membingkai narasi bahwa Prabowo harus diselamatkan dari staf terdekatnya itu.
​Sikap Amien yang memosisikan diri seolah-olah “polisi moral” ini sungguh tidak substansial. Mempersoalkan orientasi seksual seseorang di ruang publik untuk menjatuhkan kredibilitas politik adalah langkah yang tidak adil dan dangkal. Ini bukan kritik, melainkan tudingan keji. Tidak tanggung-tanggung, yang ia tuding itu seorang Presiden.
Pertanyaannya kemudian, mengapa Amien memilih narasi ini?
​Spekulasi yang mengemuka adalah ketakutan. Amien tidak cukup berani menyerang Prabowo secara langsung sebagai pemegang otoritas tertinggi, maka ia memilih memukul “sasaran antara” yang dianggap lebih lemah.
Ini adalah pola lama. Seperti halnya isu ijazah palsu Jokowi yang terus ia produksi, Amien tampaknya sedang berupaya menjaga relevansi dirinya di usia senja. Ia memproduksi isu murahan demi memanen perhatian agar tetap dikenang, meski dengan cara yang merendahkan martabat orang lain.
​Bahaya terbesar dari manuver Amien Rais bukan hanya pada pembunuhan karakter terhadap Teddy, melainkan efek pengalihan isu yang sistematis. Saat publik disuguhi “kafein” —kalau kata “candu” terlalu kasar— perdebatan soal kelamin dan moralitas personal, kita lupa mempertanyakan hal-hal yang jauh lebih mendesak bagi kelangsungan bangsa.
Sebut saja yang paling nampak di depan mata soal ​ancaman kebangkrutan fiskal akibat neban subsidi yang membengkak dan risiko default yang menghantui anggaran negara.
Energi kritik lebih bermanfaat ditujukan pada pogram mercusuar yang boros meski dengan dalih membela kepentingan rakyat, biar rakyat tidak kelaparan dan biar ekonomi rakyat bergerak. Juga mengeritik anggaran pertahanan yang tidak pernah kita ketahui secara transparan, itu lebih bermanfaat agar publik tercerahkan. “Mengeritik” orientasi seksual ajudan terdekat Presiden? Come on!
​Dengan melemparkan isu orientasi seksual, Amien secara sadar atau tidak tengah memberikan karpet merah bagi sentimen fasisme dan diskriminasi. Narasi anti-LGBT yang sengaja atau tidak ia tiupkan berpotensi memicu persekusi nyata di lapangan terhadap kelompok minoritas. Bagi Amien, barangkali itu hanyalah “ongkos politik”, namun bagi kemanusiaan, itu adalah luka besar.
Apa yang Harus Prabowo Lakukan?
​
​Presiden Prabowo Subianto kini dihadapkan pada ujian martabat. Tuduhan Amien Rais tidak bisa dianggap angin lalu karena secara implisit merendahkan kewibawaan Presiden, seolah-olah ia adalah figur yang mudah disetir oleh stafnya melalui kedekatan personal yang dituduhkan.
​Prabowo tidak perlu terjebak dalam kubangan narasi yang sama. Cara terbaik untuk merespons serangan rendahan ini bukanlah dengan debat moralitas, melainkan dengan ketegasan profesionalisme.
Prabowo harus menunjukkan bahwa basis penempatan orang-orang di sekelilingnya adalah loyalitas dan kompetensi, bukan urusan ranjang atau orientasi seksual yang bersifat privat.
​Membiarkan tuduhan ini terus liar hanya akan memberi panggung bagi politik identitas yang merusak seperti Amien. Sudah saatnya energi bangsa ditarik kembali dari urusan selangkangan menuju urusan kedaulatan pangan, energi, dan keadilan sosial yang sesungguhnya.
Politik harusnya memuliakan manusia, bukan menjadi alat untuk menguliti privasi demi ambisi.
Apa yang sesungguhnya kau cari, Pak Tua?
***

