nataragung.id – Bandar Lampung – Di tanah Lampung yang dilingkupi perbukitan hijau dan laut yang panjang membentang, Ramadhan bukan hanya bulan ibadah, melainkan ruang pertemuan batin. Ia adalah waktu ketika keluarga yang jauh kembali pulang, ketika silsilah dibacakan kembali, dan ketika tangan-tangan yang lama renggang kembali bersalaman.
Dalam masyarakat adat Lampung, kekerabatan bukan sekadar hubungan darah. Ia adalah simpul sejarah, adat, dan tanggung jawab moral. Buku ini menyajikan kisah fiksi rakyat yang berpijak pada legenda dan struktur marga, lalu mengembangkannya dalam analisis filosofis mengenai bagaimana Ramadhan menjadi waktu paling sakral untuk mempererat ikatan kekerabatan.
Pembahasan diarahkan secara khusus pada makna kekerabatan dalam konteks Ramadhan, agar pembaca menyelami satu tema dengan utuh dan mendalam.
Pada masa ketika jalan tanah masih dilalui kereta kayu dan kabar disampaikan dari mulut ke mulut, hiduplah seorang tokoh adat Saibatin bernama Minak Pangeran Ratu Jaya. Ia berasal dari garis keturunan Buay Pernong yang diyakini bersumber dari Sekala Brak, pusat tua peradaban Lampung.
Suatu tahun, menjelang Ramadhan, Minak Pangeran menerima sepucuk surat beraksara Arab-Melayu. Surat itu dikirim oleh kerabat jauh dari pesisir.
Isinya singkat: “Jangan biarkan Ramadhan berlalu tanpa menyatukan kembali yang renggang.”
Minak Pangeran terdiam. Ia tahu bahwa dalam beberapa tahun terakhir, terjadi kesalahpahaman antara keluarganya dan marga lain karena sengketa tanah. Hubungan kekerabatan yang dahulu hangat menjadi dingin.
Menjelang malam pertama Ramadhan, ia mengumpulkan keluarga besar. Di hadapan mereka, ia berkata, “Jika kita menahan lapar tetapi tidak menahan ego, puasa kita kehilangan makna.”
Ia lalu mengutus utusan untuk mendatangi kerabat yang berselisih. Undangan berbuka bersama dikirimkan.
Pada malam ketiga Ramadhan, dua keluarga itu duduk satu hamparan tikar. Tidak ada pidato panjang. Hanya saling memandang dan akhirnya bersalaman.
Sejak saat itu, kisah Minak Pangeran menjadi pelajaran turun-temurun: Ramadhan adalah waktu terbaik untuk memulihkan kekerabatan.
Untuk memahami kedalaman makna kekerabatan dalam adat Lampung, perlu ditelusuri akar sejarahnya. Masyarakat adat Lampung mengenal dua sistem besar: Saibatin dan Pepadun.
Saibatin bertumpu pada garis keturunan aristokratis yang diwariskan turun-temurun. Sementara Pepadun lebih menekankan musyawarah dan pemberian gelar melalui upacara adat.
Asal-usul genealogis sering dirujuk kepada Sekala Brak. Empat paksi besar, Buay Pernong, Buay Belunguh, Buay Nyerupa, dan Buay Bejalan Diway, menjadi induk berbagai marga yang tersebar hingga pesisir dan pedalaman.
Dalam naskah adat Kuntara Raja Niti tertulis: “Barang siapa melupakan asal-usulnya, maka terputuslah tali persaudaraannya.”
Kutipan ini menegaskan bahwa silsilah bukan sekadar catatan nama, melainkan fondasi identitas kolektif. Membaca silsilah berarti menghidupkan kembali ikatan kekerabatan.
Menjelang Ramadhan, beberapa kampung adat masih melestarikan tradisi pembacaan silsilah keluarga dalam forum kecil. Tradisi ini menjadi pengingat bahwa setiap individu adalah bagian dari jaringan sejarah yang panjang.
Al-Qur’an menyatakan:
Yaa ayyuhal laziina aamanuu kutiba ‘alaikumus Siyaamu kamaa kutiba ‘alal laziina min qablikum la’allakum tattaquun
Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa, (QS. Al-Baqarah: 183)
Tujuan puasa adalah takwa. Dalam tafsir para ulama, takwa mencakup kesadaran menjaga hubungan dengan Allah dan dengan manusia.
Rasulullah saw. bersabda: “Man kāna yu’minu billāhi wal-yaumil ākhir fal-yashil rahimah.” (Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia menyambung tali silaturahmi.)
Hadis ini memiliki resonansi kuat dalam adat Lampung. Silaturahmi atau menyambung tali kekerabatan bukan hanya etika sosial, melainkan konsekuensi iman.
Secara filosofis, puasa mengikis kesombongan dan membuka ruang empati. Ketika hati menjadi lembut, ia lebih mudah memaafkan. Di sinilah Ramadhan menjadi momentum mempererat kembali hubungan yang retak.
Di banyak kampung adat Lampung, Ramadhan diisi dengan kegiatan silaturahmi keluarga. Setelah tarawih, keluarga besar saling mengunjungi.
Tradisi nemui nyimah, menerima tamu dengan hormat, terlihat nyata. Hidangan sederhana disuguhkan, tetapi suasana hangat menjadi inti pertemuan.
Pada sepuluh hari terakhir Ramadhan, beberapa keluarga mengadakan doa bersama untuk leluhur. Nama-nama disebut satu per satu. Anak-anak mendengarkan dengan takzim.
Ritual ini bukan sekadar penghormatan kepada masa lalu, tetapi pengikat batin generasi sekarang. Dengan mengenal leluhur, seseorang memahami tempatnya dalam jaringan kekerabatan.
Dalam arsip lisan Buay Belunguh terdapat ungkapan: “Jika satu darah terpecah, maka satu marga kehilangan nafas.”
Ungkapan ini menekankan pentingnya persatuan keluarga. Ramadhan menjadi waktu untuk mengembalikan “nafas” itu.
Dalam adat Lampung, kekerabatan dipandang sebagai amanah. Setiap anggota marga memiliki tanggung jawab menjaga nama baik keluarga.
Konsep piil pesenggiri sering diterjemahkan sebagai harga diri. Namun dalam konteks kekerabatan, piil berarti menjaga kehormatan keluarga melalui perilaku yang santun dan peduli.
Ramadhan memperkuat amanah itu. Ketika seseorang meminta maaf sebelum Idulfitri, ia tidak hanya memperbaiki hubungan personal, tetapi juga menjaga kehormatan marga.
Secara sosiologis, silaturahmi mencegah fragmentasi sosial. Ia memperkecil konflik dan memperbesar rasa saling memiliki.
Beberapa dokumen kolonial Belanda mencatat kuatnya struktur kekerabatan dalam masyarakat Lampung. Mereka menyebut bahwa keputusan penting selalu melibatkan keluarga besar.
Dalam transliterasi naskah adat abad ke-19 disebutkan: “Pada bulan puasa, hendaklah keluarga duduk bersama, supaya yang jauh menjadi dekat.”
Kalimat ini menunjukkan bahwa bahkan dalam teks lama, Ramadhan telah diakui sebagai momentum penyatuan keluarga.
Memori kolektif ini diwariskan melalui cerita rakyat, seperti kisah Minak Pangeran. Cerita menjadi sarana pendidikan moral bagi generasi muda.
Tidak jarang perselisihan terjadi antar-marga. Namun Ramadhan memberi ruang untuk rekonsiliasi.
Forum musyawarah adat sering dilaksanakan sebelum Idulfitri. Para penyimbang duduk bersama, membahas sengketa dengan tenang.
Puasa menciptakan suasana reflektif. Dalam kondisi menahan diri, keputusan cenderung lebih bijak.
Rekonsiliasi ini memperkuat struktur sosial secara keseluruhan. Kekerabatan tidak hanya bersifat biologis, tetapi juga sosial dan simbolik.
Ramadhan sebagai waktu mempererat ikatan kekerabatan dalam adat Lampung bukan sekadar tradisi, melainkan kebutuhan spiritual dan sosial.
Melalui kisah Minak Pangeran, jejak Sekala Brak, dan petuah dalam Kuntara Raja Niti, terlihat bahwa kekerabatan adalah fondasi masyarakat adat.
Puasa melatih hati untuk lembut. Silaturahmi mempertemukan kembali yang renggang. Permintaan maaf membersihkan jiwa.
Ketika keluarga duduk bersama dalam satu hamparan tikar menjelang berbuka, di situlah adat dan agama bertemu. Ramadhan menjadi jembatan antara masa lalu dan masa kini, antara leluhur dan generasi penerus.
Selama nilai kekerabatan dijaga, selama itu pula adat Lampung akan tetap hidup dalam setiap denyut Ramadhan.
Daftar Pustaka
1. Hadikusuma, Hilman. Adat Istiadat Lampung. Bandung: Alumni, 1989.
2. Iskandar, Syamsudin. Sekala Brak dan Asal-Usul Marga Lampung. Bandar Lampung: Dinas Kebudayaan Lampung, 2005.
3. Pemerintah Provinsi Lampung. Kuntara Raja Niti: Transliterasi dan Kajian Naskah Adat Lampung. Bandar Lampung: Arsip Daerah Lampung, 1994.
4. Koentjaraningrat. Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta: Rineka Cipta, 2002.
5. Al-Qur’an al-Karim.
*) Penulis Adalah Saibatin dari Kebandakhan Makhga Way Lima. Gelar Dalom Putekha Jaya Makhga, asal Sukamarga Gedungtataan, Pesawaran. Tinggal di Labuhan Ratu, Bandar Lampung.

