Buku Seri – Nengah Nyappur, Seni Merajut Silaturahmi dan Memperluas Pergaulan. Seri – 1 : Pesan dari Leluhur di Ulu Sekala Brak. Oleh : Mohammad Medani Bahagianda *)

0

nataragung.id – Bandar Lampung – Pada zaman dahulu kala, di Ulu Sekala Brak yang masih diselubungi kabut pagi abadi, hiduplah dua saudara sepupu, Semambu dan Semango. Mereka berasal dari dua marga berbeda yang tinggal di lereng gunung yang berseberangan. Semambu dari marga Pemuka, dikenal gigih dalam bercocok tanam namun hidupnya tertutup. Semango dari marga Penyimbang, seorang pemburu yang handal dan periang. Suatu musim, wabah penyakit menyerang ladang dan hutan. Ladang Semambu gagal panen, sementara binatang buruan Semango menghilang.

Diam-diam, Semambu meratapi nasibnya di pondoknya. Ia terlalu sungkan untuk meminta bantuan karena khawatir dianggap lemah. Semango, yang juga merasakan kesulitan, memutuskan untuk turun gunung. Ia berjalan menyusuri lereng, bukan untuk berburu, tetapi untuk nyappur, menjumpai sanak saudaranya di seberang. Dengan membawa sedikit persediaan yang tersisa, ia sampai di pondok Semambu.
“Wai, penyimbangku tulung jama!” seru Semango dengan suara lantang, membuyarkan kesunyian. (“Wahai, penyimbangku, saya minta tolong untuk bersua!”)
Terkejut, Semambu membuka pintu. Ia melihat Semango yang tersenyum, meski raut lelah terpancar jelas. “Apa yang kaubawa kemari, sepupu? Bukankah kau juga sedang kesulitan?” tanya Semambu.
“Aku membawa diriku sendiri,” jawab Semango. “Kesulitan ini terlalu berat untuk dipikul sendiri. Bagaimana jika kita menyatukan tenaga? Kau ajari aku ilmu bertanam di lereng gunung, dan aku akan tunjukkan padamu caranya berburu yang tidak mengusir hewan dari sarangnya. Dengan begitu, kita tidak akan kelaparan.”

Pertemuan itu menjadi awal dari perubahan besar. Mereka bekerja sama, dan hasilnya melimpah. Berita tentang kesuksesan mereka menyebar ke seluruh Sekala Brak. Sang Kepala Adat, Ratu Sekala Brak, pun mendengar hal ini. Beliau kemudian menetapkan suatu prinsip hidup: Nengah Nyappur, yang artinya secara harfiah “mendatangi dan menyapa”. Ratu berpesan, “Kehidupan kita bagai satu jalinan rotan. Sendiri, ia mudah patah. Bergandengan, ia menjadi kuat dan lentur, mampu mengikat persaudaraan yang kokoh.” Sejak saat itu, Nengah Nyappur menjadi jiwa dari kehidupan masyarakat adat Lampung.

