nataragung.id – Bandar Lampung – Di lereng Bukit Barisan yang menjulang, hiduplah sebuah komunitas yang dikenal dengan Marga Anak Tuha. Konon, leluhur mereka adalah seorang Ratu bernama Umpu Ngejalang Sakai. Dalam sebuah naskah kuno yang ditulis pada kertas gangsa (lempengan logam) yang hingga kini masih tersimpan di Balaik Agung salah satu kampung adat di Lampung Timur, terukir dalam aksara Had Lampung: “Umpu Ngejalang Sakai ratu sai jujur. Ia mak ngelantung di lamban, ia mak ngelibung di tiyuh. Ia mekhanah sakai sambayan jama rakyat. Ia ngangkut kayu, ia ngangkat batu, ia ngulung jama sai mak kuat. Sakai iyulah pusaka, sambayan iyulah adat.”
Artinya, Umpu Ngejalang Sakai adalah seorang pemimpin yang jujur. Ia tidak bermalas-malasan di rumah, tidak bengong di kampung. Ia terbiasa bergotong royong bersama rakyat. Ia mengangkut kayu, mengangkat batu, dan bahu-membahu dengan mereka yang lemah. Gotong royong adalah warisan leluhur, dan kebersamaan adalah adat yang dijunjung tinggi.
Naskah itu juga menceritakan bagaimana beliau membangun tiyuh (kampung) bukan dengan menyuruh rakyatnya bekerja, tetapi dengan turun langsung ke sawah dan ladang. Beliau mengajarkan: “Sakai sambayan iyulah ubung gham. Sai mak sakai, ia mak sambayan. Sai mak sambayan, ia mak gham.” (Gotong royong adalah jalinan kita. Yang tidak mau membantu, ia tidak merasakan kebersamaan. Yang tidak merasakan kebersamaan, ia bukan bagian dari kita.)
Dari kisah ini, kita bisa memetik pelajaran bahwa Sakai Sambayan adalah fondasi paling kokoh dalam masyarakat adat Lampung. Kata Sakai berarti memberi atau menyumbangkan tenaga, pikiran, maupun harta, sementara Sambayan berarti saling membantu atau bahu-membahu. Jadi, Sakai Sambayan adalah semangat gotong royong yang tulus, di mana setiap orang memberikan yang terbaik untuk kepentingan bersama, tanpa mengharapkan imbalan.
Mengapa Sakai Sambayan menjadi begitu sakral bagi masyarakat Lampung? Karena falsafah ini mengajarkan bahwa manusia tidak bisa hidup sendiri. Sebesar apa pun kekayaan seseorang, ia tetap membutuhkan orang lain. Sepandai apa pun seseorang, ia akan lemah tanpa dukungan komunitasnya.
Dalam budaya Lampung, Sakai Sambayan bukan sekadar kewajiban sosial, tetapi juga bentuk pengabdian yang paling mulia.
Dalam masyarakat adat Pepadun, semangat Sakai Sambayan tampak dalam tradisi begawi (kenduri adat). Ketika ada keluarga yang mengadakan pesta perkawinan atau upacara cakak pepadun, seluruh warga datang membantu tanpa diminta. Ada yang bertugas memasak, ada yang menyiapkan lamban (rumah adat), ada yang mencari kayu bakar, ada yang mengatur tempat duduk para tamu. Tidak ada yang merasa lebih tinggi atau lebih rendah.
Mereka bekerja bersama dengan senyum dan canda, seolah-olah tidak ada beban. Begitu pula dalam masyarakat Saibatin, tradisi ngebah (kerja bakti) dalam membangun rumah, membersihkan kampung, atau mengurus anggota masyarakat yang meninggal dunia masih lestari hingga kini. Mereka percaya bahwa setiap keringat yang ditumpahkan untuk orang lain adalah tabungan pahala yang tidak akan pernah habis.
