nataragung.id – Bandar Lampung – Dahulu kala, di sebuah tiyuh (kampung adat) di kaki Gunung Pesagi, hiduplah seorang nenek bernama Mak Gham. Beliau dikenal sebagai pembuat engkak terbaik di seluruh wilayah adat Pepadun, salah satu golongan masyarakat adat Lampung yang mendiami kawasan pedalaman dan menganut sistem kepemimpinan musyawarah.
Setiap kali ada tamu yang datang dari jauh, Mak Gham tak pernah menyambut dengan tangan kosong. Selalu ada sepotong engkak berwarna kuning keemasan yang tersusun rapi di atas piring.
Suatu hari, seorang saudagar Saibatin, golongan masyarakat adat Lampung pesisir yang menganut sistem garis keturunan, singgah di kampungnya. Udara sedang dingin, dan saudagar itu tampak kelelahan setelah menempuh perjalanan panjang dari pesisir ke pedalaman.
“Masuklah, Nak,” kata Mak Gham dengan senyum yang tak pernah pudar. “Aku baru saja selesai memanggang engkak. Rasanya legit, cocok untuk menghangatkan badanmu.”
Saudagar itu sempat ragu. Di kampungnya, menyambut tamu dengan manisan tidaklah lazim. Namun Mak Gham sudah menyodorkan sepiring kue yang berlapis-lapis indah.
“Kue apa ini, Nyai?” tanya saudagar itu setelah menyantap sepotong.
“Ini engkak, Nak,” jawab Mak Gham. “Ia mengajarkan satu hal: menyambut tamu itu harus dengan keramahan, dan keramahan itu tak pernah setengah-setengah. Seperti engkak yang berlapis-lapis, setiap lapisnya kita buat dengan sabar dan penuh ketulusan.”
Saudagar itu tersenyum. Ia pulang dengan perut kenyang dan hati hangat. Sejak hari itu, ia selalu membawa cerita tentang engkak Mak Gham ke mana pun ia pergi.
Engkak atau engkak ketan adalah kue tradisional yang sangat populer di Lampung dan sekitarnya. Berbeda dengan kue lapis legit yang menggunakan tepung terigu, engkak menggunakan tepung ketan sebagai bahan utamanya. Teksturnya kenyal tetapi lembut, dan dipadukan dengan rasa manis yang pas.
Proses pembuatan engkak tidaklah sederhana. Adonan dari tepung ketan, santan, telur, gula, dan mentega ini dimasak berlapis-lapis, setiap lapisan dipanggang satu per satu sebelum lapisan berikutnya dituang. Waktu yang dibutuhkan bisa mencapai berjam-jam. Dalam kondisi tradisional, proses memanggang engkak bahkan bisa menghabiskan waktu hingga delapan jam.
Mengapa prosesnya serumit itu? Bukan tanpa alasan. Masyarakat adat Lampung meyakini bahwa menyambut tamu adalah ibadah. Maka hidangan yang disajikan pun harus mencerminkan kesungguhan hati. Lapisan-lapisan engkak melambangkan ketulusan yang berlapis-lapis, bukan sekadar basa-basi, melainkan keramahan yang keluar dari lubuk hati terdalam.
Menurut catatan adat yang diwariskan secara lisan, engkak selalu hadir dalam setiap acara penting masyarakat Lampung: pernikahan, khitanan, hari raya keagamaan, hingga upacara adat begawi. Kehadirannya melambangkan ungkapan rasa syukur dan kebahagiaan yang berlapis-lapis.
Cerita tentang engkak ini tak lepas dari falsafah Nemui Nyimah, salah satu pilar hidup masyarakat Lampung. Dalam falsafah Pi’il Pesenggiri, tatanan moral yang menjadi pedoman hidup masyarakat adat Lampung, Nemui Nyimah menempati posisi yang sangat penting.
Apa arti Nemui Nyimah? Secara harfiah, nemui berarti menyambut, nyimah berarti keramahan. Namun maknanya jauh lebih dalam dari sekadar ramah tamah.
Menurut penelitian budaya yang mendokumentasikan tradisi lisan masyarakat Lampung Pepadun, Nemui Nyimah mengandung nilai-nilai luhur seperti: keterbukaan terhadap siapa pun, suka memberi tanpa pamrih, tolong-menolong dalam kebaikan, keikhlasan yang murni dari lubuk hati, serta kemurahan hati kepada semua pihak yang berhubungan dengan mereka.
Dalam naskah kuno Oendang-Oendang Adat Krui, tercatat sebuah petuah: “Sai nemui nyimah ghik sai mak belom, ghik sai mak ngelapah. Nemui nyimah ghik jadi pengadok.”
Maknanya: “Barang siapa yang ramah (kepada tamu), tidak memilih-milih, tidak membeda-bedakan. Keramahan itu menjadi pelindung.”
Analisis sederhana dari kutipan ini: Nemui Nyimah bukan hanya tentang menyuguhkan makanan, tetapi juga tentang sikap batin yang inklusif. Menyambut tamu dengan keramahan berarti membuka hati dan pikiran tanpa prasangka. Dalam konteks masyarakat Lampung yang terdiri dari dua jurai besar, Saibatin dan Pepadun, nilai ini menjadi perekat persatuan lintas golongan.
Lalu, apakah nilai Nemui Nyimah ini sejalan dengan Islam? Sangat sejalan. Bahkan, nilai ini merupakan cerminan langsung dari ajaran Al-Qur’an dan Sunnah.
Allah SWT berfirman dalam surat An-Nisa ayat 86:
وَاِذَا حُيِّيْتُمْ بِتَحِيَّةٍ فَحَيُّوْا بِاَحْسَنَ مِنْهَآ اَوْ رُدُّوْهَاۗ اِنَّ اللّٰهَ كَانَ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ حَسِيْبًا
wa idzâ ḫuyyîtum bitaḫiyyatin fa ḫayyû bi’aḫsana min-hâ au ruddûhâ, innallâha kâna ‘alâ kulli syai’in ḫasîbâ
“Apabila kamu dihormati dengan suatu penghormatan (salam), balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik daripadanya atau balaslah dengan yang sepadan. Sesungguhnya Allah Maha Memperhitungkan segala sesuatu. ” (Q.S. An-Nisa [4]: 86).
Ayat ini turun (asbāb al-nuzūl) sebagai petunjuk bagi umat Islam tentang cara menyambut dan membalas sapaan atau penghormatan dari orang lain. Para ulama tafsir menjelaskan bahwa ayat ini mencakup segala bentuk keramahan, termasuk menyuguhkan makanan kepada tamu. Menyambut tamu dengan hidangan terbaik seperti engkak adalah wujud membalas penghormatan dengan yang lebih baik.
Lebih tegas lagi, Rasulullah SAW bersabda dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim: “Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia memuliakan tamunya.” (HR. Bukhari No. 6135 dan Muslim No. 47)
Hadis ini mengajarkan bahwa memuliakan tamu bukan sekadar tradisi atau budaya, melainkan bagian dari iman. Dalam masyarakat Lampung, memuliakan tamu diwujudkan dengan menyajikan hidangan terbaik, termasuk engkak yang pembuatannya memerlukan waktu dan kesabaran luar biasa.
Selaras dengan itu, Pancasila juga menjunjung tinggi nilai keramahan dan sikap menghormati sesama. Sila kedua, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, mengajarkan bahwa setiap manusia berhak diperlakukan dengan hormat dan bermartabat, termasuk tamu yang datang dari kelompok atau golongan berbeda. Sila ketiga, Persatuan Indonesia, juga menuntut sikap terbuka dan ramah terhadap siapa pun, tanpa memandang suku, adat, atau asal-usul.
Kembali ke kisah Mak Gham dan saudagar Saibatin tadi. Sebelum sang saudagar pamit, Mak Gham membungkus beberapa potong engkak untuk bekal perjalanan.
“Nyai,” kata saudagar itu, “aku belajar sesuatu hari ini. Engkak ini bukan sekadar kue. Ia adalah pelajaran tentang ketulusan. Karena untuk membuatnya berlapis-lapis, kau harus sabar dan tidak tergesa-gesa.”
Mak Gham tersenyum. “Benar sekali, Nak. Menyambut tamu itu tidak boleh tergesa-gesa. Kita harus meluangkan waktu, menyiapkan yang terbaik, dan menyuguhkannya dengan hati yang tulus. Seperti engkak yang kau makan tadi, setiap lapisan butuh waktu, tapi hasilnya manis.”
Sejak hari itu, saudagar itu membawa tradisi engkak ke kampungnya di pesisir. Bukan hanya kuenya yang menyebar, tetapi juga filosofinya: bahwa keramahan (Nemui Nyimah) adalah identitas orang Lampung yang tak boleh pudar.
Engkak mengajarkan bahwa keramahan itu membutuhkan pengorbanan. Waktu, tenaga, kesabaran, semua dikorbankan demi menyambut tamu dengan layak. Namun hasilnya, seperti engkak yang legit, akan meninggalkan kesan manis yang tak terlupakan.
Dalam budaya Pi’il Pesenggiri, menyambut tamu dengan baik adalah bagian dari menjaga harga diri (Pesenggiri) dan nama baik keluarga (Juluk-Adok). Tamu yang dihormati akan membawa cerita baik ke mana pun ia pergi. Sebaliknya, tamu yang diabaikan akan menjadi aib.
Marilah kita jaga warisan ini. Engkak mungkin bisa dibuat dengan cara instan saat ini, tetapi nilai Nemui Nyimah yang terkandung di dalamnya, keramahan yang tulus, ketulusan yang berlapis-lapis, dan kesabaran dalam melayani, adalah sesuatu yang tak bisa diinstan-kan.
Dari generasi ke generasi, dari Pepadun hingga Saibatin, dari pedalaman hingga pesisir, manisnya engkak dan hangatnya Nemui Nyimah akan terus menjadi ciri khas Bumi Ruwa Jurai. Satu bumi, dua jurai, disatukan oleh keramahan yang berlapis-lapis seperti engkak itu sendiri.
Daftar Pustaka
1. Wikipedia. (2018). Engkak ketan – Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas.
2. Nurhayati, N. (2018). Budaya Nemui Nyimah Masyarakat Lampung Pepadun dalam Perspektif Filsafat Moral. Undergraduate thesis, UIN Raden Intan Lampung.
3. Pemerintah Provinsi Lampung. (2023). Kue Engkak Ketan Khas Lampung Terbanyak, Pecahkan Rekor MURI pada Festival Krakatau 2023.
4. NU Online. (2019). 5 Falsafah Hidup Masyarakat Lampung.
5. KBR. (2024). Engkak Legit (Lampung) – Planet Plate.
6. IDN Times Lampung. (2023). Panganan Khas Lampung saat Perayaan Maulid Nabi Muhammad.
7. Malang Hits. (2025). Engkak Ketan, Kue Legit Khas Lampung yang Sarat Makna Tradisi.
*) Penulis Adalah Saibatin dari Kebandakhan Makhga Way Lima. Gelar Dalom Putekha Jaya Makhga, asal Sukamarga Gedungtataan, Pesawaran. Tinggal di Labuhan Ratu, Bandar Lampung.

