nataragung.id – Natar – Ketika kita kecil dahulu, kita mendengar firman Allah yang menggetarkan:
> “Wailul lil muthaffifīn” — Celakalah bagi orang-orang yang curang.
Guru kita berkata:
itu tentang penjual yang menipu timbangan,
yang memberi kurang dari hak pembeli.
Lalu kita mengangguk polos, merasa aman, karena kita bukan pedagang, karena kita tidak menimbang beras atau gula di pasar.
Namun, setelah kita dewasa, kita mulai sadar, bahwa tathfīf, kecurangan itu,
ternyata tidak hanya soal timbangan dan ukuran, melainkan tentang hati yang tidak jujur dan hak yang kita kurangi dari sesama manusia.
Muthaffif…
bukan hanya pedagang yang menipu, tapi setiap jiwa yang ingin menerima lebih, dan memberi kurang.
Ia bisa seorang suami yang menuntut cinta dan pelayanan sempurna dari istrinya, namun tak pernah memberi hatinya seutuhnya.
Ia bisa seorang guru, yang setiap bulan menerima gaji penuh, namun datang ke kelas hanya untuk menghabiskan waktu, tanpa semangat, tanpa amanah.
Ia bisa seorang dokter, yang sibuk di klinik pribadinya mengejar rupiah,
sementara pasien miskin di rumah sakit menunggu dalam lemah dan harap.
Ia bisa seorang kerabat, yang ingin selalu diingat dan dikunjungi, namun tak pernah menanyakan kabar keluarganya sendiri.
Ia bisa pejabat dan pegawai,
yang mempersulit rakyat kecil,
namun cepat melayani mereka yang datang dengan “nama besar”.
Ia bisa pimpinan,
yang memberi peluang pada anaknya sendiri,
dan menutup pintu bagi yang lebih layak.
Setiap tathfīf
mungkin tampak kecil, sekadar beberapa gram dalam timbangan kehidupan,
namun di sisi Allah, itu adalah kezaliman yang nyata.
Sebab tathfīf adalah penyakit hati,yang lahir dari cinta diri dan hilangnya rasa amanah. Dan untuk penyakit itu,
Allah menurunkan satu surat khusus dalam Al-Qur’an —
Surat Al-Muthaffifīn —
sebagai peringatan keras bagi mereka yang tidak adil, bagi mereka yang lupa, bahwa setiap hak yang mereka kurangi, akan dimintai pertanggungjawaban di hari pembalasan.
Maka renungkanlah…
Sudahkah kita jujur dalam pekerjaan kita?
Adil dalam keputusan kita?
Setia dalam amanah yang kita pikul?
Karena di akhirat nanti, timbangan Allah tak pernah meleset, dan setiap gram kezaliman akan ditampakkan.
> “Wailul lil muthaffifīn…”
Celakalah bagi orang-orang yang curang, yang jika menerima takaran dari orang lain mereka minta dipenuhi, namun jika menakar untuk orang lain mereka mengurangi. (QS. Al-Muthaffifīn: 1–3)
Maka berhentilah menuntut sempurna dari orang lain,
sementara kita sendiri masih mengurangi hak mereka. Sebab yang paling curang, bukan hanya mereka yang menipu dengan timbangan,
tetapi mereka yang menipu nuraninya sendiri. (79).
WaAllahu A’lam
_____
📚 H. Komiruddin Imron, Lc
✒️Shabahul_Khair
*) Penulis adalah Anggota Majelis Syura DDII Propinsi Lampung, tinggal di Pemanggilan, Natar.

