Putri Sungai Tulang Bawang. Oleh : Mohammad Medani Bahagianda *)

0

nataragung.id – Bandar Lampung – Masyarakat adat Lampung Pepadun adalah salah satu dari dua kelompok besar budaya di Lampung, yang dikenal dengan sistem kepemimpinannya yang meritokratis. Gelar dan kedudukan (seperti Penyimbang) dapat diraih melalui musyawarah dan prestasi, tidak hanya warisan keturunan semata.
Kekayaan budaya mereka terpateri dalam kuntara, naskah-naskah kuno beraksara Lampung yang berisi petuah, hukum adat, dan sejarah. Cerita rakyat bagi mereka bukan sekadar dongeng pengantar tidur, melainkan sebuah medium penyampai nilai-nilai filosofis, aturan hidup, dan legitimasi historis bagi marga-marga yang ada.

Kisah Putri Sungai Tulang Bawang adalah salah satu pilar penting yang mengukuhkan jati diri dan asal-usul beberapa marga besar dalam komunitas ini.

Alkisah, pada zaman dahulu kala, di tepian Sungai Tulang Bawang yang perkasa, hiduplah seorang pemimpin bijaksana bernama Minak Kemala Bumi. Wilayahnya makmur, namun satu hal membuatnya gundah: ia belum dikaruniai seorang penerus. Setiap hari, dengan penuh khidmat, ia memanjatkan doa di tepi sungai, memohon kepada Sang Penguasa Alam agar diberikan keturunan.

Pada suatu senja, ketika matahari mulai beranjak pergi, permukaan Sungai Tulang Bawang tiba-tiba memancarkan cahaya keemasan. Dari pusaran cahaya itu, muncul seorang putri dengan kecantikan yang tiada tara. Kulitnya bersih bak susu, matanya jernih bagai embun pagi, dan ia mengenakan pakaian yang serupa dengan busana adat Lampung, namun terbuat dari tenunan cahaya dan mutiara air. Ia tidak datang dengan tangan hampa; di tangannya tersimpan sebuah keris pusaka berhulu emas dan sehelai kain tapis yang bertahtakan benang emas, motifnya begitu rumit dan tidak ada duanya.

Baca Juga :  Buku Seri Lampung Pubian Dalam Komunitas Pepadun. Seri 4: Pubian dalam Konteks Sosial Kontemporer Oleh : Mohammad Medani Bahagianda *)

Sang Putri kemudian bersabda, suaranya laksana gemericik air, “Wahai Minak Kemala Bumi, permohonanmu telah didengar. Aku diutus menjadi penjaga spirit sungai ini. Ambillah aku sebagai anakmu. Darahku adalah air sungai ini yang akan menghidupi rakyatmu. Jagalah sungai ini, maka kemakmuran akan selalu bersamamu.”

Minak Kemala Bumi pun menerima Sang Putri dengan suka cita dan diberi nama Putri Sungai Tulang Bawang. Kelak, Putri ini menikah dengan seorang pemuda pilihan dan melahirkan keturunan yang perkasa. Anak-cucunya inilah yang kemudian menjadi cikal bakal marga-marga besar Pepadun, seperti marga Sungkai, Bunga Mayang, Podomoro, dan Unyai.

Keris dan kain tapis pemberiannya menjadi pusaka (tanda kebesaran) marga yang diwariskan turun-temurun, simbol legitimasi dan kesinambungan dari leluhur penjaga sungai.

