nataragung.id – Bandar Lampung – Pada zaman dahulu kala, ketika Bukit Kemala masih diselimuti kabut putih dan sungai-sungai berbisik dalam bahasa leluhur, hiduplah sepasang suami-istri, Urang Dunia Bin Silantai Langit dan istrinya, Nur Kemala. Sang suami memilih tinggal di daerah keramat Ilahan, sementara Nur Kemala mengikuti aliran sungai hingga sampai di sebuah bukit yang kemudian dinamakan Gunung Kemala. Sejak saat itu, ia menjadi penjaga spiritual wilayah tersebut.
Konon, suatu malam, Nur Kemala bermimpi didatangi oleh arwah para pendahulu. Mereka menyampaikan kerinduan akan doa dan sanak keluarga yang hidup. Esok harinya, Nur Kemala mengumpulkan seluruh keturunannya dan berkata, “Janganlah kalian lupakan kami yang telah pergi. Datangilah kami, bawalah persembahan sederhana, duduklah di atas pusara kami, dan panjatkan doa. Maka, kami akan tenang dan kalian akan selalu dilindungi.”
Sejak itulah tradisi Ngejalang pertama kali dilakukan. Ritual ini menjadi jembatan antara dunia nyata dan alam baka, sebuah janji turun-temurun untuk merawat ingatan kolektif dan menjaga tali silaturahmi yang tidak putus oleh maut.
Ngejalang bukanlah ritual yang tunggal. Ia memiliki dua bentuk yang mencerminkan dua dimensi kepercayaan masyarakat Lampung Sai Batin: yang bersifat komunal di masjid (Ngejalang Pangan) dan yang intim serta personal di area pemakaman (Ngejalang Kubokh).
Ngejalang Pangan adalah ziarah persatuan umat. Dilaksanakan di masjid pada tanggal 1 Syawal, ritual ini lebih menekankan pada kebersamaan warga satu pekon (desa) untuk berdoa bersama, bersyukur, dan saling memaafkan. Sayangnya, dalam perjalanan waktu, geliat Ngejalang Pangan di Pekon Gunung Kemala mulai meredup. Kesibukan modern dan pola pikir yang mulai berubah membuat ritual yang sarat dengan nilai Sakai Sambaian (kebersamaan) ini semakin jarang dilakukan. Sementara itu, Ngejalang Kubokh (ziarah kubur) justru tetap hidup dan berdenyut kuat. Dilaksanakan pada tanggal 3 Syawal di area pemakaman, inilah jantung dari tradisi Ngejalang.
Ritual ini murni ditujukan untuk mengirim doa kepada arwah leluhur (arwah moyang) yang telah berpulang. Pelaksanaannya hanya diikuti oleh pihak laki-laki dari keluarga yang memiliki ahli kubur di pemakaman tersebut, mencerminkan sistem kekerabatan patrilineal yang masih dipegang teguh.
Seorang tetua adat, Kadarusman (65 tahun), dalam suatu musyawarah pada malam ke-27 Ramadan pernah berujar, “Ngejalang Kubokh ini bukanlah kewajiban dari agama, tetapi ia adalah beban hati. Beban untuk memenuhi panggilan nenek moyang. Jika tidak dilaksanakan, hati terasa tidak puas, kemana-mana terasa ada yang kurang, bagai berdosa.”
Ungkapan ini merefleksikan bagaimana kepercayaan masyarakat telah menginternalisasi tradisi ini menjadi sebuah kebutuhan spiritual, bukan sekadar kewajiban adat.
Rangkaian Ngejalang Kubokh dimulai jauh sebelum hari-H, diawali dengan musyawarah yang sakral. Pada suatu malam di akhir Ramadan, para tokoh adat, punyimbang marga, pemangku adat, dan perwakilan ahli waris berkumpul. Mereka bukan sekadar menentukan tanggal, tetapi merundingkan dengan hati-hati hari yang paling baik, siapa yang harus diundang, dan siapa yang akan memimpin setiap tahapan ritual. Musyawarah ini sendiri adalah cerminan dari nilai Nengah Nyappur – kemampuan untuk bergaul dan menyatu dalam kebersamaan untuk mencapai mufakat.
Sehari sebelum acara, para laki-laki berkumpul di pemakaman. Mereka bergotong royong membangun Kelasa, sebuah bangunan sederhana beratap daun kelapa yang berfungsi sebagai pelindung dari terik matahari dan tempat berlindung selama prosesi berlangsung. Pembangunan Kelasa adalah perwujudan nyata dari Sakai Sambaian (sikap kooperatif). Kayu dan bambu disusun, daun kelapa dianyam, semua dilakukan bersama-sama tanpa pamrih.
Sementara itu, di rumah-rumah, para perempuan sibuk mempersiapkan hidangan. Hidangan tidak boleh sembarangan. Terdapat dua tahap sajian yang disusun di atas Pahar, sebuah nampan besar yang terbuat dari kuningan atau aluminium.
1. Santapan Ringan: Berupa kue-kue adat khas Krui seperti kue tat, bolu, guring ginan, dan kembang loyang. Ini disajikan pada tahap pertama.
2. Makanan Pokok: Berupa nasi dan lauk pauk terbaik yang dimasak khusus. Ini menggantikan sajian pertama pada tahap berikutnya.
Setiap Pahar kemudian dihias dengan Tuala dan Lelamak (kain penutup) sebagai bentuk penghormatan dan penghargaan tertinggi kepada tamu dan leluhur. Persiapan ini menunjukkan nilai Nemui Nyimah – keramahan dan kesantunan dengan menyiapkan yang terbaik untuk tamu.
Pada pagi hari yang ditentukan, pemakaman yang biasanya sunyi berubah menjadi ramai dan khidmat. Para ahli waris datang dengan membawa Pahar dan kasur yang digelar di atas tikar langsung di atas pusara leluhur mereka. Ini adalah simbol bahwa mereka sungguh-sungguh ‘berkunjung’ dan ‘bersilahturahmi’ dengan yang telah pergi, duduk di ‘rumah’ mereka untuk sekian lama.
Rangkaian acara pun dimulai dengan susunan yang telah ditetapkan:
1. Pembukaan dan Sambutan: Dipimpin oleh ketua panitia atau Peratin (kepala desa adat).
2. Kalam Ilahi: Pembacaan ayat-ayat suci Al-Quran, khususnya Surah Yasin, yang dipanjatkan untuk mendoakan orang yang telah meninggal.
3. Santapan Ringan: Prosesi makan kue-kue adat bersama.
4. Puncak Budaya: Talibun. Sebelum makan besar dimulai, para tetua adat melantunkan Talibun atau Muwayak – pantun berirama yang berisi petuah agama, nasihat hidup, harapan, dan doa untuk arwah leluhur. Lantunan ini dilakukan secara bersahut-sahutan antara panitia dan tamu, menciptakan nuansa yang sangat mengharukan dan syahdu. Talibun adalah mahakarya sastra lisan yang menjadi media penyampai nilai-nilai.
5. Doa Bersama: Dipimpin oleh pemuka agama atau tokoh adat, semua yang hadir memanjatkan doa untuk keluarga yang telah meninggal.
6. Makan Bersama: Hidangan nasi dan lauk pauk dari setiap keluarga dinikmati bersama oleh para undangan. Ada keyakinan kuat bahwa makanan ini barokah dan harus diutamakan untuk dimakan tamu, bukan oleh ahli warisnya sendiri.
7. Penutup.
Seluruh rangkaian ini bukan sekadar ritual. Ia adalah sebuah drama budaya kolosal yang memadukan keyakinan Islam dengan kearifan lokal lampung. Duduk di atas kuburan adalah sebuah metafora yang kuat tentang keberanian menghadapi maut dan keyakinan akan kehidupan setelah kematian. Berbagi makanan di atasnya adalah simbol bahwa hubungan kasih sayang tidak terputus.
Setiap tahapan dalam Ngejalang Kubokh sarat dengan makna filosofis yang dalam:
* Nengah Nyappur (Bersaing dan Menyatu): Terwujud dalam musyawarah persiapan dan kerja sama membangun Kelasa. Masyarakat menyatu dalam perbedaan pendapat untuk mencapai tujuan bersama.
* Nemui Nyimah (Menyambut Tamu dengan Santun): Terlihat dari hidangan terbaik di Pahar yang dihias indah, serta keramahan kepada semua undangan, baik dari dalam maupun luar pekon.
* Sakai Sambaian (Semangat Kebersamaan dan Tolong-Menolong): Adalah jiwa dari seluruh prosesi, dari gotong royong membersihkan makam, menyiapkan makanan, hingga berdoa bersama.
* Zikir dan Doa: Merupakan inti spiritualnya. Tradisi ini mempertebal keyakinan akan akhirat dan pentingnya mendoakan orang yang telah mendahului kita.
Ngejalang Kubokh pada hakikatnya adalah sebuah ziarah memori. Ia adalah cara sebuah komunitas merawat jejak ingatan kolektif mereka. Dengan melakukan ritual ini secara berulang, setiap generasi diajarkan untuk tidak melupakan asal-usulnya, menghormati jasa pendahulunya, dan memperkuat ikatan dengan sanak saudara yang masih hidup. Inilah yang membuat tradisi ini tetap bertahan, menjadi benteng terakhir dari gempuran modernitas yang menggerus nilai-nilai kebersamaan.
Tradisi Ngejalang, khususnya Kubokh, adalah bukti nyata bahwa bagi masyarakat Lampung Sai Batin, kematian bukanlah akhir dari sebuah hubungan. Ia hanyalah perubahan keadaan. Dan melalui Ngejalang, hubungan itu tetap dipelihara dengan penuh cinta, rasa hormat, dan doa yang tak putus-putusnya.
*) Penulis Adalah Saibatin dari Kebandakhan Makhga Way Lima. Gelar Dalom Putekha Jaya Makhga, asal Sukamarga Gedungtataan, Pesawaran. Tinggal di Labuhan Ratu, Bandar Lampung.

