nataragung.id – Bandar Lampung – Bagi masyarakat adat Lampung, perilaku adalah wajah adat. Cara berjalan, cara duduk, cara berbicara, hingga cara menahan diri saat marah, semuanya mencerminkan siapa seseorang dan dari marga mana ia berasal. Ketika Ramadhan tiba, tuntutan menjaga perilaku tidak hanya menjadi kewajiban agama, tetapi juga amanah adat yang diwariskan oleh para leluhur.
Puasa dipandang sebagai waktu terbaik untuk menata ulang sikap hidup.
Orang Lampung dahulu percaya bahwa perilaku yang baik di bulan puasa akan menentukan martabat seseorang sepanjang tahun.
Buku ini mengajak pembaca menyelami bagaimana Ramadhan dipahami sebagai masa pendidikan perilaku melalui cerita rakyat, legenda marga, petuah adat, serta analisis filosofis yang berakar pada tradisi Lampung.
Pada masa ketika sungai masih menjadi jalan utama dan hutan belum terbelah, hiduplah seorang anak penyimbang adat bernama Radin Jaya Batin. Ia cerdas dan cekatan, tetapi dikenal mudah tersinggung dan cepat marah.
Suatu Ramadhan, Radin Jaya diberi amanah untuk mewakili ayahnya menghadiri pertemuan adat. Di tengah perbincangan, ia tersinggung oleh ucapan seorang tua dan hampir meninggalkan musyawarah. Namun seorang tetua menghentikannya dan berkata: “Ramadhan bukan hanya menahan lapar, tetapi menahan langkah agar tidak meninggalkan adat.”
Radin Jaya duduk kembali. Ia menahan diri, mendengar hingga akhir, dan menyadari bahwa kemarahan hanya akan mempermalukan dirinya sendiri. Sejak saat itu, ia dikenal sebagai penyimbang yang tenang dan arif.
Cerita ini diwariskan sebagai pelajaran bahwa menjaga perilaku adalah inti puasa menurut adat Lampung.
Dalam struktur masyarakat Lampung, perilaku diatur oleh norma adat yang ketat. Baik dalam adat Saibatin maupun Pepadun, seseorang dinilai bukan dari harta, melainkan dari sikap hidupnya.
Naskah adat lisan menyebutkan: “Adat berdiri di atas tingkah, bukan pada kata semata.”
Kutipan ini menunjukkan bahwa perilaku nyata lebih penting daripada ucapan indah. Ketika Islam masuk dan Ramadhan mulai dijalankan, adat Lampung tidak berubah, tetapi justru menemukan penguatnya. Puasa menjadi sarana menegakkan etika perilaku yang sudah lama hidup dalam adat.
Orang Lampung dahulu menyebut Ramadhan sebagai bulan menghaluskan budi. Selama puasa, seseorang diharapkan memperbaiki sikap yang selama ini dianggap kurang pantas.
Beberapa perilaku yang sangat dijaga antara lain:
* Tidak meninggikan suara.
* Tidak memotong pembicaraan orang tua.
* Tidak menunjukkan kemarahan di depan umum.
* Tidak bersikap sombong
Petuah adat menyebutkan: “Orang berpuasa yang kasar perilakunya, puasanya hanya sampai tenggorokan.”
Analisis petuah ini menunjukkan pemahaman lokal bahwa ibadah tidak bernilai jika perilaku tidak berubah. Puasa harus terlihat dalam sikap sehari-hari.
Setiap marga di Lampung memiliki kisah sendiri tentang pentingnya menjaga perilaku. Dalam legenda Marga Pubian, diceritakan bahwa leluhur mereka pernah mengalami perpecahan karena sikap angkuh seorang pemimpin muda.
Sejak peristiwa itu, muncul sumpah adat: “Barang siapa bersikap tinggi hati di bulan puasa, maka ia menjatuhkan derajat marganya.”
Legenda ini menjadi dasar pendidikan adat. Anak-anak diajarkan bahwa Ramadhan adalah waktu menundukkan diri, bukan meninggikan ego.
Falsafah Piil Pesenggiri mengajarkan harga diri yang bermartabat. Salah satu wujudnya adalah kemampuan mengendalikan perilaku, terutama dalam situasi sulit.
Puasa memperkuat nilai ini. Dalam adat Lampung, seseorang yang mampu bersikap tenang saat lapar dan letih dianggap telah mencapai kedewasaan batin.
Pepatah adat mengatakan: “Orang kuat bukan yang menang, tetapi yang mampu menahan diri.”
Analisis filosofisnya menunjukkan bahwa kekuatan sejati dalam adat Lampung adalah pengendalian diri, bukan dominasi atas orang lain.
Dalam keluarga Lampung, perempuan memegang peran penting sebagai teladan perilaku. Ibu menjadi contoh bagaimana bersikap sabar, lembut, dan tertib selama Ramadhan.
Cerita rakyat menyebutkan: “Rumah yang ibunya menjaga perilaku di bulan puasa, akan teduh hingga anak cucu.”
Analisisnya menunjukkan bahwa Ramadhan dijadikan momen pendidikan keluarga. Anak-anak diajarkan cara duduk sopan, berbicara pelan, dan menghormati orang yang lebih tua.
Beberapa ritual adat Lampung pada bulan Ramadhan menekankan ketertiban perilaku. Dalam begawi kecil Ramadhan, semua orang duduk sejajar tanpa memamerkan status sosial.
Tidak ada sikap berlebihan. Makan dilakukan sederhana, berbicara secukupnya, dan mendahulukan orang tua.
Dalam naskah adat disebutkan: “Ramadhan mengajarkan adat duduk sama rendah, berdiri sama tinggi.”
Kutipan ini dianalisis sebagai simbol bahwa puasa menghapus kesombongan dan menumbuhkan kesetaraan sosial.
Masyarakat Lampung dahulu meyakini bahwa perilaku adalah bukti keabsahan ibadah. Orang yang rajin berpuasa tetapi berperilaku buruk dianggap belum memahami makna Ramadhan.
Petuah adat menyatakan: “Puasa yang baik terlihat dari sikap, bukan dari lamanya lapar.”
Analisisnya menegaskan bahwa adat Lampung menempatkan etika sosial sebagai inti keberagamaan. Ramadhan tidak boleh berhenti pada ritual, tetapi harus mengubah cara seseorang bersikap.
Dengan menjaga perilaku, Ramadhan menjadi penyangga ketertiban sosial. Pertengkaran jarang terjadi, suara lebih rendah, dan musyawarah berjalan lebih damai.
Inilah sebabnya Ramadhan disebut sebagai bulan menyejukkan kampung. Orang Lampung percaya bahwa jika Ramadhan dijalani dengan adab yang baik, maka sepanjang tahun akan dipenuhi ketenteraman.
Menjaga perilaku di bulan puasa menurut petuah adat Lampung adalah laku hidup yang menggabungkan ibadah, etika, dan budaya. Puasa bukan hanya menahan lapar, tetapi menahan sikap agar tidak melukai adat, keluarga, dan sesama.
Melalui cerita rakyat, legenda marga, dan filosofi adat, buku ini menunjukkan bahwa Ramadhan dalam adat Lampung adalah jalan membentuk manusia beradab, yang perilakunya mencerminkan kemuliaan jiwa dan kehormatan leluhur.
Daftar Pustaka
1. Hadikusuma, Hilman. Adat Istiadat Lampung. Bandung: Alumni, 1989.
2. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Nilai-Nilai Budaya dalam Adat Lampung. Jakarta, 1996.
3. Sutrisno, Bambang. Piil Pesenggiri: Falsafah Hidup Orang Lampung. Bandar Lampung: Universitas Lampung Press, 2004.
4. Manuskrip Arab-Melayu Lampung Pesisir, Arsip Budaya Lampung.
5. Dokumentasi Lisan Tetua Adat Saibatin dan Pepadun, Koleksi Budaya Lampung.
*) Penulis Adalah Saibatin dari Kebandakhan Makhga Way Lima. Gelar Dalom Putekha Jaya Makhga, asal Sukamarga Gedungtataan, Pesawaran. Tinggal di Labuhan Ratu, Bandar Lampung.