Filosofi Nengah Nyappur tidak lahir begitu saja. Ia berakar dari kitab adat Lampung kuno, Kuntara Raja Niti, yang menjadi pedoman hidup (piil pesenggiri). Dalam kitab tersebut, terdapat pesan mendalam yang menjadi landasan Nengah Nyappur:
“Piil pesenggiri, nemui nyimah, nengah nyappur, sakai sambayan.”
Kalimat ini adalah fondasi karakter orang Lampung. Mari kita analisis bagian nengah nyappur dalam konteks keseluruhan.
* Piil Pesenggiri: Harga diri, martabat, dan etika personal. Ini adalah dasar utama. Seseorang harus memiliki integritas dan kehormatan diri yang kuat sebelum ia dapat berinteraksi dengan orang lain secara bermartabat. Nengah Nyappur bukanlah tindakan merendahkan diri, tetapi menyamakan martabat.
* Nemui Nyimah: Sikap terbuka dan ramah tamah terhadap setiap tamu yang datang. Ini adalah aspek pasif dari pergaulan, kesiapan untuk menerima.
* Nengah Nyappur: Inilah aspek aktifnya. Ini adalah inisiatif untuk mendatangi, untuk menyapa, untuk menjembatani jarak. Kata nyappur sendiri bermakna “mencampur”, seperti gula yang nyappur dalam air, melebur tanpa menghilangkan rasa manisnya. Inilah seni memasuki suatu lingkungan pergaulan baru dengan tetap mempertahankan jati diri.
* Sakai Sambayan: Gotong royong dan tolong-menolong. Ini adalah hasil akhir yang diharapkan dari penerapan ketiga prinsip sebelumnya. Ketika harga diri terbentuk, sikap terbuka dijaga, dan inisiatif untuk bersilaturahmi dilakukan, maka terwujudlah kerja sama yang saling menguntungkan.
Dengan demikian, Nengah Nyappur dipahami sebagai sebuah tindakan strategis dan spiritual yang berangkat dari martabat diri untuk aktif memperluas jaringan sosial, yang pada akhirnya bermuara pada kekuatan kolektif.
Masyarakat adat Lampung, khususnya yang beradat Pepadun seperti di Sekala Brak, memiliki struktur sosial yang sangat teratur. Struktur ini bukan untuk membatasi, melainkan justru menyediakan peta pergaulan yang jelas bagi penerapan Nengah Nyappur.
1. Marga (Klen): Masyarakat terbagi dalam berbagai marga, seperti Pubian, Sungkai, dan lain-lain. Setiap marga memiliki sejarah dan wilayah tradisionalnya. Nengah Nyappur dalam konteks ini berarti menjalin hubungan antarmarga, mengunjungi tiuh (kampung) marga lain untuk mempererat tali persaudaraan.
2. Penyimbang: Ini adalah gelar adat bagi kepala keluarga atau tetua yang dihormati. Seorang penyimbang memiliki kewajiban untuk nengah nyappur kepada penyimbang dari marga lain, terutama dalam menyelesaikan masalah atau mengadakan acara adat. Legenda menyebutkan silsilah para penyimbang ini dapat ditelusuri kembali ke Ratu Sekala Brak, menjadikan setiap kunjungan tidak hanya urusan duniawi, tetapi juga penghormatan kepada leluhur bersama.
3. Cakak Pepadun: Pepadun adalah singgasana kebangsawanan. Upacara cakak pepadun adalah puncak dari perjalanan adat seseorang. Dalam upacara inilah jaringan sosial yang telah dirajut melalui nengah nyappur dipertontonkan. Undangan yang datang dari berbagai marga dan daerah merupakan bukti nyata dari kesuksesan seseorang dalam menerapkan filosofi ini. Sebuah dokumen kuno berupa warahan (pesan turun-temurun) menyatakan, “Sai biapa pun yang hendak duduk di pepadun, hendaklah ia terlebih dahulu banyak berjalan, banyak menyapa, dan banyak memberi.” Ini menegaskan bahwa kepemimpinan diraih melalui pergaulan yang luas dan bermakna.

Baca Juga :  Buku Seri : Tradisi Ngejalang, Ziarah ke Makam Leluhur. Seri - 5. Pesan yang Terkandung, Nilai-Nilai Luhur dalam Tradisi. Oleh : Mohammad Medani Bahagianda *)

Ritual adalah penerapan nyata dari filosofi. Mari kita lihat bagaimana Nengah Nyappur dihidupkan dalam tindakan.
* Ritual “Merangkat” (Berkunjung): Ketika seorang penyimbang akan mengunjungi kampung lain, ia tidak datang dengan tangan hampa. Ia membolehkan jama (bawaannya) yang simbolis, seperti gawi (gula aren) atau pupukh (kue tradisional). Ini bukan sekadar hadiah, melainkan simbol niat baik dan rasa hormat.
Saat tiba di pintu rumah yang dikunjungi, ia akan mengucapkan salam adat, seperti dalam cerita Semango: “Wai, penyimbangku tulung jama!” Kalimat ini sangat dalam maknanya. Kata tulung (tolong) di sini bukan berarti memohon, tetapi merupakan bentuk kesantunan yang berarti “saya menghormati kedudukanmu dan meminta izin untuk bersua”. Ini adalah manifestasi dari piil pesenggiri, menghormati orang lain dengan cara yang tidak merendahkan harga diri sendiri.
* Analisis Filosofis Salam “Tulung Jama”: Salam ini mencerminkan kesadaran akan ruang dan status sosial. Si pengunjung mengakui bahwa ia sedang memasuki “wilayah” orang lain. Dengan memakai kata tulung, ia menempatkan diri sebagai pihak yang “mengajak bekerja sama”, bukan yang “menguasai” atau “meminta belas kasihan”. Ini menciptakan suasana setara dan saling menghargai sejak awal pertemuan, yang merupakan fondasi untuk silaturahmi yang tulus.
* Peran Mufakat dalam Nengah Nyappur: Pertemuan yang diawali dengan nengah nyappur seringkali berujung pada musyawarah untuk mufakat. Dalam suasana yang sudah dibangun dengan sikap saling menghormati, perbedaan pendapat dapat disikapi dengan bijak. Tujuan akhirnya adalah sakai sambayan, mencari solusi yang terbaik bagi kepentingan bersama. Proses ini mengajarkan bahwa memperluas pergaulan bukanlah sekadar menambah kenalan, tetapi membangun jaringan pendukung yang dapat diajak berpikir bersama saat menghadapi tantangan.

Baca Juga :  Buku Seri: Nilai-Nilai Pi’il Pesenggiri, Pedoman Hidup Bermartabat Masyarakat Adat Lampung. Seri 7: Khaja Pati Kesetiaan dan Komitmen Yang Teguh. Oleh : Mohammad Medani Bahagianda *)

Nengah Nyappur adalah kearifan lokal yang sangat relevan di era globalisasi ini. Ia mengajarkan bahwa di balik screen gadget dan media sosial, esensi kemanusiaan tetap terletak pada pertemuan yang tulus, salam yang santun, dan niat untuk membangun hubungan yang saling menguatkan. Filosofi dari Ulu Sekala Brak ini mengingatkan kita bahwa jaringan sosial yang harmonis tidak dibangun secara instan, tetapi dirajut dengan kesabaran, inisiatif, dan rasa hormat yang dalam, sebagaimana pesan leluhur dalam Kuntara Raja Niti: kehidupan yang baik adalah kehidupan yang dijalani dengan menjaga harga diri sambil aktif merajut benang-benang silaturahmi dengan sesama.

Baca Juga :  BADIK, Pelindung Harkat dan Harga Diri dalam Tradisi Lampung. Buku – 4: Bahasa Tersembunyi, Ukiran, Bentuk, dan Cara Membawanya. Oleh : Mohammad Medani Bahagianda *)

Sumber Referensi (Terverifikasi):
1. Hadikusuma, Hilman. (1989). Masyarakat dan Adat Budaya Lampung. Mandar Maju: Bandung.
2. Sinar, Tengku Luckman. (2001). Adat Budaya Melayu Pesisir dan Pedalaman: Jilid II. Unpress: Medan. (Memuat analisis komparatif termasuk adat Lampung).
3. Lubis, F. K. (2018). Nilai-Nilai Kearifan Lokal dalam Filosofi Piil Pesenggiri Masyarakat Lampung. Jurnal Studi Islam dan Kemuhammadiyahan, 2(1). (Tersedia di portal jurnal online terakreditasi).
4. Naskah Digitalisasi Kuntara Raja Niti dari koleksi Museum Lampung. (Tersedia dalam bentuk PDF melalui situs web resmi Dinas Kebudayaan Provinsi Lampung).

*) Penulis Adalah Saibatin dari Kebandakhan Makhga Way Lima. Gelar Dalom Putekha Jaya Makhga, asal Sukamarga Gedungtataan, Pesawaran. Tinggal di Labuhan Ratu, Bandar Lampung.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini