nataragung.id – Pemanggilan – Dari Abu Dzar Jundub bin Junadah Radhiyallahu Anhu, ia berkata:
“Aku bertanya, ‘Wahai Rasulullah, amal apakah yang paling utama?’
Beliau menjawab, ‘Iman kepada Allah dan berjihad di jalan-Nya.’
Aku bertanya lagi, ‘Memerdekakan budak yang bagaimana yang paling utama?’
Beliau menjawab, ‘Yang paling berharga di sisi tuannya dan yang paling mahal harganya.’
Aku berkata, ‘Jika aku tidak mampu melakukannya?’
Beliau bersabda, ‘Engkau membantu orang yang bekerja atau engkau bekerja untuk orang yang lemah dan tidak memiliki keterampilan.’
Aku bertanya lagi, ‘Wahai Rasulullah, bagaimana pendapatmu jika aku lemah untuk melakukan sebagian amal itu?’
Beliau bersabda, ‘Tahanlah keburukanmu dari manusia, karena itu adalah sedekah dari dirimu untuk dirimu sendiri.’” (Hadis ini disepakati keshahihannya oleh al-Bukhari dan Muslim / muttafaq ‘alaih)
Tidak semua dari kita ditakdirkan menjadi sumur, sumber utama yang memberi. Namun bila tak mampu menjadi sumur, jadilah timba yang membantu mengangkat airnya.
Jika tak sanggup menjadi timba, jadilah tali yang menguatkan dan menyambungkan.
Dan bila itu pun terasa berat, setidaknya jadilah katrol yang memudahkan kerja orang lain.
Hidup bukan tentang siapa yang paling terlihat, tetapi tentang siapa yang paling bermanfaat. Besar atau kecil peranmu, selama ia mengalirkan kebaikan, ia bernilai di sisi Allah.
Jangan pernah memilih menjadi batu yang dilempar ke dalam sumur hanya untuk menimbulkan suara, tanpa memberi manfaat, tanpa menghilangkan dahaga, sekadar ramai lalu tenggelam dalam diam.
Jadilah apa pun yang berguna, meski sederhana, meski tak dipuji. Karena kebaikan yang sunyi jauh lebih mulia
daripada kegaduhan yang hampa. (KIS/152)
WaAllahu A’lam
_____
📚 H. Komiruddin Imron, Lc
✒️Shabahul_Khair
*) Penulis adalah Anggota Majelis Pertimbangan Dewan Dakwah Islam Indonesia Propinsi Lampung, tinggal di Pemanggilan, Natar.

