Buku Seri: Adat Saibatin dan Pepadun, Dua Jalan, Satu Jiwa Lampung. Seri 6 , Tata Krama Orang Lampung. Oleh: Mohammad Medani Bahagianda *)

0

nataragung.id – Bandar Lampung – Di balik keanggunan kain Tapis dan kemegahan Siger, tersembunyi sebuah kekayaan yang lebih halus namun menentukan: Tata Krama. Bagi masyarakat Lampung, sopan santun bukanlah sekadar etiket basa-basi, melainkan bahasa tubuh dari sebuah filosofi hidup yang dalam. Ia adalah manifestasi nyata dari prinsip Piil Pesenggiri (harga diri) dan Nemui Nyimah (keramah-tamahan).

Buku seri keenam ini mengajak kita menyusuri lorong-lorong halus pergaulan dalam masyarakat adat Lampung. Melalui kisah turun-temurun dan penjelasan mendalam, kita akan memahami bagaimana setiap tutur kata, gerak tubuh, dan tata ruang sebenarnya adalah kitab yang hidup, mengajarkan tentang penghormatan, kesadaran akan tempat, dan keharmonisan sosial, baik di lingkungan egaliter Pepadun maupun yang hierarkis Saibatin.

Pada suatu masa, di tepian Way Komering, hiduplah seorang pemuda tampan namun sombong bernama Indra. Ia keturunan Umpu, tetapi seringkali melupakan tata krama, berbicara kasar kepada siapa saja, dan duduk semaunya di tempat yang tidak sepantasnya. Suatu hari, saat menebang kayu, ia menemukan seekor anak burung yang terjatuh. Dengan kasar, ia melemparkannya ke semak. Malamnya, ia bermimpi didatangi seorang wanita cantik berbusana Tapis gemerlap, yang tak lain adalah penjelmaan Naga Betina, penjaga kearifan Sungai Komering.
“Indra,” bisik sang Naga Betina, “engkau keturunan orang beradab, tetapi lisan dan lakumu seperti batu kasar. Dengarkanlah. Dahulu kala, leluhurmu berkomunikasi dengan para dewa dan hewan dengan tiga tingkat bahasa: Bahasa Hati (Bahasa Dalom) yang lembut untuk hal-hal suci, Bahasa Tengah (Bahasa Tengahan) yang santun untuk sesama manusia, dan Bahasa Luar (Bahasa Luwar) yang tegas untuk urusan dunia. Kau telah mencampuradukkan semuanya menjadi kata-kata yang menusuk.”
Sang Naga kemudian mengajarinya gerakan Sembah: kedua tangan dirapatkan di depan dada. “Ini,” katanya, “adalah simbol bahwa hatimu tertutup dari niat buruk, dan mulutmu terjaga di balik penghormatan ini. Gerakan ini akan mengingatkanmu pada tempatmu dan menghormati tempat orang lain.” Indra pun terbangun dengan penuh penyesalan. Ia kemudian dikenal sebagai Paku Indra Sembah, seorang yang sangat santun dan bijaksana, yang mewariskan tata krama lisan dan sembah kepada keturunannya, cikal bakal masyarakat Marga Paku di Lampung.

Baca Juga :  Seri Sejarah Penyimbang dalam Tradisi Sai Batin dan Pepadun (Pengantar dari 6 sesi Tulisan). Oleh : Mohammad Medani Bahagianda *)

Tata krama orang Lampung paling jelas terlihat dalam bahasa dan gerak penyapaan.
1. Tingkatan Bahasa (Cakak Pepak):
o Bahasa Andan/Jeghama: Bahasa halus dan paling tinggi, digunakan oleh anak kepada orang tua, murid kepada guru, atau rakyat kepada penyimbang. Menggunakan kata ganti seperti uli (saya yang hormat), pun (anda/yang dihormati).
o Bahasa Tengahan: Bahasa santun standar untuk sesama yang setara atau belum akrab.
o Bahasa Kasar/Jama: Digunakan dalam kondisi sangat akrab antar sebaya atau oleh orang tua kepada anak kecil. Penggunaan di luar konteksnya dianggap tidak sopan.

Filosofinya: Pilihan bahasa mencerminkan pengakuan seseorang terhadap hierarki sosial, usia, dan keakraban. Ini bukan penindasan, melainkan mekanisme untuk menjaga kehormatan semua pihak.
2. Seni Sembah:
Sembah memiliki beberapa tingkatan:
o Sembah Sirih: Tangan dirapatkan setinggi dagu, digunakan saat menyambut tamu agung atau memulai pidato adat.
o Sembah Biasa: Tangan dirapatkan di depan dada, untuk menyapa orang yang lebih tua atau dihormati.
o Sembah Cium Tangan: Setelah melakukan sembah biasa, tangan orang yang dihormati dicium sebagai bentuk bakti tertinggi.

Filosofi Sembah adalah “merendahkan diri untuk ditinggikan”. Dengan bersembah, seseorang secara sukarela menempatkan dirinya lebih rendah secara simbolis, yang justru mengundang rasa hormat dan kasih sayang dari pihak yang disapanya.

Kitab adat utama Lampung, Kuntara Raja Niti, memberikan pedoman eksplisit tentang tata krama. Dalam bab Titinengah (Sikap Tengah/Tata Krama), tertulis:
“Nengah-nengah mak ngelon, pat-pat mak nyappur. Sai ngelon mak nengah, hajolom di pundi.” (Bersikaplah pertengahan jangan miring, berdirilah tegak jangan condong. Siapa yang bersikap miring (tidak sopan), ke manakah akan jatuh harga dirinya?)

Kutipan ini menggunakan metafora fisik (tegak vs miring) untuk menggambarkan sikap hidup. “Nengah-nengah” (pertengahan) bukan berarti tidak punya pendapat, tetapi berarti seimbang, proporsional, dan tahu diri. Sikap yang “miring” (ngelon) adalah sikap yang melampaui batas, tidak mengenal tempat, dan akhirnya menjatuhkan harga diri (hajolom) sendiri.

Baca Juga :  Ramadhan Dalam Jejak Hidup dan Adat Lampung. Puasa dan Piil Pesenggiri, Menjaga Martabat di Bulan Suci. Oleh: Mohammad Medani Bahagianda *)

Tata krama dilihat sebagai penjaga keseimbangan sosial dan personal.
Kitab yang sama juga mengatur tutur kata: “Kalam sai tettap, wawai sai leppang. Basa sai halom, cahya di ate.” (Perkataan yang pasti, pembicaraan yang lurus. Bahasa yang halus, cahaya di dalam hati.)

Kalam (perkataan) harus tettap (pasti, dapat dipegang), ini tentang kejujuran. Wawai (pembicaraan) harus leppang (lurus), ini tentang ketulusan tanpa sindiran licik. Gabungan kejujuran dan ketulusan yang disampaikan dengan basa sai halom (bahasa yang halus/lembut) akan menghasilkan cahya di ate (cahaya di dalam hati), yaitu ketenteraman batin dan kepercayaan dari lawan bicara. Ini menunjukkan bahwa kesantunan verbal bersumber dari niat yang murni.

Tata krama juga terpatri dalam perilaku nonverbal dan pengaturan ruang:
* Tata Ruang Rumah: Dalam rumah tradisional, terdapat area “Lepau/Serambi” untuk tamu, “Kebik” (ruang tengah) untuk keluarga, dan “Lik” (bilik) yang privat. Seorang tamu tidak akan masuk ke Lik tanpa izin. Ini mengajarkan penghormatan terhadap ruang privat orang lain.
* Tata Cara Duduk: Duduk bersila (besila) adalah posisi hormat. Menyilangkan kaki atau menunjuk telapak kaki ke orang lain dianggap sangat tidak sopan. Saat lewat di depan orang yang lebih tua, badan harus sedikit merunduk (ngidup) sambil mengucapkan permisi (“ampun”).
* Tata Cara Menjamu: Menyuguhkan sekapur sirih kepada tamu adalah ritual wajib. Sirih melambangkan hati yang terbuka, gambir melambangkan keteguhan, kapur melambangkan kesucian niat. Proses menyuguh dan menerimanya pun ada aturannya, dilakukan dengan tangan kanan dengan gerakan lembut. Filosofinya, perjumpaan manusia harus dimulai dengan niat baik yang diikrarkan melalui simbol-simbol alam.

Nilai spiritual dari tata krama Lampung adalah pengejewantahan dari rasa malu dan rasa hormat. Rasa malu (khesek) muncul ketika seseorang melanggar tata krama, karena ia merasa telah mengotori nama keluarga dan leluhur. Rasa hormat (ngirap) adalah pengakuan akan adanya tatanan yang lebih besar dari diri sendiri, baik itu kepada orang tua, alam, atau Sang Pencipta.

Di era global yang serba cepat dan seringkali kasar, tata krama Lampung menawarkan sebuah “selow yang bermartabat”. Relevansinya antara lain:
* Media Sosial: Mengajarkan untuk berpikir sebelum mengetik, menggunakan bahasa yang santun (basa sai halom) meski dalam debat.
* Lingkungan Kerja: Menghormati hierarki (seperti Bahasa Andan) dapat diterjemahkan sebagai profesionalisme dan menghargai atasan/rekan senior.
* Kehidupan Urban: Sikap ngidup (merunduk) saat lewat bisa dimaknai sebagai kesadaran untuk tidak egois di ruang publik.
* Pelestarian Hubungan: Ritual menyuguh sirih menginspirasi pentingnya “ice breaker” yang tulus dalam membangun relasi bisnis atau sosial.

Baca Juga :  Serial Buku - Dapur dan Warisan: Cerita Makanan Adat Lampung. Buku 5 - Kue Adat dan Doa Ibu. Oleh : Mohammad Medani Bahagianda *)

Tata krama Orang Lampung adalah sebuah tarian halus yang mengatur interaksi manusia. Ia adalah musik latar yang membuat simfoni kehidupan sosial menjadi harmonis, mencegah terjadinya disonansi yang merusak. Dari cara bersembah hingga memilih kata, dari cara duduk hingga mengatur ruang, semua berujung pada satu tujuan: menjaga cahya di ate, cahaya kehormatan dan ketenteraman dalam hati setiap individu, yang akhirnya memancar menjadi cahaya peradaban masyarakat secara keseluruhan. Dalam dua jalan adat, semangat ini tetap sama: bahwa kesantunan adalah pakaian terbaik bagi jiwa yang beradab.

Sumber Referensi (Terverifikasi):
1. Naskah Asli Kuntara Raja Niti (Aksara Lampung & Transliterasi). Koleksi Perpustakaan Daerah Propinsi Lampung, Unit Naskah Kuno. (Dokumen Fisik).
2. Adimihardja, K. (1992). Sistem Sosial Budaya Lampung: Suatu Analisis Antropologi. Djambatan. (Buku Fisik).
3. Piil Pesenggiri: Kumpulan Makalah Seminar Adat Lampung (2005). Dinas Pendidikan Nasional Provinsi Lampung. (Buku Fisik/Digital Terverifikasi).
4. Saptono, dkk. (2018). Tata Krama dan Bahasa Adat Lampung dalam Kuntara Raja Niti. Jurnal Ilmiah Universitas Lampung. (Artikel digital terverifikasi di jurnal.unila.ac.id).
5. Zakaria, F. Y. (2000). Mozaik Adat Lampung: Pepadun dan Saibatin. Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Lampung. (Buku Fisik).

*) Penulis Adalah Saibatin dari Kebandakhan Makhga Way Lima. Gelar Dalom Putekha Jaya Makhga, asal Sukamarga Gedungtataan, Pesawaran. Tinggal di Labuhan Ratu, Bandar Lampung.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini