Buku Seri: Pemerintah Tutup Mata atas Krisis Budaya Lampung. Seri 3 – UPACARA ADAT, MAKNA DI BALIK SAKRALITAS. Oleh: Mohammad Medani Bahagianda *)

0

nataragung.id – Bandar Lampung – Kaki gunung Pesagi pernah menyaksikan sebuah kisah. Hidup dua saudara, Galih dan Guntur, dari marga Sungkay. Galih pergi merantau dan sukses menjadi saudagar. Sementara Guntur memilih menjaga warisan sawah dan kampung halaman. Hubungan mereka renggang karena perbedaan jalan hidup.

Ketika ayah mereka wafat, menurut adat, harus diadakan upacara Begawi Cakak Pepadun untuk mengantarkan rohnya dengan layak dan menetapkan pewaris siger (mahkota adat). Galih ingin semuanya serba mewah dan instan, ia mengira dengan uang semua bisa dibeli. Guntur bersikukuh ritual harus dilakukan sesuai tuntunan tetua adat, lengkap dengan segala prosesnya.

Perdebatan pun memanas. Sang tetua adat, Umpu Rio, kemudian mengajak mereka duduk di bawah pohon hariam. Ia berkata, “Upacara adat ini ibarat sungai. Airnya (ritual) mengalir dari hulu (leluhur) ke hilir (kita). Kalian mau membendungnya atau membuatkan jalannya agar sampai ke laut dengan benar? Begawi ini bukan untuk pamer kekayaan, Galih. Ia juga bukan untuk sekadar menuruti aturan buta, Guntur.
Begawi adalah jembatan. Menghubungkan kalian dengan ayahmu, dengan leluhur marga Sungkay, dan yang terpenting, menghubungkan kembali hati kalian berdua.”

Kisah Galih dan Guntur adalah pintu masuk kita untuk memahami bahwa upacara adat adalah teater kehidupan, di mana setiap simbol, gerak, dan sajian adalah dialog mendalam antara manusia, alam, dan Sang Pencipta.

Dalam masyarakat adat Lampung, upacara adat adalah bahasa budaya paling kompleks dan bermakna. Ia adalah cara mereka “membaca” dan “menulis” ulang hubungan kosmis. Setiap ritual adalah satu bab dalam kitab besar kehidupan yang disebut adat saibatin atau adat pepadun. Sebagaimana pesan dalam naskah kuno Kuntara Raja Niti: “Adat itu ibarat pohon, berurat ke bumi (tradisi), berbatang tegak (hukum), dan berbuah ke langit (spiritualitas).”
Analisis kutipan ini menunjukkan bahwa upacara adat memiliki tiga dimensi:
1. Dimensi Akar (Bumi): Keterikatan pada sejarah, teritori, dan leluhur marga. Misalnya, upacara Cakak Pepadun hanya bisa dilaksanakan oleh marga-marga tertentu yang memiliki hak historis atas gelar Penyimbang.
2. Dimensi Batang (Hukum): Aturan main yang jelas, mengikat, dan menjadi penegak ketertiban sosial. Prosesi ritual harus urut, benda-benda pusaka (pusako) harus digunakan, dan tata krama (adok) harus dijaga.
3. Dimensi Buah (Langit): Tujuan spiritual, yaitu memohon restu, keselamatan, dan menjaga harmoni dengan alam gaib. Inilah esensi sakralitasnya.

Baca Juga :  Buku Seri : Cangget, Tarian Penyatu Marga. Seri 4: Puncak Kemuliaan, Cangget dalam Gelar Adat Pepadun. Oleh : Mohammad Medani Bahagianda *)

Cakak Pepadun (atau Naik Pepadun) adalah upacara adat tertinggi dalam masyarakat Lampung Pepadun, yaitu penobatan seseorang untuk menyandang gelar Penyimbang atau Sultan. Ini bukanlah gelar untuk pamer status, melainkan beban moral yang berat.
Ritual dan Makna Filosofis:
* Pemberian Siger (Mahkota): Siger yang bersusun seperti puncak gunung adalah simbol tanggung jawab yang bertingkat: pada keluarga, marga, masyarakat, dan adat itu sendiri. Setiap susunan mengingatkan pada falsafah “sai bumi, sai langit” yang artinya menjunjung tinggi kebenaran di bumi (sai bumi) dan mengharap berkah dari langit (sai langit).
* Menyembelih Kerbau (Tabhi): Kerbau adalah simbol pengorbanan. Seorang penyimbang harus siap mengorbankan kepentingan pribadi untuk kemaslahatan orang banyak. Daging kerbau kemudian dibagikan secara merata, mencerminkan nilai Sakai Sambayan dan keadilan sosial.
* Menepung Tawar: Prosesi memercikkan air yang telah didoakan mengingatkan sang penyimbang bahwa kepemimpinannya harus membawa kedamaian (tawar) dan penyejuk bagi rakyat.

Legenda marga Abung menceritakan bahwa Pepadun pertama terbuat dari kayu pulai yang ditemukan mengapung di Way Rarem. Kayu itu dianggap keramat dan menjadi tanda pemersatu marga-marga Abung. Ini menunjukkan bahwa legitimasi kepemimpinan berasal dari kesepakatan bersama dan pertanda alam, bukan dari kekuasaan semena-mena.

Baca Juga :  Adat Istiadat Lampung di Kabupaten Pesawaran : Kondisi Terkini dan Dinamika Sosial Budaya. Oleh : Mohammad Medani Bahagianda *)

Begawi (atau Gawi) adalah pesta adat besar yang biasanya terkait dengan daur hidup: kelahiran, pernikahan (Lampung: Ngalak Betandak), dan kematian. Berbeda dengan Cakak Pepadun yang bersifat vertikal (penobatan), Begawi bersifat horizontal: merajut kembali ikatan persaudaraan.
Ritual dan Makna Filosofis:
* Berenai (Bersanding): Dalam Begawi perkawinan, pengantin duduk bersanding. Ini melambangkan penyatuan bukan saja dua individu, tetapi dua keluarga besar, bahkan dua marga. Sebuah pantun adat (didikan) menyebutkan: “Dua bilah bilik, disatukan dengan tali. Dua jurai ini, disatukan dengan janji suci.” Pernikahan adat adalah perjanjian suci yang mengikat dalam kehidupan sosial.
* Makan Bersama (Seruit Agung): Seruit, hidangan utama dari ikan atau ayam yang diulek dengan sambal terasi, disantap bersama-sama dari satu talam besar. Filosofinya mendalam: bahan-bahan yang berbeda (ikan, cabe, terasi) diulek menjadi satu rasa yang harmonis. Ini adalah pelajaran nyata tentang persatuan dalam perbedaan (Bhinneka Tunggal Ika). Gotong royong dalam menyiapkan Begawi juga adalah praktik nyata sila kelima Pancasila.
* Tarian Cangget: Tarian ini ditarikan secara berkelompok dengan pola lantai yang rapi. Ia melambangkan keteraturan, kerjasama, dan keanggunan dalam bergaul (Nengah Nyappur). Setiap gerakan tangan dan langkah kaki memiliki makna, seperti menghormat, menyapu lara, dan menguatkan semangat.
Inilah bagian kritis yang menjadi alasan serial ini berjudul “Pemerintah Tutup Mata”. Krisis terjadi ketika:
* Komersialisasi: Upacara adat dikurangi esensinya dan dijadikan “paket wisata” atau ajang pamer kekayaan (gengsi). Makna spiritual tergantikan oleh nilai komersial.
* Pemiskinan Makna: Generasi muda hanya melihatnya sebagai acara “tarian dan makan-makan”, tanpa memahami narasi filosofis di balik setiap tahapannya.
* Ketidakterlibatan Negara: Pemerintah seringkali hanya hadir sebagai tamu kehormatan dalam upacara adat, tanpa kebijakan serius untuk mendokumentasikan, melindungi hak intelektual komunitas atas ritualnya, dan mendukung transmisi pengetahuan ini ke sekolah-sekolah. Upacara adat seolah dibiarkan hidup sendiri, sementara tekanan budaya global semakin kuat.

Baca Juga :  Buku Seri : Cangget, Tarian Penyatu Marga Seri 3: Filosofi Gerak, Bahasa Tari yang Melebihi Kata-Kata. Oleh : Mohammad Medani Bahagianda *)

Upacara adat bagaikan api dalam sangkar (sanggar). Api (makna spiritual) harus tetap menyala, sedangkan sangkarnya (bentuk ritual) bisa saja menyesuaikan zaman. Tugas kita bukan mempertahankan sangkar yang usang, tetapi menjamin apinya tidak padam.
Pemerintah, melalui sekolah dan media, harus menjadi “peniup api” yang membantu menyalakan pemahaman generasi baru. Masyarakat adat perlu didukung untuk menjadi subjek, bukan objek pelestarian. Dengan memahami Cakak Pepadun dan Begawi, kita tidak hanya melestarikan tarian dan pakaian, tetapi merawat kode etik kepemimpinan, semangat gotong royong, dan filosofi persatuan yang sangat dibutuhkan bangsa ini.

Mari kita jadikan upacara adat lebih dari sekadar acara. Ia adalah ruang kelas agung tempat kita belajar menjadi manusia seutuhnya: yang menghormati leluhur, menyayangi sesama, dan menjaga harmoni dengan semesta. Dengan demikian, kita sedang membangun karakter bangsa yang beradab dan berketuhanan, sesuai dengan fondasi Pancasila.

Sumber Referensi Terverifikasi:
1. Hilman, H. (1990). Upacara Adat Lampung Pepadun. Fakultas Sastra Universitas Indonesia. (Disertasi, format digital/fisik).
2. Kuntara Raja Niti (Naskah Kuno). Transkripsi koleksi Museum Lampung. (Dokumen digital/fisik).
3. Rosidi, A. (2013). Begawi: Upacara Besar Adat Lampung. Penerbit Lenggeng. (Buku fisik).

*) Penulis Adalah Saibatin dari Kebandakhan Makhga Way Lima. Gelar Dalom Putekha Jaya Makhga, asal Sukamarga Gedungtataan, Pesawaran. Tinggal di Labuhan Ratu, Bandar Lampung.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini