nataragung.id – Bandar Lampung –
Legenda di Balik Kuali Besar
Dahulu kala, para leluhur kami di pesisir Lampung memiliki sebuah kebiasaan yang tak pernah pudar. Ketika musim panen tiba atau ketika sebuah hajatan besar digelar, mereka akan mengumpulkan diri di lapangan desa, membawa serta kelapa-kelapa tua hasil kebun, dan bergotong royong memasak sebuah hidangan istimewa. Mereka menyebutnya gulai kabing kelapa.
Kabing dalam bahasa Lampung berarti “mangkuk” atau “wadah”. Dinamakan demikian karena hidangan ini disajikan dalam wadah besar yang terbuat dari tempurung kelapa yang dibelah dua. Setiap keluarga membawa mangkuk tempurungnya masing-masing, dan dari sanalah semangat kebersamaan mulai terasa.
Nenekku sering bercerita sambil tangannya memarut kelapa, “Zaman dulu, ketika belum ada wadah dari tanah liat atau piring, nenek moyang kita menggunakan segala yang ada di sekitar. Kelapa adalah pohon kehidupan. Dari ujung daun hingga akarnya, semua bermanfaat.” Kata-kata itu mengalir seperti santan yang kental dari parutan kelapa. Baginya, gulai kabing kelapa bukan sekadar makanan, melainkan pengingat bahwa kehidupan harus dijalani bersama, seperti santan yang tak bisa dibuat hanya oleh satu orang saja.
Filosofi Awal dan Makna di Balik Bahan.
Menurut cerita lisan yang diwariskan turun-temurun, gulai kabing kelapa pertama kali diciptakan sebagai bentuk rasa syukur atas limpahan hasil kelapa di tanah Lampung. Masyarakat dulu tidak ingin membiarkan kelapa yang jatuh dari pohonnya terbuang percuma. Mereka memerasnya menjadi santan, lalu memasaknya bersama ikan, sayuran, dan rempah-rempah yang tumbuh subur di pekarangan.
Filosofi awal kuliner ini sangat sederhana: dari kelapa yang sama, orang-orang yang berbeda duduk bersama di bawah pohon rindang, menikmati hidangan dari mangkuk yang sama. Tidak ada yang lebih istimewa dari yang lain, semuanya setara di hadapan santan dan rempah yang sama.
Setiap bahan dalam gulai kabing kelapa memiliki maknanya sendiri. Kelapa melambangkan keteguhan hati, keras di luar namun lembut dan memberi kehidupan di dalam, seperti karakter orang Lampung yang tegas namun ramah. Santan melambangkan kemurahan dan kelembutan. Ikan melambangkan rezeki dari sungai dan laut, tempat di mana masyarakat Lampung menggantungkan hidup sejak zaman nenek moyang. Rempah-rempah seperti kunyit, jahe, dan lengkuas melambangkan semangat dan kekuatan.
Resep dan Cara Menghidangkan.
Membuat gulai kabing kelapa adalah sebuah seni yang membutuhkan kesabaran dan kebersamaan. Prosesnya dimulai dari memarut kelapa tua yang telah dikupas, pekerjaan ini sering dilakukan oleh para perempuan sambil bercerita dan tertawa bersama. Santan yang dihasilkan lalu dibagi menjadi dua bagian: santan encer dan santan kental.
Sementara itu, bumbu halus yang terdiri dari bawang putih, bawang merah, kemiri, kunyit, cabai rawit, dan belimbing wuluh ditumis hingga harum bersama serai, lengkuas, dan daun salam. Santan encer dituangkan terlebih dahulu bersama potongan sayuran seperti labu kuning, ubi rambat, dan kacang panjang. Ikan, bisa ikan sungai seperti gabus atau ikan laut seperti tuna, dimasukkan setelah sayuran setengah matang. Menjelang akhir, santan kental ditambahkan bersama daun kemangi untuk aroma segar.
Yang membuat hidangan ini unik adalah cara penyajiannya. Gulai kabing kelapa tidak disajikan di atas piring, melainkan dalam wadah-wadah kecil yang terbuat dari tempurung kelapa yang sudah dibersihkan. Ini dimaksudkan sebagai penghormatan kepada leluhur yang mengolah kelapa untuk bertahan hidup. Di zaman modern, beberapa keluarga masih mempertahankan cara ini, meskipun banyak yang beralih ke mangkuk biasa. Namun, bagi masyarakat adat, kabing tetap menjadi simbol bahwa makanan ini lahir dari kearifan lokal.
Sejarah Marga dan Tradisi Sakai Sambayan.
Dalam sejarah masyarakat Lampung, khususnya di wilayah Tulang Bawang dan Pepadun, kebiasaan memasak bersama ini sudah berlangsung sejak berabad-abad lalu. Menurut catatan adat yang disampaikan turun-temurun, kegiatan ini erat kaitannya dengan falsafah Sakai Sambayan, gotong royong yang menjadi urat nadi kehidupan masyarakat.
Pada zaman dahulu, ketika masyarakat Megou Pak Tulang Bawang, yang terdiri dari empat marga utama yaitu Buay Tegamoan, Buay Bulan, Buay Suai Umpu, dan Buay Aji, menyelenggarakan pesta adat, gulai kabing kelapa selalu hadir sebagai hidangan utama. Ini bukan hanya soal rasa, tetapi juga soal kebersamaan. Dalam catatan sejarah, masyarakat Lampung memiliki hubungan erat dengan Kesultanan Banten, dan pengaruh tersebut turut membentuk tata cara adat, termasuk dalam hal penyelenggaraan pesta dan hidangan yang disajikan.
Kitab kuno Kuntara Raja Niti menuliskan: “Pokok manusia ada tiga perkara: Islam, Sarani, dan Kapir. Turunan marga kita ia mengutamakan segala hukum.”
Kutipan ini mengingatkan kita bahwa adat Lampung tidak pernah terlepas dari nilai-nilai keislaman yang dibawa oleh para Punyimbang dan tokoh adat zaman dulu.
Nilai Spiritual dan Keselarasan dengan Syariat.
Setiap proses memasak gulai kabing kelapa diawali dengan doa. Sebelum memarut kelapa, para ibu akan membaca basmalah dan memohon agar hidangan yang dimasak membawa berkah bagi semua yang menyantapnya. Ini adalah wujud kesadaran bahwa rezeki dari Tuhan harus diolah dengan penuh tanggung jawab dan disantap dengan rasa syukur.
Dalam ajaran Islam, berbagi makanan dengan sesama adalah amalan yang mulia. Rasulullah SAW bersabda, “Makanan untuk dua orang cukup untuk tiga orang, dan makanan untuk tiga orang cukup untuk empat orang” (HR. Bukhari dan Muslim). Semangat inilah yang menjadi pondasi tradisi Mengan Jejama, makan bersama yang selalu diiringi dengan rasa syukur.
Menurut adat dan syarak, gulai kabing kelapa juga mengajarkan tentang Nemui Nyimah, keramahan dan saling memberi. Ketika sebuah keluarga mengadakan hajatan dan memasak gulai kabing kelapa, semua orang diundang. Tidak peduli apakah mereka kaya atau miskin, tua atau muda, semua duduk melingkar dan menikmati hidangan dari wadah yang sama. Tidak ada yang lebih istimewa dari yang lain, semuanya setara di hadapan santan dan rempah yang sama.
Gulai Kabing Kelapa dan Nilai Pancasila
Hidangan ini bukan sekadar kuliner, melainkan cermin nilai-nilai Pancasila yang hidup dalam keseharian masyarakat Lampung. Sila pertama, “Ketuhanan Yang Maha Esa,” tercermin dari doa dan rasa syukur yang selalu menyertai proses memasak dan makan bersama.
Sila kedua, “Kemanusiaan yang Adil dan Beradab,” terlihat dalam Nemui Nyimah dan Nengah Nyappur. Tidak ada diskriminasi dalam tradisi ini, siapa pun boleh datang dan menikmati hidangan. Ini adalah wujud keterbukaan dan penghormatan terhadap sesama manusia.
Sila ketiga, “Persatuan Indonesia,” diwujudkan dalam Sakai Sambayan, gotong royong yang memperkuat tali persaudaraan. Semua orang bekerja sama: ada yang memarut kelapa, ada yang menumbuk bumbu, ada yang menyalakan api, dan ada yang menyusun kabing tempurung di atas tikar. Semua bergerak bersama, seperti satu tubuh.
