Buku Seri : PIIL PESENGGIRI Pedoman Hidup Bermartabat Orang Lampung di Era Modern. Seri – 5: Tutur Bahasa yang Santun: Cerminan Harga Diri. Oleh : Mohammad Medani Bahagianda *)

0

nataragung.id – Bandar Lampung – Dikisahkan, pada zaman dahulu, hiduplah seorang pemuda cerdas namun angkuh di tepian Way Kanan. Ia memiliki kemampuan bahasa yang luar biasa, tetapi lisannya seringkali menyakiti hati orang lain. Karena kepandaiannya, ia dipanggil untuk membantu menyelesaikan sengketa antar-marga. Namun, bukannya mendamaikan, ucapannya yang pedas dan tidak bijak justru memicu percekcokan yang lebih hebat.

Melihat hal ini, tetua adat yang bijak kemudian menasihatinya, “Ungkap jama haga, bejuluk adek sai ngehukum adat” (Ucapan itu mencerminkan harga diri, yang berjuluk bergelarlah yang mampu menghukum dengan adat). Pemuda itu tidak mengindahkan nasihat tersebut. Akibatnya, sebuah kutukan pun jatuh: setiap kata-kata kasar yang keluar dari mulutnya berubah menjadi racun yang mencemari air sungai dan membuat tanah di sekitarnya menjadi gersang.

Menyesal, ia pun bertapa dan berjanji akan menggunakan kemampuannya hanya untuk kebaikan. Konon, air mata penyesalannya membentuk sebuah telaga yang jernih, yang kemudian dinamakan Telaga Warna, mengingatkan semua orang bahwa tutur kata memiliki “warna” dan kekuatan yang dapat mempengaruhi dunia. Legenda ini menjadi metafora abadi tentang betapa ucapan dalam budaya Lampung bukan sekadar bunyi, melainkan cerminan nyata dari piil (akhlak) dan pesenggiri (harga diri) seseorang.
Dalam kosmologi masyarakat Lampung, bahasa dan tutur kata menempati posisi yang sangat sakral. Bahasa bukan hanya alat komunikasi, melainkan jembatan yang menghubungkan nilai-nilai Piil Pesenggiri dengan praktik keseharian. Setiap kata yang diucapkan dianggap sebagai manifestasi langsung dari karakter dan martabat si pembicara. Oleh karena itu, tutur bahasa yang santun (andai) bukan sekadar sopan santun biasa, tetapi merupakan kewajiban moral untuk menjaga harmoni sosial dan harga diri.
Filosofi ini tertanam sangat dalam, sebagaimana tersirat dalam kitab Kuntara Raja Niti: “Nengah nyappur, bejama sai ngehurip, niti memeren tiyuh.”
(Nengah nyappur, berbicara yang menghidupkan, meniti pemerintahan negeri).

Baca Juga :  Buku Seri : PIIL PESENGGIRI Pedoman Hidup Bermartabat Orang Lampung di Era Modern. Seri - 6: Rumah dan Hidup, Prinsip Piil Pesenggiri dalam Arsitektur dan Keseharian. Oleh : Mohammad Medani Bahagianda *)

Analisis mendalam terhadap petuah ini mengungkap lapisan makna yang kaya. “Bejama sai ngehurip” (berbicara yang menghidupkan) adalah kunci utamanya. Ucapan yang santun dan penuh pertimbangan memiliki kekuatan untuk “menghidupkan” semangat, menyembuhkan luka, dan membangun hubungan. Sebaliknya, ucapan yang kasar dan sembrono dapat “mematiikan” semangat dan merusak tatanan. Kemampuan untuk “nengah nyappur” (aktif bersosialisasi) hanya akan bermakna jika disertai dengan tutur kata yang “menghidupkan”. Inilah yang menjadi dasar bagi seorang pemimpin (penyimbang) dalam “niti memeren tiyuh” (mengatur pemerintahan negeri); kepemimpinan dijalankan melalui kata-kata yang bijak, bukan melalui teriakan atau paksaan.

Untuk mewujudkan nilai-nilai tersebut, masyarakat Lampung mengembangkan sistem berbahasa yang sangat kompleks dan hierarkis, yang dikenal dengan Andai-Andai. Sistem ini mengatur pilihan kata (sai) dan intonasi berdasarkan usia, status sosial, dan kedekatan hubungan antara pembicara dan lawan bicara. Secara umum, terbagi menjadi:
1. Bahasa Halus (Andai Muli): Digunakan untuk berbicara dengan orang yang lebih tua, penyimbang (tetua adat), atau orang yang dihormati. Bahasa ini penuh dengan kosa kata yang halus, metafora, dan ungkapan-ungkapan yang menunjukkan kerendahan hati si pembicara.
2. Bahasa Biasa (Andai Sebatin): Digunakan antar sesama yang seusia atau statusnya setara. Meskipun lebih santai, tetap dibingkai dengan kesantunan dan tidak mengandung kata-kata kasar.
3. Bahasa Kasar (Andai Jelema): Hanya digunakan dalam kondisi sangat informal dengan orang yang sangat dekat, atau dalam kemarahan yang sangat terkendali. Penggunaannya di ruang publik dianggap sangat melanggar adat dan mengurangi pesenggiri si pembicara.

Baca Juga :  BADIK, Pelindung Harkat dan Harga Diri dalam Tradisi Lampung. Buku – 5: Kisah dari Masa Lalu, Badik dalam Cerita Rakyat dan Peristiwa Bersejarah. Oleh : Mohammad Medani Bahagianda *)

Pemahaman dan penerapan hierarki ini bukanlah penindasan, melainkan sebuah mekanisme saling menghormati. Seorang muda menghormati yang tua dengan Andai Muli, sementara seorang penyimbang yang bijak akan membalasnya dengan bahasa yang lembut, menunjukkan bahwa martabatnya tidak lantas membuatnya menjadi sombong. Ini adalah tarian bahasa yang sangat elegan untuk menjaga keseimbangan sosial.
Keberagaman marga di Lampung juga tercermin dalam kekayaan dialek dan kekhasan bahasa. Setiap marga besar, seperti Pubian, Sungkay, atau Java, memiliki sedikit perbedaan dalam dialek dan istilah-istilah adat tertentu. Perbedaan ini bukan pemecah, melainkan penanda identitas (identity marker) yang memperkaya khazanah budaya.
Sejarah lisan dan tambo (cerita sejarah) menuturkan bagaimana migrasi leluhur masing-masing marga dari Sekala Brak ke berbagai penjuru Lampung membawa serta dialek mereka. Dalam perjalanannya, dialek ini beradaptasi dengan lingkungan geografis dan interaksi sosial yang baru, namun tetap menjaga inti dari Andai-Andai sebagai bentuk pesenggiri. Sebuah dokumen kuno seperti Surat Ulu milik suatu marga seringkali menggunakan dialek dan istilah khusus yang hanya dipahami sepenuhnya oleh anggota marganya, memperkuat ikatan internal dan menjadi semacam “kode kehormatan” bersama.

Di tengah dunia digital yang seringkali diwarnai oleh ujaran kebencian (hate speech) dan bahasa yang kasar, filosofi Andai-Andai justru menjadi semakin relevan dan penting.
* Benteng terhadap Hoaks: Nilai “bejama sai ngehurip” mengajarkan untuk menyaring informasi sebelum disebarkan. Sebelum berbicara atau membagikan sesuatu di media sosial, seseorang dilatih untuk bertanya: Apakah ini “menghidupkan” atau “mematiikan”? Apakah ini menjaga martabat saya dan orang lain?
* Diplomasi Digital: Kemampuan untuk menyesuaikan bahasa (nengah nyappur) sesuai dengan audiens di berbagai platform digital adalah bentuk modern dari Andai-Andai. Berkomentar dengan santun di ruang publik digital adalah cerminan pesenggiri di abad ke-21.
* Penjaga Identitas: Bahasa Lampung dengan sistem Andai-Andai-nya adalah penjaga utama identitas budaya. Di tengah dominasi bahasa global, melestarikan bahasa ibu berarti melestarikan cara pandang dunia yang unik dan penuh kearifan.
Tutur bahasa yang santun dalam masyarakat Lampung adalah jantung dari Piil Pesenggiri. Ia adalah praktik nyata dari semua nilai luhur tersebut: ia adalah piil (akhlak) yang diucapkan, pesenggiri (harga diri) yang diekspresikan, nemui nyimah (keramahan) yang diwujudkan, dan nengah nyappur (kecakapan bersosialisasi) yang dipraktikkan. Dalam setiap kata yang terucap, terkandung sebuah kekuatan untuk membangun atau merusak. Legenda Si Pahit Lidah mengingatkan kita bahwa kata-kata memiliki konsekuensi nyata. Dalam hembusan napas setiap penutur Bahasa Lampung, hidup falsafah bahwa martabat sebuah peradaban ditentukan oleh bagaimana ia memperhatikan setiap kata yang diucapkan. Dalam kesantunan berbahasa, jiwa Piil Pesenggiri menemukan suaranya yang paling elegan dan abadi.

Baca Juga :  Buku Seri: Pemerintah Tutup Mata atas Krisis Budaya Lampung. Seri 3 – UPACARA ADAT, MAKNA DI BALIK SAKRALITAS. Oleh: Mohammad Medani Bahagianda *)

Sumber Referensi Terverifikasi:
1. Aliana, Z. (2020). Sistem Berbahasa Masyarakat Lampung: Kajian Sosiolinguistik pada Tuturan Adat. Jurnal Literasi. (Artikel Jurnal Digital Terverifikasi)
2. Hilman, D. (2018). Kuntara Raja Niti: Transkripsi dan Terjemahan. Bandar Lampung: Pustaka Ladang Khatulistiwa. (Buku Format Fisik/Digital)
3. Zen, F. (2022). Andai-Andai: Filsafat Bahasa dan Kesantunan dalam Masyarakat Lampung. Bandar Lampung: Penerbit Aura. (Buku Format Fisik)

*) Penulis Adalah Saibatin dari Kebandakhan Makhga Way Lima. Gelar Dalom Putekha Jaya Makhga, asal Sukamarga Gedungtataan, Pesawaran. Tinggal di Labuhan Ratu, Bandar Lampung.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini