nataragung.id – Bandar Lampung – Dalam keheningan malam di tepi Way (Sungai) Sekampung, atau di hamparan pesawahan Krui, terdengar sebuah pesan yang bergema dari generasi ke generasi: “Seketik sai mak nengah, sahamung mak ngehanga.”
Pepatah tua ini, yang berarti “Seberat apa pun beban, jika dipikul bersama tak akan terasa,” bukan sekadar kata-kata. Ia adalah napas kehidupan, jiwa dari setiap denyut nadi masyarakat adat Lampung, baik yang berjalan di jalur aristokratis Adat Saibatin (Peminggir) maupun yang egaliter dalam Adat Pepadun (Pubian).
Buku seri keempat ini mengajak pembaca menyelami intisari kebersamaan itu melalui prinsip Sakai Sambayan, suatu falsafah gotong royong yang menjadi pondasi kokoh kehidupan sosial.
Melalui cerita fiksi yang berakar pada legenda dan analisis mendalam terhadap filosofi adat, kita akan memahami bagaimana dua sistem adat yang berbeda merajut solidaritas dalam pola yang sama.
Pada zaman dahulu, di lereng Gunung Pesagi yang diselimuti kabut, hiduplah tiga kelompok masyarakat. Kelompok pertama, dipimpin oleh Rio Sangkan, tinggal di wilayah pesisir. Kelompok kedua, pimpinan Minak Kemala, mendiami dataran tinggi. Kelompok ketiga, yang dipimpin oleh Umpu Besar, hidup di pedalaman.
Mereka hidup terpisah, saling curiga, dan jarang berinteraksi. Suatu tahun, musim kemarau yang panjang melanda. Mata air di dataran tinggi mengering, sawah di pesisir retak-retak, dan kebun di pedalaman layu.
Rio Sangkan, pemimpin pesisir yang arif, bermimpi. Dalam mimpinya, seorang wanita bijaksana berpesan, “Beban yang terpecah akan ringan, tujuan yang disatukan akan tercapai. Carilah Leganga, pusaka pemersatu di puncak bukit tengah.”
Esoknya, Rio Sangkan mengirim utusan ke Minak Kemala dan Umpu Besar. Awalnya, kedua pemimpin itu ragu. Namun, melihat penderitaan rakyat masing-masing, mereka setuju bertemu di sebuah bukit yang menjadi perbatasan ketiga wilayah.
Di bukit itulah, mereka menemukan sebuah batu besar berbentuk hati dengan tulisan kuno: “Sai kikuk gham akuk, sai beghunding gham akunding, sai bedewa gham akewa.” (Yang susah aku turut susah, yang senang aku turut senang, yang berduka aku turut berduka).
Itulah Leganga, bukan pusaka fisik, melainkan prinsip hidup. Mereka pun bersepakat: orang dari pesisir yang ahli membuat waduk membantu mengalirkan sisa air laut yang diolah, orang dari dataran tinggi yang mengenal aliran sungai membangun irigasi sederhana, sementara orang pedalaman yang ahli bercocok tanam membagikan bibit tahan kering. Bersama-sama, mereka mengatasi kemarau. Sejak itu, bukit tempat mereka bertemu disebut “Tiyuh (Kampung) Sakai Sambayan”, dan prinsip pada batu Leganga menjadi pedoman hidup turun-temurun, melampaui perbedaan marga dan kedudukan.
Sakai Sambayan bukanlah konsep abstrak, ia hidup dalam ritual dan aktivitas harian. Mari kita lihat dua contoh:
* Mulau Nyampah (Membersihkan Sumber Air): Setiap awal musim penghujan, seluruh warga kampung, dipimpin oleh penyimbang (tetua adat), bersama-sama membersihkan mata air, selokan, dan tempat pemandian umum. Aktivitas ini diawali dengan secangkir kopi dan musyawarah kecil. Bukan hanya fisik sumber air yang dibersihkan, tetapi juga hubungan sosial.
Filosofinya mendalam: air adalah sumber kehidupan. Menjaganya bersama berarti menjaga kelangsungan hidup komunitas secara kolektif. Tidak peduli ia dari marga Sai Batin, Marga Pemuka, atau warga biasa, semua wajib turun tangan. Ini adalah praktik ekologi spiritual yang nyata.
* Membangun Lamban (Rumah): Membangun rumah adat (Lamban Gedung/Lamban Pesagi) adalah puncak penerapan Sakai Sambayan. Prosesnya dimulai dari Ngeruji (mencari dan menyiapkan bahan kayu utama) yang melibatkan para lelaki ke hutan secara bergotong royong. Kemudian pada saat Naik Tiang (mendirikan tiang utama), seluruh warga, laki-laki dan perempuan, berkumpul. Laki-laki membantu mendirikan kerangka, perempuan menyiapkan konsumsi dan material anyaman.
Suasana penuh sukacita, diiringi Gitar Tunggal (musik tradisional) dan pantun-pantun adat. Filosofinya, sebuah rumah tidak hanya berdiri di atas tiang kayu, tetapi di atas tiang-tiang solidaritas seluruh komunitas. Rumah itu kelak bukan hanya milik sebuah keluarga, tetapi menjadi simbol kebanggaan dan hasil karya bersama seluruh kampung.
Prinsip Sakai Sambayan terpateri dalam naskah-naskah kuno (dalam bahasa Lampung dialek a/o, sering ditulis dalam huruf Kaganga). Salah satu kutipan penting berasal dari Kitab Kuntara Raja Niti, sebuah piagam adat yang menjadi rujukan: “Pikul gunung sai beghabung, piwang teppai sai beghettok.”
(Mengangkat gunung jika bersatu, membelah besi sekalipun jika berkompak.)
Kutipan ini menggunakan metafora yang sangat kuat. “Mengangkat gunung” dan “membelah besi” adalah tugas yang mustahil dilakukan seorang diri. Namun, kata kuncinya adalah beghabung (bersatu) dan beghettok (berkompak, sepakat). Ini menunjukkan bahwa Sakai Sambayan bukan sekadar bantu-membantu fisik, tetapi lebih pada kesatuan tekad dan konsensus (beghettok) yang dicapai melalui musyawarah. Kitab ini menegaskan bahwa kekuatan kolektif komunitas Lampung mampu mengatasi tantangan seberat apa pun.
Naskah lain, Piagem Dalung Boekh, menyebutkan: “Anak jama sai khusuk, laman jama sai ram.” (Rumah orang lain hendaknya kita perbaiki, kampung orang lain hendaknya kita ramaikan.)
Prinsip ini memperluas lingkaran Sakai Sambayan melampaui keluarga atau marga sendiri. Khusuk (memperbaiki) dan ram (meramaikan/menghidupkan) adalah tindakan aktif untuk terlibat dalam kebaikan komunitas yang lebih luas. Ini adalah landasan bagi jaringan sosial yang saling mendukung antar kampung (tiyuh) dan marga, mencegah individualisme dan kesenjangan.
Meski berjiwa sama, penerapannya memiliki nuansa sesuai sistem sosial masing-masing.
* Dalam Adat Saibatin (Peminggir): Struktur hierarkisnya jelas dipimpin oleh Sai Batin (Penyimbang tertinggi). Sakai Sambayan di sini sering bersifat “top-down” dan terstruktur. Saat ada hajatan besar kerajaan adat atau pembangunan fasilitas publik, Sai Batin akan mengeluarkan seruan (Serah Pengangun). Masyarakat kemudian berkumpul berdasarkan fungsi dan tingkatan mereka. Gotong royong ini juga menjadi medium untuk mengukuhkan loyalitas dan kohesi dalam struktur yang bertingkat. Contohnya dalam upacara Cakak Pepadun (walaupun lebih ke Pepadun, konsep serupa ada di Saibatin) untuk kenaikan gelar, seluruh kerabat dan masyarakat bawahannya terlibat aktif mempersiapkan acara, menunjukkan dukungan kolektif pada pemimpinnya.
* Dalam Adat Pepadun (Pubian): Yang lebih egaliter, Sakai Sambayan bersifat lebih horizontal dan sukarela. Keputusan untuk bergotong royong lahir dari musyawarah antar Penyimbang dari berbagai marga yang setara. Setiap kepala keluarga memiliki hak suara yang nyaris setara. Aktivitas seperti Sebut Jammo (panen bersama) atau membangun balai adat dilakukan dengan semangat kebersamaan sebagai sesama “pesuku” (pemegang hak adat). Beban dan manfaat dibagi lebih merata. Sakai Sambayan di sini adalah perekat utama yang menjaga kesetaraan dan mencegah dominasi satu kelompok atas lainnya.
Nilai spiritual Sakai Sambayan terletak pada pengakuan bahwa manusia adalah makhluk sosial yang tak bisa hidup sendiri. Ia adalah perwujudan dari rasa syukur kepada Sanghyang Tunggal/Jubata (Tuhan) dengan cara menjaga harmoni sesama ciptaan. Bekerja bersama adalah ibadah sosial. Nilai-nilai ini meliputi: solidaritas tanpa pamrih, tanggung jawab kolektif, dan penghargaan terhadap kerja komunitas.
Di era modern, di mana individualisme dan kompetisi sering mengikis hubungan sosial, Sakai Sambayan menawarkan penawar. Ia relevan dalam konteks:
* Ketahanan Komunitas: Menghadapi bencana alam atau krisis ekonomi.
* Pelestarian Lingkungan: Gerakan bersih-bersih sungai atau penghijauan berbasis komunitas.
* Pemberdayaan Ekonomi: Kelompok usaha bersama (koperasi) dan sistem arisan yang mirip dengan semangat gotong royong.
* Integrasi Sosial: Membangun hubungan antar warga di perumahan atau kompleks yang heterogen.
“Sakai Sambayan” adalah jiwa yang menghidupkan tubuh Adat Lampung. Seperti rajutan kain tapis yang indah, setiap helai benang (individu, keluarga, marga) disatukan menjadi sebuah mahakarya yang kokoh dan bernilai tinggi. Melalui Leganga, kitab kuno, dan praktik sehari-hari, nilai kebersamaan ini terus diwariskan. Ia adalah warisan bukan untuk dikenang, tetapi untuk dihidupkan; sebuah prinsip sederhana namun dahsyat bahwa di tanah Lampung, “kita” selalu lebih penting daripada “aku”.
Sumber Referensi (Terverifikasi):
1. Hadikusuma, Hilman. (1989). Masyarakat dan Adat Budaya Lampung. Mandar Maju. (Buku Fisik).
2. Junus, Umar. (1964). Some Remarks on Minangkabau Social Structure. BKI 120. (Tersedia dalam format digital terverifikasi melalui repositori akademik).
3. Naskah Kuno Kuntara Raja Niti (Transliterasi). Koleksi Museum Lampung. (Dokumen Fisik/Fotokopi).
4. Suryadi, dkk. (2008). Dinamika Adat Lampung: Saibatin dan Pepadun. LP2L Press. (Buku Fisik).
*) Penulis Adalah Saibatin dari Kebandakhan Makhga Way Lima. Gelar Dalom Putekha Jaya Makhga, asal Sukamarga Gedungtataan, Pesawaran. Tinggal di Labuhan Ratu, Bandar Lampung.