Sila keempat, “Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan,” tercermin dalam musyawarah adat yang menentukan tata cara dan waktu pelaksanaan acara. Sila kelima, “Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia,” hadir dalam semangat berbagi, setiap orang mendapatkan bagian yang sama, tidak ada yang lebih dan tidak ada yang kurang.
Kutipan Kitab dan Analisis.
Dalam Kitab Kuntara Raja Niti yang merupakan salah satu naskah kuno yang dijadikan rujukan adat oleh masyarakat Lampung, terdapat ajaran tentang harmoni dalam kehidupan bermasyarakat: “Tuha-tuha di ratu, punyimbang di tiyuh, penganak di gelagah, bujang gadis di dangau.”
Artinya, setiap lapisan masyarakat memiliki peran dan tanggung jawabnya masing-masing. Ratu memimpin, Punyimbang (pemimpin adat) menjadi penjaga adat di kampung, orang tua bertanggung jawab atas keluarga, dan pemuda menjadi garda terdepan dalam menjaga tradisi.
Dalam konteks gulai kabing kelapa, ajaran ini diwujudkan dalam pembagian peran saat memasak. Punyimbang memberi arahan dan doa, orang tua menyiapkan bahan, pemuda menyaMasih api, dan anak-anak belajar dari setiap proses. Semua bekerja bersama, saling mengisi, dan saling melengkapi.
Warisan Tak Ternilai
Hingga kini, gulai kabing kelapa masih hadir dalam berbagai acara adat di Lampung. Meskipun zaman telah berubah dan mangkuk tempurung mulai digantikan oleh piring dan mangkuk biasa, esensi dari hidangan ini tetap sama. Ia adalah pengingat bahwa kebersamaan adalah pondasi kehidupan, bahwa gotong royong adalah kekuatan, dan bahwa berbagi adalah ibadah.
Anak-anakku akan mewarisi resep ini, dan cucu-cucuku akan mewarisi cerita ini. Semoga mereka mengerti bahwa di setiap tetes santan, ada sejarah marga, ada ajaran leluhur, ada nilai Islam, dan ada cinta pada bangsa. Seperti kata pepatah Lampung: “Mengan Jejama dilom sekam, ngedenggok ulun sai dak biasa, tumili gham wat nyimah, tumili gham wat sambayan.” Makan bersama dalam kebersamaan, melihat mereka yang tak biasa, kita saling memberi, kita saling gotong royong.
Gulai kabing kelapa adalah lebih dari sekadar hidangan. Ia adalah jembatan antara masa lalu dan masa depan, antara manusia dan Tuhannya, antara sesama anak bangsa. Dan seperti kabing tempurung yang menjaga isinya, tradisi ini akan terus menjaga persatuan dan kebersamaan masyarakat Lampung hingga akhir zaman. (*)
Daftar Pustaka
1. Badan Bahasa Kemdikbud. (2018). Rumah Perahu, Rumah Kenali. Jakarta: Kemdikbud.
2. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Menyeruit Yuk! Kuliner Khas Lampung. Jakarta: Repositori Kemdikbud.
3. Kesuma, T. A. R. P., & Cicilia, D. (2018). Piil Pesenggiri: Strategi Resolusi Konflik Menggunakan Nilai-nilai Agama dan Pancasila. Jurnal Masyarakat Dan Budaya, 19(2), 237–252.
4. Martiara, Rina. (2021). Cangget: Tradisi Lisan dan Budaya Lampung. Yogyakarta: ISI Yogyakarta.
5. Kitab Kuntara Raja Niti (naskah kuno Lampung).
6. Kitab Pelatoeran Sepanjang Hadat Lampoeng (1910). Tulang Bawang.
7. Hadikusuma, Hilman. (1986). Masyarakat dan Adat-Budaya Lampung. Bandung: Mandar Maju.
*) Penulis Adalah Saibatin dari Kebandakhan Makhga Way Lima. Gelar Dalom Putekha Jaya Makhga, asal Sukamarga Gedungtataan, Pesawaran. Tinggal di Labuhan Ratu, Bandar Lampung.