Legenda ini sarat dengan makna filosofis yang menjadi pedoman hidup masyarakat Pepadun.
1. Sungai sebagai Sumber Kehidupan dan Peradaban
Kedatangan Putri dari sungai bukanlah sebuah kebetulan. Bagi masyarakat agraris Pepadun, sungai adalah nadi kehidupan.
Filsafat ini tercermin dalam petuah adat yang sering dikutip:
“Bejuluk Adok Puni, Beatek Bulan Bintang, Beguai Jejama, Nengah Nyappur, Sakai Sambayan.” (Saling menyapa dan bertegur sapa, bersatu seperti bulan dan bintang, bergotong royong, berbaur dengan masyarakat, dan tolong-menolong).
Analisis: Sungai dalam legenda adalah metafora dari “Sakai Sambayan” (tolong-menolong). Sebagaimana sungai memberikan airnya kepada semua makhluk tanpa pilih kasih, masyarakat Pepadun diharapkan hidup dengan semangat berbagi dan kolektivitas. Putri Sungai adalah personifikasi dari nilai-nilai kebajikan yang mengalir itu.
2. Pusaka sebagai Simbol Identitas dan Tanggung Jawab
Keris dan Kain Tapis yang dibawa oleh Sang Putri bukan sekadar benda pusaka, melainkan “tanda kebesaran” atau “piagem” yang hidup. Dalam naskah Kuntara Raja Niti, salah satu kitab hukum adat, disebutkan:
“Tiyan ti balak, ghumah ti batin, pusako ti junjungan.” (Hati yang luas, rumah yang memiliki fondasi, pusaka yang dijunjung tinggi).
Analisis: Kutipan ini menegaskan bahwa pusaka harus “dijunjung”, bukan hanya dimiliki. Artinya, ia membawa tanggung jawab moral bagi pewarisnya untuk menjaga martabat, memimpin dengan adil, dan melestarikan adat. Setiap motif pada kain tapis peninggalan Putri juga dipercaya memiliki makna tertentu, seperti motif “pucuk rebung” (tunas bambu) yang melambangkan kesatuan dan pertumbuhan yang kuat.
3. Ritual “Ngebabali” dan Penyemahan
Untuk menghormati leluhur dan memohon berkat, masyarakat adat Pepadun melaksanakan ritual Ngebabali (membersihkan) atau Penyemahan (persembahan) di tepi sungai. Ritual ini merupakan turunan langsung dari legenda Putri Sungai.
Dalam ritual tersebut, sesajian yang terdiri dari hasil bumi (padi, kelapa, pisang) dan lauk pilihan diletakkan di atas “tikar adat” yang dibentangkan. Seorang Penyimbang adat akan memimpin pembacaan doa dalam bahasa Lampung kuno, memanggil roh leluhur dan memohon keselamatan serta kesuburan.
Salah satu mantra yang sering diucapkan adalah: “Wuih… Wuih… Sai sambah nyakmu, Pun Biku, datuk-datuk kami, tuo-tuo kami. Anugerahi kami rezeki yang lancar seperti aliran sungai ini.”
Analisis: Ritual ini adalah sebuah dialog simbolis dengan leluhur (yang diwakili oleh Putri Sungai). Dengan memberikan persembahan, masyarakat tidak hanya memohon, tetapi juga mengingat janji untuk “menjaga sungai”. Ini adalah bentuk praktik dari konsep “Beitek Bulan Bintang” (bersatu dengan alam dan leluhur).

Baca Juga :  Buku Seri - Nengah Nyappur, Seni Merajut Silaturahmi dan Memperluas Pergaulan. Seri – 9: Lampu Emas di Pelabuhan Kalianda. Oleh : Mohammad Medani Bahagianda *)

Legenda Putri Sungai Tulang Bawang adalah lebih dari sekadar cerita. Ia adalah dokumen kultural yang hidup, sebuah piagam yang mengikat masyarakat Pepadun dengan tanah dan sejarah mereka. Melalui legenda ini, nilai-nilai tentang kepemimpinan yang bijak, tanggung jawab lingkungan, dan kesatuan komunitas terus ditransmisikan dari generasi ke generasi. Setiap keris yang disimpan, setiap motif tapis yang ditenun, dan setiap ritual di tepi sungai adalah pengingat bahwa mereka adalah anak-cucu dari seorang Putri yang mengajarkan bahwa kemakmuran sejati berasal dari hidup selaras dengan alam dan sesama. Seperti Sungai Tulang Bawang yang terus mengalir, pesan moral dalam cerita ini tak pernah lekang oleh waktu.

Baca Juga :  Perkawinan Adat di Zaman Modern. Oleh : Mohammad Medani Bahagianda *)

Sumber Referensi Terverifikasi:
1. Hadikusuma, Hilman. (1989). Masyarakat dan Adat Budaya Lampung. Mandar Maju: Bandung.
2. Naskah Kuntara Raja Niti (Aksara Lampung). Terjemahan dan transliterasi tersimpan di Pusat Dokumentasi Kebudayaan Lampung.
3. Ismail, F. (2017). Simbolisme dalam Cerita Rakyat Lampung (Kajian Semiotika pada Legenda Putri Sungai Tulang Bawang). Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora, 6(1).
4. Sari, D. P. (2020). Etnofilosofi Masyarakat Adat Lampung Pepadun dalam Ritual Ngebabali. Jurnal Kajian Budaya, 12(2).

*) Penulis Adalah Saibatin dari Kebandakhan Makhga Way Lima. Gelar Dalom Putekha Jaya Makhga, asal Sukamarga Gedungtataan, Pesawaran. Tinggal di Labuhan Ratu, Bandar Lampung.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini