Bumi Lampung dan Cara Hidup Orangnya. Seri 2 – Hidup Bersama Keluarga. Oleh: Mohammad Medani Bahagianda *)

0

nataragung.id – Bandar Lampung – Dahulu kala, para leluhur kami… menuturkan kisah tentang sebuah keluarga kecil di tepian Way Seputih. Alkisah, hiduplah seorang gadis bernama Sari yang kerap dimarahi ibunya karena pulang terlambat. Suatu senja, Sari duduk termenung di bawah pohon nangka. “Bu, kenapa aku tak boleh bermain lama seperti teman-temanku?” tanyanya. Sang ibu tersenyum, lalu membisikkan sesuatu yang tak pernah Sari lupakan seumur hidup: “Nak, dalam adat kita, rumah itu seperti tajau (tempayan besar) pusaka. Jika retak sedikit, seluruh air di dalamnya akan kering. Kamu adalah air di tajau keluarga kami. Jaga dirimu, karena keluargalah yang akan menjagamu.”

Dari situlah Sari paham, rumah bukan sekadar tumpukan kayu beratap ijuk. Rumah adalah istana kecil tempat Pi’il Pesenggiri (harga diri) pertama kali diajarkan, tempat seorang anak belajar memanggil “Ayah” dengan suara lembut dan “Ibu” dengan penuh hormat. Maka mari kita berjalan bersama melintasi ruang-ruang hangat keluarga Lampung, tempat nilai kebersamaan, gotong royong, dan saling menghormati dirajut sejak subuh hingga malam tiba.

Bagi masyarakat Lampung, baik yang menganut Pepadun maupun Saibatin, keluarga adalah segalanya. Di rumah-rumah panggung yang dahulu berdiri tanpa paku, penghuninya hidup dalam harmoni yang teratur. Sejak matahari terbit, sang ayah yang dikenal sebagai tulang gagah (pilar utama) pergi ke ladang atau sawah. Sang ibu, yang disebut indu, mengatur dapur, mendidik anak, dan tak pernah sungkan menyapa tetangga yang lalu. Dalam naskah kuno yang disebut Kuntara Raja Niti, tersurat: “Anak tek dilom hayun, indu tek dilom suwami.” Artinya, anak di dalam ayunan, ibu di dalam kehangatan suami. Maknanya: satu keluarga ibarat benang yang ditenun. Tak ada sehelai benang yang lebih mulia dari yang lain.
Menariknya, falsafah Nemui Nyimah (keramahan dan saling memberi) sudah dimulai dari dalam rumah sendiri. Seorang anak diajari untuk menyebut gelar kehormatan, Juluk-Adok, saat menyapa kerabat yang lebih tua. Ini bukan sekadar formalitas. Ini adalah sekolah pertama tentang penghormatan.
Menurut adat, jika seorang anak bisa menyapa Pay (paman) dan Mak (bibi) dengan benar, maka ia akan mudah menunduk saat berjalan di hadapan orang banyak.

Baca Juga :  Nemui Nyimah, Tangan Terbuka di Era Tertutup. Oleh: Mohammad Medani Bahagianda *)

Di malam hari, ketika lampu minyak menyala samar, biasanya keluarga akan berkumpul di beranda belakang. Di sanalah anak-anak mendengar petuah-petuah bijak dari orang tua. Seorang tetua adat di daerah Abung pernah berkata: “Jangan pandang harta kawanmu, tapi lihat bagaimana ia menghormati ibunya.” Petuah ini bukan sekadar nasihat, tetapi menjadi prinsip hidup yang mengajarkan anak-anak untuk menghargai karakter daripada materi.
Dalam masyarakat Lampung, pendidikan karakter dimulai dari tengah rumah. Ada empat pilar utama yang diajarkan: tata krama sopan santun, kedisiplinan, nilai keagamaan, serta kerukunan dan kemandirian. Di sinilah Sakai Sambayan (gotong royong) pertama kali dipraktikkan, bukan saat membangun jembatan desa, melainkan saat kakak membantu adik mengerjakan tugas atau saat ibu mengajak anak-anaknya membereskan pekarangan bersama.

Saya jadi ingat anekdot dari seorang teman di Krui. Katanya, neneknya dulu sering berkata, “Kalau kau lihat kayu di halaman berserakan, jangan tunggu ayahmu menyuruh. Ambil dan susun.” Inilah Pi’il Pesenggiri yang sesungguhnya: harga diri itu lahir dari kerja kecil yang dilakukan tanpa pamrih.
Tidak lengkap rasanya membicarakan keluarga tanpa membahas bagaimana sebuah keluarga baru dimulai. Masyarakat Lampung memiliki cara unik yang tetap dalam koridor adat dan syarak. Dalam masyarakat Pepadun, dikenal tradisi Sebambangan, sebuah prosesi di mana bujang dan gadis yang saling mengenal mengambil langkah berani untuk menyatukan diri, namun tetap dengan persetujuan keluarga setelah melalui proses ngantak salah (meminta maaf secara adat) dan sujud balak (permohonan maaf besar). Di sisi lain, masyarakat Saibatin lebih sering menjalankan Nyakak, yaitu pemberian uang jojokh dari pihak laki-laki kepada keluarga perempuan sebagai bentuk penghormatan.

Baca Juga :  BADIK, Pelindung Harkat dan Harga Diri dalam Tradisi Lampung. Buku – 5: Kisah dari Masa Lalu, Badik dalam Cerita Rakyat dan Peristiwa Bersejarah. Oleh : Mohammad Medani Bahagianda *)

Penting untuk dipahami, baik Sebambangan maupun Nyakak, keduanya sama sekali tidak bertentangan dengan ajaran Islam. Sebaliknya, tradisi ini memperkuat prinsip ta’aruf (saling mengenal) dan musyawarah yang diajarkan Al-Qur’an. Dalam prosesi ini, tidak ada paksaan. Yang ada adalah saling menghormati antara dua keluarga besar, sebuah bentuk nyata dari Nengah Nyappur (keterbukaan dan bersosialisasi).
Bahkan Islam sendiri memuliakan institusi keluarga. Rasulullah SAW bersabda, “Nikah adalah sunnahku. Barangsiapa tidak mengamalkan sunnahku, tidak termasuk golonganku.” (HR. Ibnu Majah).

Tradisi adat yang mengantarkan pada pernikahan adalah jalan menuju sunnah tersebut. Inilah bukti bahwa adat Lampung dan syariat berjalan beriringan.
Dalam keluarga Lampung, kita bisa menyaksikan miniatur Indonesia. Sila ke-2, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, tercermin dari kasih sayang orang tua kepada anak tanpa pilih kasih. Sila ke-3, Persatuan Indonesia, tercermin dari semangat Sakai Sambayan yang melampaui batas marga. Sila ke-4, Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan, tercermin dari musyawarah kecil saat menentukan keperluan rumah tangga. Dan sila ke-1, Ketuhanan Yang Maha Esa, tercermin dari doa bersama sebelum anak-anak keluar rumah menuntut ilmu.

Di sinilah pentingnya memahami bahwa nilai-nilai luhur keluarga Lampung sejalan dengan Al-Qur’an. Allah SWT berfirman dalam QS. Luqman: 13-14,
وَاِذْ قَالَ لُقْمٰنُ لِابْنِهٖ وَهُوَ يَعِظُهٗ يٰبُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللّٰهِۗ اِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيْمٌ وَوَصَّيْنَا الْاِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِۚ حَمَلَتْهُ اُمُّهٗ وَهْنًا عَلٰى وَهْنٍ وَّفِصَالُهٗ فِيْ عَامَيْنِ اَنِ اشْكُرْ لِيْ وَلِوَالِدَيْكَۗ اِلَيَّ الْمَصِيْرُ

wa idz qâla luqmânu libnihî wa huwa ya‘idhuhû yâ bunayya lâ tusyrik billâh, innasy-syirka ladhulmun ‘adhîm, wa washshainal-insâna biwâlidaîh, ḫamalat-hu ummuhû wahnan ‘alâ wahniw wa fishâluhû fî ‘âmaini anisykur lî wa liwâlidaîk, ilayyal-mashîr.

“(Ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, saat dia menasihatinya, “Wahai anakku, janganlah mempersekutukan Allah! Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) itu benar-benar kezaliman yang besar.”, Kami mewasiatkan kepada manusia (agar berbuat baik) kepada kedua orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah dan menyapihnya dalam dua tahun. (Wasiat Kami,) “Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu.” Hanya kepada-Ku (kamu) kembali.”

Baca Juga :  Perkawinan Adat di Zaman Modern. Oleh : Mohammad Medani Bahagianda *)

Ayat inilah yang diamalkan setiap hari oleh keluarga Lampung: mengajarkan tauhid sejak dini, dan berbakti kepada ibu bapak selamanya.
Tentu zaman sudah berubah. Rumah panggung kini berganti tembok beton. Namun semangat Pi’il Pesenggiri tidak boleh lapuk. Saya pernah bertemu dengan seorang pemuda Lampung di perantauan. Ketika ditanya, “Dari mana asalmu?” Ia menjawab dengan bangga menyebutkan marga dan kampungnya hingga ke tiyuh (dusun) paling kecil. Itulah Pesenggiri, harga diri yang membuat ia tetap rendah hati tetapi tidak pernah kehilangan akar.
Keluarga bukan sekadar tempat kembali. Di Bumi Lampung, keluarga adalah sekolah pertama adab, tempat Juluk-Adok disandang, tempat Nemui Nyimah dipelajari, laboratorium Nengah Nyappur, dan bengkel Sakai Sambayan yang tak pernah tutup. Maka jagalah keluarga Anda. Karena dari sanalah bumi Lampung yang sesungguhnya berdiri tegak. (*)

Referensi:
1. Tradisi Sebambangan dalam Masyarakat Adat Lampung, RRI.co.id, 2024
2. Penanaman Nilai Piil Pesenggiri Orang Tua Terhadap Anak, UIN Sunan Kalijaga, 2023
3. Pembinaan Budaya dalam Lingkungan Keluarga di Daerah Lampung, Kemdikbud, 1993
4. Serial Buku Pi’il Pesenggikhi, Falsafah Hidup Orang Lampung, Pemerintah Provinsi Lampung, 2022
5. Warisan Bukan Harta, Tapi Nilai, Pemerintah Provinsi Lampung, 2022
6. Tradisi Nyakak dan Sebambangan, Pilar Kebangsaan, 2024.

*) Penulis Adalah Saibatin dari Kebandakhan Makhga Way Lima. Gelar Dalom Putekha Jaya Makhga, asal Sukamarga Gedungtataan, Pesawaran. Tinggal di Labuhan Ratu, Bandar Lampung.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini