nataragung.id – Pemanggilan – Di sini, di dunia yang ramai ini, kita sebenarnya tidak benar-benar sendiri.
Masih ada teman yang mengasihi, keluarga yang menyapa, sahabat yang menemani tawa dan air mata.
Masih ada suara, masih ada pelukan, masih ada tempat untuk bersandar.
Namun kesendirian yang sejati bukanlah yang kita rasakan hari ini.
Kesendirian itu kelak menunggu di alam barzakh, yaitu alam sunyi tanpa teman bicara, tanpa harta, tanpa jabatan.
Kesendirian itu akan terasa di padang mahsyar, yaitu saat manusia berkata nafsi, nafsi, masing-masing sibuk memikirkan dirinya sendiri.
Kesendirian itu akan nyata di atas shirath, jembatan yang membentang di atas neraka Jahannam, tipis, gelap, dan panjang, ketika setiap langkah menentukan keselamatan atau kebinasaan.
Di sanalah setiap jiwa berdiri sendiri. Tanpa pendamping. Tanpa pembela. Tanpa alasan.
Allah Ta‘ala berfirman:
{ وَكُلُّهُمۡ ءَاتِيهِ يَوۡمَ ٱلۡقِيَٰمَةِ فَرۡدًا }
“Dan setiap orang dari mereka akan datang kepada Allah sendiri-sendiri pada hari Kiamat.” (QS. Maryam: 95)
Tak ada yang bisa mewakili. Tak ada yang bisa memikul beban kita. Semua amal dipertanggungjawabkan secara pribadi.
Maka kesendirian kita hari ini sejatinya adalah latihan. Ia adalah persiapan untuk kesendirian kelak di sana, di alam yang kekal dan tak berujung.
Saat kita sendiri, apakah kita masih ingat Allah? Saat tak ada yang melihat, apakah kita tetap menjaga iman dan amal? Saat sepi, apakah hati kita masih terhubung dengan langit?
Berbahagialah orang yang memanfaatkan kesendirian di dunia untuk mendekat kepada Rabb-nya. Karena siapa yang berteman dengan Allah di dunia, ia tidak akan benar-benar sendiri di akhirat.
Kesendirian di sini adalah kesempatan. Kesendirian di sana adalah kenyataan. (KIS/148).
WaAllahu A’lam
_____
📚 H. Komiruddin Imron, Lc
✒️Shabahul_Khair
*) Penulis adalah Anggota Majelis Pertimbangan Dewan Dakwah Islam Indonesia Propinsi Lampung, tinggal di Pemanggilan, Natar.

