nataragung.id – Bandar Lampung – Dia bernama Ragam, seorang pemuda kelahiran Bandarlampung yang fasih berbahasa gaul dunia maya namun bisu akan bahasa adat leluhurnya. Suatu malam, setelah melihat foto kakeknya yang mengenakan siger di laman media sosial, sebuah kerinduan aneh menyergapnya. Ia memutuskan pulang ke kampung halaman ayahnya di daerah Pepadun dan ibunya dari garis Saibatin di pesisir.
Perjalanan dimulai dari sesat (balai adat) Pepadun milik pamannya. Di sana, seorang tetua, Ki Ratu Penengahan, sedang membetulkan anyaman tikar tua sambil bersenandung. Ragam bertanya polos, “Kek, bukankah adat-adat ini sudah usang? Apa gunanya bagi kami yang hidup di zaman start-up dan artificial intelligence?”
Sang tetua tak langsung menjawab. Ia mengajak Ragam berkeliling. Mereka menyusuri sawah yang sedang di sebambangan (panen bersama), melihat sekelompok pemuda dari marga berbeda bekerja sama memindahkan hasil bumi. Mereka mengunjungi rumah keluarga Saibatin di tepi pantai, melihat seorang ibu muda yang meski bekerja sebagai akuntan, tetap meluangkan waktu menyiapkan cetak khadis (makanan adat) untuk tetangga yang sakit.
Ki Ratu kemudian membawa Ragam ke sebuah peti kayu usang. Dari dalamnya, ia mengeluarkan daluang (naskah kulit kayu) yang rapuh. “Ini tambo marga kita,” ujarnya. “Dengarkan kisah Si Pahit Lidah, leluhur Pubian, yang bisa mengubah danau menjadi pahit dengan ucapannya. Bukan tentang sihir, nak, tapi tentang kekuatan kata-kata yang bisa memuliakan atau menghancurkan. Itulah piil pesenggiri-mu yang sebenarnya: kuasa untuk membangun dengan ucapanmu di media sosial, di rapat kerja, di mana pun.”
Ragam terpana. Ia melihat bagaimana aplikasi sakai sambayan hidup dalam koperasi pemuda desa, bagaimana nemui nyimah menjelma dalam komunitas digital warga Lampung perantauan yang saling menolong mencari pekerjaan. Pada akhir perjalanan, di perbatasan antara wilayah Pepadun dan Saibatin, Ki Ratu berkata, “Adat ini bukan peti mati untuk mayat aturan. Ia seperti way (sungai) ini. Airnya selalu baru, berasal dari mata air yang sama: nilai. Nilai itu tak lekang: harga diri, gotong royong, keramahan. Bentuknya bisa berubah: dari sirih jadi kopi, dari sesat jadi grup daring, dari cangget jadi festival budaya. Warisan sejati bukan mewarisi peti mati, tapi mewarisi benih. Kau yang menanamnya di ladang zamannu.”
Kisah Ragam berakhir dengan ia tidak lagi menjadi penonton. Ia mulai mempelajari bahasa Lampung halus, mendokumentasikan cerita tetua, dan bersama teman-temannya membuat kanal daring yang membahas filosofi adat untuk konteks kekinian. Ia menemukan jati dirinya: menjadi jembatan yang hidup.
Warisan terbesar bukan benda, melainkan cara berpikir. Prinsip mulih malu (berbahasa halus) dalam komunikasi adat Lampung, misalnya, menemukan relevansinya yang luar biasa di era digital yang penuh dengan ujaran kebencian dan hoaks.
Kitab Kuntara Raja Niti mengingatkan: “Cakak penggawa di pepadun, bejuluk adek piil pesenggiri, kaya mak kata pembuwat malu.” (Golok pengawal di balai adat, gelar dan sebutan itu harga diri, tetapi miskin kata-kata pembuat malu). Pesannya tegas: otoritas dan gelar sia-sia jika diiringi kata-kata yang menghina dan merendahkan.
Analisis mendalam menunjukkan bahwa prinsip ini adalah etika komunikasi universal. Dalam konteks generasi muda, mulih malu bisa diterjemahkan sebagai “digital civility” – keberadaban bermedia digital. Menyampaikan kritik tanpa mencaci, berdebat dengan data bukan dengan cacian, adalah wujud modern dari piil pesenggiri.
Warisan nilai ini mengajarkan bahwa setiap kata di ruang digital adalah cakak (golok) yang bisa melindungi atau melukai martabat kolektif. Meneruskan nilai ini berarti membekali generasi muda dengan “filter” spiritual sebelum mereka mengepos, mengomentari, atau membagikan informasi.
Jiwa gotong royong (sakai sambayan) adalah modal sosial paling berharga yang diwariskan untuk membangun masa depan. Dalam dunia modern, jiwa ini dapat menjadi fondasi bagi ekonomi kreatif berbasis komunitas dan kewirausahaan sosial. Sejarah mencatat, masyarakat Lampung tradisional telah mempraktikkan sistem bagi hasil dan koperasi tradisional sejak lama.
Sebuah piagem (surat adat) kuno menyebut: “Sekala bekarya, mak teghi-peghi, sai-sai sambayan.” (Dalam berkarya, jangan saling mendahului, satu-satu saling memikul bersama).
Analisis filosofisnya menunjukkan bahwa sakai sambayan adalah antitesis dari individualisme ekstrem dan kapitalisme yang mengalienasi. Bagi generasi muda Lampung, warisan ini bisa diwujudkan dalam bentuk creative collective: sekelompok anak muda dari beragam marga dan latar belakang (mengabaikan sekat Saibatin-Pepadun) yang bersama-sama mengembangkan usaha pariwisata budaya, merek fashion bernuansa tapis, atau platform digital untuk pemasaran produk lokal. Mereka bekerja dengan prinsip “kita naik bersama,” di mana kesuksesan satu anggota adalah kesuksesan semua. Ini adalah revitalisasi spiritual dari semangat sebambangan di ladang digital dan ekonomi global.
Di tengah arus globalisasi yang kerap menghanyutkan identitas, pengetahuan akan sejarah marga dan silsilah (tarikh ranji) berfungsi sebagai penambat jiwa yang kuat. Legenda-leluhur seperti Putri Bulan dari Sekala Brak atau Ratu Darah Putih dari Pugung, bukan sekadar dongeng. Mereka adalah narasi yang membentuk karakter kolektif.
Mempelajari silsilah, seperti yang tercatat dalam tambo, adalah latihan spiritual untuk memahami bahwa diri kita bukanlah titik yang terisolasi, melainkan bagian dari garis panjang perjuangan, migrasi, dan pencapaian. Sebuah tambo Marga Sungkai menulis: “Dari Sekala Brak kami turun, merantau mengikuti aliran Way, sampai di sini membuka rimba, menjadi kampung. Jagalah nama ini, karena ia adalah cahaya yang dibawa nenek moyang dari gunung suci.”
Analisisnya mendalam: Dalam dunia yang semakin homogen, mengetahui “dari mana aku berasal” memberikan rasa memiliki (sense of belonging) yang unik dan membanggakan. Ini bukan untuk menumbuhkan chauvinisme kesukuan, tetapi untuk membangun kepercayaan diri kultural yang diperlukan untuk berdialog setara dengan budaya lain.
Bagi generasi muda, silsilah adalah sumber inspirasi untuk berinovasi. Mengetahui leluhurnya adalah pelaut ulung (Saibatin) atau petani-petarung yang gigih (Pepadun) dapat menyalakan api semangat untuk menjadi yang terbaik di bidangnya sekarang, dengan cara yang baru. Merawat ingatan ini adalah tugas spiritual setiap generasi.
Upacara adat seperti cangget, ngambai, atau timbangan bukanlah tujuan akhir, melainkan medium yang sangat penting. Ia adalah ruang fisik dan spiritual di mana terjadi transfer nilai secara langsung, dari tetua kepada generasi muda, melalui simbol, musik, tarian, dan cerita. Dalam ritual, nilai-nilai abstrak seperti piil pesenggiri menjadi hidup dan nyata.
Generasi muda yang mungkin asing dengan filosofinya, dapat merasakannya melalui kekhidmatan prosesi, keindahan busana, dan kebersamaan yang tercipta.
Warisan untuk generasi mendatang adalah dengan menjaga agar “ruang dialog” ini tetap hidup. Namun, tidak harus kaku. Festival budaya yang mengundang partisipasi luas, workshop membatik tapis dengan pendekatan kontemporer, atau diskusi virtual tentang falsafah adat, adalah bentuk-bentuk baru dari “ritual” tersebut. Yang penting adalah esensi dialognya tetap terjaga: penyampaian nilai. Meneruskan warisan berarti menjadikan diri sebagai “penerjemah” yang kreatif, yang mampu membungkus inti sari adat dalam bentuk yang menarik dan relevan bagi generasi penerus, tanpa mengorbankan kedalaman maknanya.
Warisan nilai adat Saibatin dan Pepadun adalah sebuah perjalanan, bukan sebuah museum. Ia bukan batu nisan yang hanya bisa dikenang, melainkan sungai yang terus mengalir, mengambil bentuk sesuai medan zamannya. Air mata airnya tetap sama: kehormatan, kebersamaan, keramahan, dan kesadaran sejarah.
Tugas generasi sekarang, seperti Ragam dalam cerita kita, adalah menjadi aliran sungai yang aktif. Bukan hanya menikmati airnya, tetapi juga membersihkan sampah yang menghambat, mengalirkannya ke ladang-ladang kehidupan baru, dan memastikan mata airnya tetap jernih untuk anak-cucu.
Kita mewarisi bukan kata-kata mati dalam naskah, tetapi semangat hidup untuk menjadi manusia yang beradab di segala zaman. Dengan menjadikan nilai-nilai itu sebagai kompas dalam berkarya, berkomunikasi, dan membangun komunitas di era digital dan global, maka kita telah menjadi penerus sejati. Dengan demikian, jiwa Lampung, yang satu itu, yang mempersatukan dua jalan Saibatin dan Pepadun, akan tetap berdenyut, kuat, dan relevan, dari generasi ke generasi.
Sumber Referensi (Terverifikasi):
1. Buku: Filsafat Hidup Masyarakat Lampung: Piil Pesenggiri oleh A. Fauzie Nurdin dkk. (2020). Penerbit: Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Universitas Lampung. (Fisik/Digital).
2. Naskah & Terjemahan: Kuntara Raja Niti (Edisi Kritis). Disusun oleh Tim Perpustakaan Daerah Provinsi Lampung, 2015. (Fisik/Digital dalam bentuk PDF terarsip).
3. Buku: Dari Sekala Brak ke Tengah Masyarakat Modern: Transformasi Nilai-Nilai Adat Lampung oleh Refland Mudiawan (2019). Penerbit: Pustaka Labobar, Bandarlampung. (Fisik).
4. Artikel Ilmiah: “Revitalisasi Sakai Sambayan dalam Konteks Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat Adat Lampung di Era Digital” dalam Jurnal Sociopolitica, Vol. 3, No. 2, 2021. (Digital terindeks di portal jurnal Universitas Lampung).
5. Buku: Tambo dan Silsilah: Memori Kolektif Masyarakat Adat Lampung oleh Iskandar Zulkarnain (2017). Penerbit: Balai Pelestarian Nilai Budaya Bandarlampung. (Fisik).
*) Penulis Adalah Saibatin dari Kebandakhan Makhga Way Lima. Gelar Dalom Putekha Jaya Makhga, asal Sukamarga Gedungtataan, Pesawaran. Tinggal di Labuhan Ratu, Bandar Lampung.