Allah subhanahu wa ta’ala berfirman dalam Surah Al-Maidah ayat 2:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تُحِلُّوْا شَعَاۤىِٕرَ اللّٰهِ وَلَا الشَّهْرَ الْحَرَامَ وَلَا الْهَدْيَ وَلَا الْقَلَاۤىِٕدَ وَلَآ اٰۤمِّيْنَ الْبَيْتَ الْحَرَامَ يَبْتَغُوْنَ فَضْلًا مِّنْ رَّبِّهِمْ وَرِضْوَانًاۗ وَاِذَا حَلَلْتُمْ فَاصْطَادُوْاۗ وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَاٰنُ قَوْمٍ اَنْ صَدُّوْكُمْ عَنِ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ اَنْ تَعْتَدُوْۘا وَتَعَاوَنُوْا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوٰىۖ وَلَا تَعَاوَنُوْا عَلَى الْاِثْمِ وَالْعُدْوَانِۖ وَاتَّقُوا اللّٰهَۗ اِنَّ اللّٰهَ شَدِيْدُ الْعِقَابِ
yâ ayyuhalladzîna âmanû lâ tuḫillû sya‘â’irallâhi wa lasy-syahral-ḫarâma wa lal-hadya wa lal-qalâ’ida wa lâ âmmînal-baital-ḫarâma yabtaghûna fadllam mir rabbihim wa ridlwânâ, wa idzâ ḫalaltum fashthâdû, wa lâ yajrimannakum syana’ânu qaumin an shaddûkum ‘anil-masjidil-ḫarâmi an ta‘tadû, wa ta‘âwanû ‘alal-birri wat-taqwâ wa lâ ta‘âwanû ‘alal-itsmi wal-‘udwâni wattaqullâh, innallâha syadîdul-‘iqâb
“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu melanggar syiar-syiar (kesucian) Allah, jangan (melanggar kehormatan) bulan-bulan haram, jangan (mengganggu) hadyu (hewan-hewan kurban) dan qalā’id (hewan-hewan kurban yang diberi tanda), dan jangan (pula mengganggu) para pengunjung Baitulharam sedangkan mereka mencari karunia dan rida Tuhannya! Apabila kamu telah bertahalul (menyelesaikan ihram), berburulah (jika mau). Janganlah sekali-kali kebencian(-mu) kepada suatu kaum, karena mereka menghalang-halangimu dari Masjidilharam, mendorongmu berbuat melampaui batas (kepada mereka). Tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan. Bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah sangat berat siksaan-Nya.”
Ayat ini adalah landasan spiritual dari Sakai Sambayan. Tolong-menolong yang diajarkan dalam Islam bukan sekadar membantu dalam urusan duniawi, tetapi harus dalam bingkai kebajikan dan ketakwaan. Dalam masyarakat Lampung, gotong royong selalu didasari oleh niat yang suci. Mereka membantu karena ingin meringankan beban saudaranya, bukan karena ingin dipuji atau dibalas. Mereka bekerja bersama karena menyadari bahwa kebersamaan adalah jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah. Inilah mengapa dalam setiap begawi, selalu diawali dengan doa bersama dan diakhiri dengan rasa syukur.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda dalam hadis riwayat Imam Muslim: “Kullu ma’rūfin ṣadaqah.” Artinya: “Setiap kebaikan adalah sedekah.”
Hadis ini mengajarkan bahwa segala bentuk perbuatan baik, sekecil apa pun, bernilai sedekah di sisi Allah. Dalam konteks Sakai Sambayan, setiap tetes keringat yang dicurahkan untuk membantu orang lain adalah sedekah. Setiap langkah kaki yang diayunkan untuk menghadiri undangan begawi adalah sedekah. Setiap senyum yang diberikan kepada sesama saat bekerja bersama adalah sedekah. Dengan pemahaman ini, gotong royong bukan lagi sekadar aktivitas sosial, tetapi telah menjadi ritual spiritual yang mendekatkan hamba kepada Tuhannya.
Keindahan Sakai Sambayan terletak pada kemampuannya membangun solidaritas yang kokoh. Dalam masyarakat Lampung, tidak ada istilah “itu urusan dia, bukan urusan saya.” Ketika ada warga yang sedang mengalami musibah, seperti kebakaran rumah, kematian keluarga, atau gagal panen, maka seluruh komunitas akan bergerak bersama. Mereka datang membawa apa yang mereka punya, ada yang membawa beras, ada yang membawa uang, ada yang sekadar memberikan tenaga untuk membersihkan puing-puing rumah. Mereka tidak menghitung-hitung, tidak membanding-bandingkan. Mereka hanya tahu bahwa saudaranya sedang dalam kesulitan, dan mereka harus hadir.
Dalam sebuah naskah adat yang disebut Kuntara Raja Niti, yang menjadi pegangan masyarakat Pepadun, tertulis: “Sai lindung, tulung. Sai tumboh, jomboh. Sai mengan, pi’il. Sai gilik, galik. Sakai sambayan iyulah pusaka sai mak ilang.” Artinya: Yang jatuh, bantu. Yang tumbuh, siram. Yang makan, ingatkan. Yang kecil, sayangi. Gotong royong adalah warisan yang tak pernah hilang.
Ajaran ini mengajarkan bahwa solidaritas sosial harus hadir dalam segala kondisi, baik suka maupun duka. Ketika ada yang sedang berbahagia, kita harus ikut merayakan. Ketika ada yang sedang berduka, kita harus ikut merasakan. Inilah bentuk kepedulian yang utuh, yang tidak mengenal pamrih.
Dalam masyarakat Lampung, sikap individualistis yang egois sangat dicela. Mereka memiliki ungkapan: “Mak kenui ngedok, mak kenui ngelulung.” (Tidak enak melihat orang lain dalam kesusahan, tidak enak melihat orang lain bekerja sendirian). Ungkapan ini mencerminkan bahwa hati nurani masyarakat Lampung selalu tergerak untuk terlibat dalam kebersamaan.
Nilai ini sangat sejalan dengan Pancasila, terutama sila kedua, “Kemanusiaan yang Adil dan Beradab,” dan sila ketiga, “Persatuan Indonesia.” Dengan Sakai Sambayan, masyarakat Lampung mengamalkan nilai kemanusiaan yang paling dasar, yaitu peduli terhadap sesama.
Mereka juga memperkuat persatuan, karena gotong royong menghapus sekat-sekat perbedaan. Dalam sebuah begawi, tidak ada beda antara Saibatin dan Pepadun, antara kaya dan miskin, antara pemimpin dan rakyat. Mereka semua adalah satu, yaitu masyarakat Lampung yang menjunjung tinggi kebersamaan.
Dalam perspektif spiritual, Sakai Sambayan adalah wujud nyata dari amal saleh yang diajarkan dalam Islam. Amal saleh tidak selalu berupa shalat sunnah atau puasa, tetapi juga berupa kebaikan yang bermanfaat bagi orang lain. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda dalam hadis riwayat Imam Tirmidzi: “Khairun-nāsi anfa‘uhum lin-nās.” Artinya: “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.”
Hadis ini menegaskan bahwa kemuliaan seseorang tidak diukur dari banyaknya ibadah ritual semata, tetapi dari seberapa besar manfaat yang diberikan kepada sesama. Dalam Sakai Sambayan, setiap individu diajak untuk menjadi pribadi yang bermanfaat. Ketika seseorang membantu tetangganya membangun rumah, ia sedang menjadi manusia terbaik di sisi Allah. Ketika seseorang menyumbangkan makanan untuk begawi, ia sedang menuai pahala yang berlipat. Ketika seseorang meluangkan waktunya untuk kerja bakti membersihkan kampung, ia sedang menabung kebaikan yang akan kembali kepadanya di akhirat kelak.
Masyarakat Lampung juga meyakini bahwa Sakai Sambayan membawa keberkahan dalam hidup. Mereka percaya bahwa rezeki tidak akan berkurang karena disedekahkan atau dibagikan kepada orang lain. Justru sebaliknya, dengan membantu orang lain, Allah akan melipatgandakan rezeki dan memudahkan segala urusan. Keyakinan ini sangat selaras dengan firman Allah dalam Surah Saba ayat 39:
قُلْ اِنَّ رَبِّيْ يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَّشَاۤءُ مِنْ عِبَادِهٖ وَيَقْدِرُ لَهٗۗ وَمَآ اَنْفَقْتُمْ مِّنْ شَيْءٍ فَهُوَ يُخْلِفُهٗۚ وَهُوَ خَيْرُ الرّٰزِقِيْنَ
qul inna rabbî yabsuthur-rizqa limay yasyâ’u min ‘ibâdihî wa yaqdiru lah, wa mâ anfaqtum min syai’in fa huwa yukhlifuh, wa huwa khairur-râziqîn
“Katakanlah (Nabi Muhammad), “Sesungguhnya Tuhanku melapangkan rezeki kepada siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya dan menyempitkannya.” Suatu apa pun yang kamu infakkan pasti Dia akan menggantinya. Dialah sebaik-baik pemberi rezeki.”
Ayat ini menjadi motivasi spiritual yang luar biasa. Dengan Sakai Sambayan, masyarakat Lampung tidak takut kehabisan harta atau tenaga. Mereka yakin bahwa apa yang mereka keluarkan untuk kebaikan akan diganti oleh Allah dengan yang lebih baik. Inilah yang membuat mereka begitu ikhlas dan semangat dalam bergotong royong, tanpa pernah mengharapkan balasan dari manusia.
Di era modern ini, semangat Sakai Sambayan tetap hidup dalam masyarakat Lampung. Meskipun gaya hidup mulai berubah, tradisi gotong royong masih menjadi kebanggaan. Ketika ada musibah bencana alam, warga Lampung dikenal cepat bergerak bersama, membuka dapur umum, mendirikan posko bantuan, dan mengirimkan logistik ke daerah terdampak. Ketika ada pembangunan masjid atau fasilitas umum, sumbangan mengalir dari berbagai kalangan. Ini semua adalah bukti bahwa Sakai Sambayan bukan sekadar cerita masa lalu, tetapi nilai hidup yang terus mengalir dalam darah masyarakat Lampung.
Menutup tulisan ini, mari kita renungkan kembali pesan dari Umpu Ngejalang Sakai yang tertulis dalam naskah kertas gangsa itu: “Sakai sambayan iyulah gham. Sai mak sakai, ia mak gham. Sai mak sambayan, ia mak gham. Sai mak gham, ia mak ghumah.” (Gotong royong adalah identitas kita. Yang tidak mau membantu, ia bukan bagian dari kita. Yang tidak mau bergotong royong, ia bukan bagian dari kita. Yang bukan bagian dari kita, ia tidak memiliki tempat).
Demikianlah Sakai Sambayan. Ia adalah semangat yang menyatukan hati, menguatkan langkah, dan menjadikan setiap amal kebaikan sebagai ibadah yang diridhai Allah. Semoga kita semua terus menjaga warisan luhur ini, sehingga kebersamaan yang penuh berkah senantiasa menyertai perjalanan hidup kita di Bumi Lampung yang tercinta.
Sumber Referensi:
1. Naskah Kertas Gangsa Marga Anak Tuha (Koleksi Adat Pekon Purwosari, Kecamatan Jabung, Kabupaten Lampung Timur). Dokumen fisik berupa lempengan logam bertuliskan aksara Had Lampung yang memuat silsilah leluhur dan ajaran Sakai Sambayan.
2. Al-Qur’an Al-Karim, Surah Al-Maidah (5): 2 dan Surah Saba (34): 39. Sumber fisik dan digital yang terverifikasi.
3. Hadis Riwayat Imam Muslim, Shahih Muslim nomor 1005. (Digital via Maktabah Syamilah dan fisik kitab Shahih Muslim terbitan Dar Ihya al-Kutub al-Arabiyyah).
4. Hadis Riwayat Imam Tirmidzi, Sunan At-Tirmidzi nomor 1930. (Digital via Maktabah Syamilah dan fisik kitab Sunan At-Tirmidzi terbitan Dar al-Fikr).
5. Kuntara Raja Niti: Pedoman Hidup Masyarakat Adat Lampung, disusun oleh Lembaga Adat Provinsi Lampung. (Buku fisik, 2005).
6. Adat dan Upacara Perkawinan Daerah Lampung, Proyek Penelitian dan Pencatatan Kebudayaan Daerah, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI. (Buku fisik, 1982). Digunakan untuk verifikasi praktik Sakai Sambayan dalam tradisi begawi masyarakat Saibatin dan Pepadun.
*) Penulis Adalah Saibatin dari Kebandakhan Makhga Way Lima. Gelar Dalom Putekha Jaya Makhga, asal Sukamarga Gedungtataan, Pesawaran. Tinggal di Labuhan Ratu, Bandar Lampung.

