Saatnya Pancasila Turun ke Jalan, Bukan Hanya ke Upacara

0

Oleh : Gunawan Handoko.
Dewan Pakar Forum Literasi Lampung, mantan Aktivis Organisasi Pemuda

nataragung.id – Bandar Lampung – SETIAP 1 Juni diperingati sebagai hari lahirnya Pancasila dengan digelar upacara resmi serentak dari pusat hingga pelosok. Bendera Merah Putih berkibar, pidato resmi dibacakan, dan lagu kebangsaan Indonesia Raya dinyanyikan dalam sikap sempurna.
Seremoni peringatan hari lahir Pancasila sebagai dasar negara selalu berjalan khidmat. Tema peringatan tahun 2026 adalah Pancasila Pemersatu Bangsa, Fondasi Perdamaian Dunia.

Tema ini menjadi pengingat akan peran penting Pancasila sebagai alat pemersatu bangsa, pedoman moral di tengah dinamika global. Tapi mari kita jujur: kalau Pancasila hanya berhenti di lapangan upacara, maka ia akan jadi tanggal merah tanpa napas. Padahal tantangan hari ini jauh lebih pelik dari sekadar melafalkan lima sila. Ada ancaman degradasi moral, lunturnya semangat persatuan dan kesatuan, dan jarak yang semakin lebar antara nilai luhur bangsa dengan bahasa anak muda. Di titik inilah urgensi internalisasi Pancasila kepada generasi muda menjadi krusial. Bukan sekedar mengajarkan hafalan, tetapi mengemas nilai-nilai itu agar menjadi kekinian, mudah diterima dan dirasakan manfaatnya dalam kehidupan sehari-hari. Mari jujur, banyak siswa hari ini menganggap Pancasila hanya sebagai mata pelajaran yang membosankan. Mereka hafal urutan sila, tapi tidak merasa terhubung dengan Pancasila. Maka tidak perlu heran jika aksi tawuran pelajar antar sekolah masih terus terjadi hingga sekarang. Penyebabnya sederhana, cara kita menyampaikan Pancasila masih terlalu formal, terlalu jauh dari dunia mereka. Sementara itu, ruang utama anak muda sekarang adalah media sosial. Disanalah mereka membentuk opini, berdebat, bertengkar, bersimpati, dan membangun identitas. Sayangnya, di ruang itu pula lah hoaks menyebar cepat, bullying dianggap sesuatu yang lucu, dan empati sering kalah dengan popularitas.

Inilah tantangan moral anak muda di luar pagar sekolah yang semakin nyata. Disinilah letak urgensi yang sering luput dari peringatan 1 Juni. Bukan sekedar mengenang hari lahirnya Pancasila, tapi juga bertanya: sudah sejauh mana nilai-nilai itu hidup di setiap kepala dan hati generasi muda kita? Hampir semua pelajar hafal urutan lima sila, tapi ketika ditanya bagaimana Pancasila dipakai dalam kehidupan sehari-hari, jawabnya sering mentok di belum tahu Pak. Ketika ditanya apa yang diketahui tentang Pancasila, ada yang menjawab baik-baik saja Bu. Penyebabnya bukan karena anak muda kita apatis, tapi karena cara kita menyampaikan Pancasila masih terlalu formal dan terlalu jauh dari bahasa mereka. Sementara ruang utama anak muda sekarang ada di Facebooks, di Tik Tok, instagram, dan group WhatsApp. Kalau sila kedua Kemanusiaan yang Adil dan Beradab tidak diterjemahkan ke dalam cara berkomentar yang santun di media sosial, maka Pancasila akan kalah dengan tren kekinian. Kalau sila ketiga Persatuan Indonesia tidak dipraktikkan saat merespons perbedaan di komunitas, maka persatuan hanya jadi pajangan dan slogan. Kalau sila kelima Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia menuntut tumbuhnya rasa empati dan semangat gotong royong, kini telah hambar. Padahal di masa lalu, gotong royong merupakan tradisi dan budaya yang kuat bagi bangsa Indonesia. Tapi di tengah arus individualisme dan gaya hidup instan, semangat itu semakin luntur. Masyarakat kita termasuk kaum muda lebih memilih cuek ketika diajak bergotong royong. Mereka merasa bukan menjadi urusannya, padahal sila kelima menuntut sebaliknya. Contoh sederhana, ketika lurah dan RT mengajak gotong royong bersih-bersih lingkungan, masihkah masyarakat mau mengikutinya? Banyak masyarakat yang memilih diam dirumah sambil mengintip dari balik kaca jendela, siapa saja yang sibuk membersihkan siring di depan rumahnya.
Ketika warung tetangga mengalami kesusahan, masihkah mereka mau belanja lokal? Kalau jawabnya mulai ragu, berarti ada yang salah dengan cara kita menanamkan Pancasila.

Baca Juga :  CERMIN RETAK : Musyawarah Aktivis Gaek. Oleh : Mukhotib MD *)

Pemerintah melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan sudah mendorong penguatan pendidikan karakter siswa. Tapi kerja besar ada ditangan kita semua: sekolah, keluarga, media, dan komunitas serta seluruh elemen masyarakat. Pancasila harus di kemas ulang agar menjadi kekinian. Pertama, gunakan media yang dipakai anak muda. Daripada hanya pasang poster di mading, dorong chalenge #PancasilaInAction di Tik Tok. Tantangannya sederhana: tunjukkan satu aksi nyata mengamalkan sila Pancasila dalam kurun waktu satu minggu. Kedua, hubungkan Pancasila dengan isu yang mereka rasakan. Sila pertama bisa dibahas lewat kebebasan berekspresi di media sosial. Sila keempat bisa dihidupkan lewat debat sehat di OSIS. Sila kelima bisa didekatkan lewat kepedulian pada harga sembako, dan nasib pedagang kaki lima di pasar-pasar tradisional. Ketiga, tunjukkan contoh nyata dari lingkungan mereka. Proses pemipihan pengurus OSIS yang adil dan terbuka, Karang Taruna yang rutin kerja bakti dilingkunganya, komunitas pemuda yang terjun membantu korban banjir, dan kegiatan sosial yang lain.

Baca Juga :  CERMIN RETAK : Apakah Ada Pembusukan terhadap Kekuasaan Prabowo? Oleh : Mukhotib MD *)

Maka 1 Juni seharusnya bukan hanya upacara, tapi harus jadi momentum evaluasi: sudah sejauh mana kita membuat Pancasila relevan bagi anak cucu kita sendiri, khususnya anak muda. Sebaliknya, kalau Pancasila hanya dihafal tetapi tidak dipraktikkan, maka ia akan luntur bukan karena diserang ideologi asing, tapi karena kita gagal menjadikannya bahasa sehari-hari generasi penerus. Sudah saatnya Pancasila turun dari mimbar upacara, selanjutnya turun ke jalan, ke gawai, dan turun ke hati anak muda. Karena masa depan bangsa tidak ditentukan oleh seberapa khitmad kita saat mengikuti upacara 1 Juni, tapi lebih ditentukan oleh seberapa dalam Pancasila hidup dalam tindakan kita hari ini. Pancasila memiliki posisi yang bervariasi di dalam struktur negara dan bangsa Indonesia, yakni sebagai dasar negara, ideologi nasional, pandangan hidup dan pemersatu bangsa. Jujur harus diakui, sejak bergulirnya reformasi 1998, Pancasila seolah-olah tenggelam dalam pusaran sejarah masa lalu yang tidak lagi relevan untuk disertakan dalam dialektika reformasi.

Baca Juga :  Media Siber Indonesia, Berdaulat atau Cuma Penonton? Oleh: Junaidi Ismail, SH | Wartawan Utama

Pancasila seolah-olah hilang dari memori kolektif bangsa. Pancasila semakin jarang diucapkan dan di bahas, baik dalam konteks kehidupan ketatanegaraan, kebangsaan maupun kemasyarakatan. Pancasila seperti tersandar di sebuah lorong sunyi, justru di tengah denyut kehidupan bangsa Indonesia yang semakin hiruk pikuk dengan demokrasi dan kebebasan berpolitik. Para politisi tidak lagi memperhatikan etika dan esensinya dalam berpolitik. Politik bukan lagi sebagai usaha dan ihtiar untuk mengusahakan kesejahteraan bersama dalam tata sosial yang lebih baik, namun berubah menjadi pertikaian berebut kekuasaan dan adu kepentingan untuk memenangkan hasrat berkuasa. Politik tanpa etika saat ini menggejala tajam, segala cara dilakukan demi untuk mencapai ambisi kekuasaan. Realitas ini tentu sangat berbenturan dengan nilai-nilai luhur Pancasila sekaligus sebagai bentuk pengingkaran konkret terhadap komitmen kebangsaan yang telah puluhan tahun terbentuk. Padahal di masa lalu bangsa Indonesia di kenal sebagai bangsa yang memiliki sikap toleransi dan gotong royong yang menjadi karakter asli bangsa ini. Namun saat ini memudar karena penetrasi pemikiran dan tindakan pragmatis pada diri orang per orang.

Harus kita akui bahwa demoralisasi telah melanda negeri ini, dimana nilai-nilai moral telah semakin menipis. Rasa nasionalisme masyarakat Indonesia saat ini mengalami ambiguitas, yang pada akhirnya terjadi degradasi nasionalisme. Perlu pengakuan secara jujur bahwa kita telah banyak kehilangan jati diri bangsa. Hari ini bangsa Indonesia sedang mengalami patologi sosial yang amat kronis. Sebagian besar masyarakat telah tercerabut dari peradaban easterisasi atau ketimuran yang beradab, santun dan religius. Kita seperti sedang berjalan di alam yang gelap gulita, satu sama lain saling bertabrakan atau sengaja untuk bertabrakan. Mengapa semua bisa terjadi? Jawabnya adalah bahwa kita telah meninggalkan Pancasila sebagai pandangan hidup. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini